Wednesday , 19 January 2022
Home / LifeStyle / Fashion / “Hujan Order” di Tengah Covid-19
Imelda ketika mendapat tawaran untuk produk kosmetik. Ist

“Hujan Order” di Tengah Covid-19

Jakarta, NextID – Pepatah mengatakan bahwa untung tak dapat diraih, rugi tak dapat ditolak. Kejadian itu dialami oleh Imelda Tri Puspita Sirait. Sesungguhnya, Imel begitu ia disapa sudah tercatat sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak di jasa komunikasi. Hanya saja, iapun tak ingin kehilangan waktu untuk mengisi pundi-pundinya.

Tentu hal itu terpikir karena jika bisa menabung di usia produktif, mengapa tidak. Toh  ia sudah berfikir tak selamanya akan terikat pada sebuah perusahaan. “Saya sudah berpikir jika nanti berumahtangga mungkin saja sudah harus full waktu ke keluarga, namun pekerjaan bisa dilakukan di rumah,” ujar Imelda.

Okelah, mari disimak perjalanan Imelda yang Instragramnya penuh dengan visual ketika ia dipercayakan sebagai endors dari perusahaan kosmetika, busana, vitamin, sampai  makanan ringan. Cerita Imel, ketika kecil ia selalu disertakan dengan berbagai lomba peran oleh sang ibu. Ternyata, usaha ibu untuk membawa putrinya lebih berani menghadapi publik itu juga disambut oleh Imel dengan rasa senang. Ketika usia remaja ia mengikuti pemilihan wajah sampul yang digelar oleh Majalah Gadis di tahun 2012.  Tercatatlah nama Imelda masuk dalam 50 besar finalis Gadis Sampul ketika itu.

Konpensasi dari semua itu, ia mendapat kesempatan untuk belajar akting, plus menata tatarias diri. Kesempatan baik tak disia-siakannya. Untuk mendapatkan sesuatu, maka butuh mengorbankan sesuatu. Ia pun lantas mengambil keputusan setamat SMA, setahun menekuni disiplin ilmu tata kelola kepribadian, akting dan tata busana dan make-up dekoratif.

Ketika menjadi model untuk sebuah merek es krim. Ist

“Selama 3 bulan di Gelora BK saya “sekolah” atau mendapatkan pelatikan acting gratis. Di situ diajarkan acting antagonis maupun protagonis, bahkan juga mendapatkan ilmu bagaimana improvisasi naskah serta mimik dan mendalami karakter peran,“ ceritanya.

Katanya lagi, selepas dari sekolah acting ia juga melakukan shooting sinetron untuk  FTV yang pernah ditayangkan di SCTV.  “Namun saya tidak lanjut di dunia perfilman karena  orangtua juga menyarankan agar saya kuliah dan menyelesaikan dengan serius,” kenang  jebolan Univeristas Dharma Persada Jurusan Sastra Inggris itu lagi.

Sungguhpun begitu ia mengaku sempat sudah kurang percaya diri tampil di dunia hiburan  karena harus mengikuti jadual kuliah. Tapi pada tahun 2019 beberapa online shop menghubunginya untuk menjadi endorse produk mereka. “Tawaran itu mulai dari yang hanya memberikan kompensasi produk saja, sampai produk, dan dapat juga dibayar sebagaimana mustinya,” lanjutnya.

Senang-senang saja Imel menerima honor tentunya. Hanya sedikit puyeng ketika harus membagi waktu dengan pekerjaan di kantor. Maka dengan bijak Imel hanya mau mengambil orderan yang pemotretannya bisa dilakukan di rumah, plus eksekusinya bisa dilakukan di hari Sabtu dan Minggu.

“Jika di luar waktu itu, kebanyakan saya tolak, krena konsentrasi jadi pecah. Sering saya foto sendiri, sekalian belajar. Saya otodidak untuk urusan edit mengedit foto. Saya berpikir pekerjaan tambahan ini sangat membutuhkan foto, maka saya coba tekuni. Bagaimana motret sendiri sampai mengedit foto itu yang sesuai dengan pemberi order,” beber Imel.

Kelihatannya usahanya tak sia sia, karena sejauh ini hasil editannya selalu diterima oleh pihak yang memakai jasa Imel sebagai model produk mereka. Tentu antara lain sebagaimana yang bisa dilihat di artikel ini.

Waktu berjalan Imelda semakin mengenal passion-nya. Ia semakin paham, mana sisi yang kurang dari cara kerjanya dan mana yang sebaliknya. Itu sebabnya ia selalu meluangkan waktu untuk diskusi dengan para sahabat yang punya hobi sama, menekuni bidang kerjaan yang hampir sama. Memang, orang-orang berpikiran cerdas akan menyadari bahwa ketidaksempurnaan menjadikan seseorang lebih bijak dalam memandang dan mengenal diri sendiri.

Nobody is prefect,” namun  seperti yang Sun Tzu katakan bahwa mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan yang sebenarnya. Jika sudah demikian maka manusia itu akan rendah hati dalam keberhasilan dan tidak mudah menyerah dalam kekurangan. Selanjutnya akan muncul pribadi yang bijaksana dan berkarakter kuat walau ia harus muncul mewakili berbagai merek produk.

Banjir Tawaran
Belakangan ini banyak sekali keluh kesah berbagai pihak mengenai ekonomi, baik pribadi atau pun rumahtangga. Tetapi itu tidak menimpa perempuan yang doyan makan ikan ini, malah sebaliknya. Menurut Imelda, justru di tengah pandemi Covid-19 ini ia kebanjiran order. “Puji Tuhan. Saya sangat bersyukur, walau tak semua saya terima. Pertama, karena jadual foto yang bentrok dengan waktu kerja. Yang kedua, aturan main yang diajukan pihak yang punya produk,  agak sulit untuk dipenuhi,” celotehnya.  

Pose Imel dengan Bantal Kasih. Ist

Imel memberi contoh, mendapatkan tawaran untuk jadi endorse aksesori dari Inggris (UK). Kompensasinya adalah produk asksesori itu, namun biaya pengiriman dari UK ke Indonesia dibebankan kepada Imelda. “Buat saya berat, lagian mengurus birokrasinya juga butuh waktu, sedangkan saya bekerja. Itu yang juga menjadi pertimbangan saya,” tegas Imelda sambal menikmati ikan goreng yang sedang ngebul.

Diakuinya hampir setiap ujung minggu ia harus melakukan foto untuk produk-produk yang silih berganti ditawarkan. Dan ia mengaku semua itu terjadi karena kasih Tuhan yang tak berkesudahan baginya. “Luar biasa Tuhan yang saya sembah. Satu sisi saya menjalani apa yang saya sukai, yaitu foto-foto. Di lain sisi hobi itu dibayar, dan juga saya mendapatkan produk. Sungguh menyenangkan. Imun jadi semakin naik. Dan kenyataan itu sangat baik untuk mempertahankan kesehatan,” selorohnya.

Bagaimana ia bisa mendapatkan order? Apakah memakai jasa agensi? “Secara langsung tidak, namun mereka yang bekerja mengolah agensi paham saya ada di medsos. Biasanya mereka yang hubungi saya, karena mereka tentu sebelumnya pun punya relasi dengan  pemilik produk,” sibak Imelda.

Sungguh pun begitu ia mengaku sedang menyusun tim manajemen kecil untuk pekerjaan di luar pekerjaan kantornya agar semua bisa berjalan baik tanpa ada yang dikorbankan. Di waktu yang terpisah tim kerjanya dihubungi seputar masalah orderan Imelda sebagai model produk di tengah Covid, maka jawaban dari tim manejemannya, Edwin Yehezkiel menjelaskan benar adanya Imelda mendapatkan orderan justru di tengah pandemi ini.

Dari tahun 2019 hingga sekarang tawaran itu terus datang. “Saya kira dia harus memilih apa yang dia suka. Mengapa? Karena pekerjaan ini erat kaitannya dengan tampilan di kamera. Karakter seseorang itu akan muncul ketika dia tahu persis apa yang dilakukan dan suka. Energi positif Imelda akan mencuat ketika ia di depan lensa dan tak terbebani dengan hal yang lain. Jadi tidak salah jika dia harus selektif menerima orderan,” begitu pendapat Edwin yang juga punya hobi motret itu.

Orang bijak mengatakan, bekerjalah di waktu orang tidur. Berpikirlah ketika orang bermalas-malasan, dan bermimpilah ketika orang lain berharap. Nah, terkesan Imelda dan tim kerjanya bekerja keras di kala orang membatasi diri bekerja karena ketakutan akan Covid-19.

Dari hasil kerja keras itu ia hanya menggunakan sekitar 30% dari income-nya, untuk keperluan kosmetik, atau vitamin. Sementara untuk busana, akunya, sudah terkafer dari konpensasi menjadi endorse. Kini yang ada dibenaknya ke depan, ia akan mempelajari soal medsos lebih dalam dan teliti, mengingat dari situlah bermunculan tawaran-tawaran untuk menjadi endorse. Sementara untuk lebih bisa menggunakan waktu dengan tepat guna, maka ia akan lebih bisa mencermati bagaimana mengedit foto dengan baik.

Imelda mengenakan masker ulos, terinspirasi dari tenun tradisional Nusantara. Ist

Ini mungkin yang dikatakan the power of women, karena pada akhirnya perempuan pekerja itu tidaklah cepat puas dengan apa yang sudah diraih, namun  juga mimpinya masih panjang. Keinginannya untuk meraih banyak hal masih berlapis-lapis. Walau konon langkah kerja di hadang dengan adanya lawatan covid-19. Imelda salah satu contohnya.

Sungguh, kreativitas akan memampukan seseorang melahirkan sebuah karya. Karya yang ingin digapai oleh Imelda nantinya adalah memiliki usaha pengadaan busana dengan coloring yang pas bagi perempuan usia produktif. Semoga!

(Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

Wow, Glenfiddich Luncurkan “Where Next Club” di Indonesia

Jakarta, NextID – Glenfiddich, penerima penghargaan Whisky Single Malt Scotch paling banyak di dunia baru-baru …

Leave a Reply