Home / LifeStyle / Memaknai Kopi Spesialiti Sebagai Komoditas Strategis
Salah satu kopi Indonesia yang termasuk speciality adalah kopi gayo., (Foto: Matakota.id)

Memaknai Kopi Spesialiti Sebagai Komoditas Strategis

Oleh: Bagas Hapsoro

Jakarta, NextID – Kalangan bisnis saat ini tentu terus memikirkan sektor mana yang paling menguntungkan dan tidak terdampak banyak dari Pandemi. Banyak pengusaha yang baru merintis bisnisnya, utamanya milenal melirilk kepada bidang yang digemari dan selalu menjadi kebutuhan orang, yaitu kopi.

Dalam riset yang dibuat oleh Specialty Coffee Transaction Guide (2021) terbukti bahwa harga kopi spesialti stabil, tidak mengalami kegoncangan pada saat 2018/19 dan memasuki krisis pandemi 2019/20.

Kita bisa melacak asal-usul kopi kalau kita pergi ke kafe memang khusus menyediakan kopi-kopi specialty.  Pada umumnya jenis kopi Arabika dengan grade mulai 85 dari keseluruhan grade 100.

Kopi spesialti umumnya tidak diproduksi dalam jumlah banyak dan ketersediaannya belum tentu ada sepanjang tahun. Hal lain mencakup tingkat kesegaran kopi adalah waktu roasting/sangrainya. Kopi specialty yang dijual pada umumnya menyertakan informasi mengenai waktu dan kapan kopi itu disangrai. Ada roasting date-nya. Kopi sendiri akan terasa lebih nikmat jika diseduh pada 7-10 hari setelah tanggal roasting.

Salah satu barista ternama di Swedia adalah seorang WNI bernama Budhaman Sutedja. Dinyatakan bahwa ketentuan mengenai coffee speciality di Swedia sangat ketat. Namun bisnis yang dijalani sejak 15 tahun yang lalu ternyata membuahkan hasil yang baik. Budhaman pernah diminta memberikan coaching di Panama saat awal pandemi tahun lalu.

Kopi yang waktu penyangraiannya masih relevan tentu akan membuat kopi jauh lebih segar dan terasa lebih nikmat.

Budhaman Sutedja, Q Grader Arabica, tinggal di Lycksele, Swedia. (Foto: Koleksi Budhaman Sutedja)

Keistimewaan biji kopi?

Ketika seorang penguji rasa kopi memberikan penilaian maka ada jenis kriteris yang dijadikan patokan, yaitu: fragranceflavoursweetnessaciditybodybalanceafter-taste dan overall impression, semua hal tersebut akan diakumulasikan dengan skala skor tertinggi 100. Biji kopi dengan skor diatas 80 yang mendapatkan kualitas kopi specialty dan hal ini berpengaruh terhadap harga jual biji kopi. Semakin tinggi skor suatu biji kopi akan semakin tinggi juga harga jual dari single origin tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia?

Selanjutnya kita lihat bagaimana masa depan kopi spesialti Indonesia. Beberapa faktor dibawah ini merupakan hal yang perlu diketahui para pebisnis kopi di tingkat nasional:

1.   Indonesia memiliki jenis kopi yang beragam. Masing-masing kopi tersebut memiliki ciri khas sesuai dengan wilayahnya. Misalnya: Kopi Gayo Aceh, Kopi Puntang Jabar (pernah juara dalam ajang Specialty Coffee Association of America Expo 2016), Kopi Wamena Papua, Kopi Flores Bajawa, Kopi Toraja, dan Kopi Kintamani Bali.

2. Indonesia memiliki 50 indikasi gegrafis yang terdiri dari 35 dirilis dan 15 didaftarkan.  

3.  Jumlah petani yang bergerak di kopi spesialiti: 1 juta-1,5 juta orang. Panen di Indonesia sangat produktif: Maret – Mei – Oktober. Keterangan ini dikuatkan Ivan Hartanto, Co-Founder Belift San Fransisco.

4.   Lahan kopi Indonesia 1,5 juta Ha, nomor 2 terluas di dunia setelah Brazil (2,4 juta Ha). Mengingat lokasinya berada di garis Ekuator, Indonesia dan Kolombia tidak berdampak besar thdp perubahan iklim. Berbeda halnya dg Brazil dan VietNam. 

5.  Dengan teknologi, sustainability dan traceability, maka produk kopi spesialiti bisa meningkat 2 kali lipat. Saat ini 1 Hektar ladang hanya 0,5/0,6 ton. Dengan teknologi yang baru dimilki akan mencapai 1 ton per hektar. 

6.  Harga kopi Arabika naik terus, meskipun di tengah-tengah Pandemi Covid-19. Sementara ekspor kopi Brazil dan VietNam turun, Indonesia malah naik. (International Coffee Organization bulan Juni 2021). 

Penyajian Specialty Coffee. (Foto: coffeeAM)

Kabar baik bagi pengekspor kopi

Menjelang akhir pekan lalu saya bersama Dubes Prayono Atiyanto mengadakan brainstorming dengan para Konsul Jenderal RI di AS. Ada kabar gembira, yaitu permintaan kopi Indonesia naik. Perusahaan PT Belift San Fransisco akan mengekspor ke AS, 3 kontainer @ 18 ton yang masing-masing kopi sekontainer bernilai USD 100,000,-

Usai acara brainstorming saya mengajak eksportir kopi nasional termasuk Kopi Ketiara Gayo di Aceh, Kopi Alko G. Kerinci dan untuk turut mengisi pangsa pasar Amerika Utara.

Kabar baik juga untuk kopi kita ke Mesir. Tahun ini ada peningkatan secara masif sehingga ekspor kita naik 6,56% yaitu menjadi USD18,16 juta. Kiranya kabar ini juga ”menular” untuk ekspor produksi kopi kita ke Australia, Jepang, RRT, dan kawasan Skandinavia. 

Bayangkan masih dalam suasana pandemik tetapi demand kopi di dunia tinggi. Semua pihak dari hulu sampai hilir pasti gembira. Petani, pengumpul kopi, prosesor, koperasi, roasteri sampai konsumen.

Kembali kepada harapan Presiden Jokowi supaya generasi muda lebih banyak lagi yang berkecimpung petani, saya yakin pesan Presiden ini jelas. Orientasi bisnis kaum milenial tidak saja untuk pasar domestik, tetapi juga ekspor ke luar negeri.  Anak muda selalu kreatif.  Saya kutip kata-kata Presiden Jokowi 2 hari yang lalu : ”Petani Indonesia harus kompetitif dalam keterampilan teknis, pemanfaatan teknologi, serta model bisnis dan manajemen,” tutur Jokowi. Mari kita bekerja sama dan arahkan generasi muda kita agar menjadi petani kopi yang sukses.

(Penulis adalah pemerhati kopi, mantan Dubes RI untuk Swedia dan Lebanon)

About Gatot Irawan

Check Also

Road to IMX 2024 Gaet Komunitas Otomotif di Jakarta

Jakarta, NextID – Road to IMX 2024: Community Meet Up sukses mendulang antusias tinggi. Lebih dari 70 …

Leave a Reply