Wednesday , 19 January 2022
Home / LifeStyle / Fashion / Beauty / Kebaya Indonesia Menuju Unesco
Rahmi Hidayatati selalu berkebaya di mana pun. Ist

Kebaya Indonesia Menuju Unesco

Jakarta, NextID – Beberapa waktu lalu nama Rahmi Hidayati muncul dalam berbagai perhelatan yang ditebar oleh Mapala UI. Beberapa tahun terakhir nama itu muncul lagi sebagai pendiri Perkumpulan Perempuan Berkebaya Indonesia. Tak ayal lagi menu kegiatan yang diemban perkumpulan ini bermunculan secara intens. Tak hanya di Jakarta namun juga di berbagai daerah.

Setidaknya dari “gawe” para puan ini menjawab lugas bahwa kodrat perempuan tak hanya menyusui dan melahirkan, namun kaum hawapun dalam banyak aspek kehidupan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan lawan jenisnya. Bukan begitu, Mbak Rahmi ”Mimi” Hidayati?

Contoh kongkrit seperti yang dilakukan perempuan magister dari Universitas Indonesia yang satu ini. Kurang lebih 34 tahun lalu sepak terjangnya di pelataran alam gunung, lembah , ngarai, sungai sudah terlihat. Dan itu tak hanya sekadar kegiatan di luar waktu kuliah.

Mimi, begitu ia lebih akrab disapa menjadi sosok yang aktif dikegiatan Mapala UI, bersama Herman O. Lantang, Aristides Katoppo, Norman Edwin (ketiganya sudah almarhum). Bahkan sederet nama lain melakukan kegiatan yang berkenaan dengan alam lepas, Mimi tak absen ambil bagian di sana.

Di acara peluncuran buku HOL. Ist

Tak hanya itu, dan juga tak sekadar sampai di situ. Dalam berbagai aksi sosial yang diselenggarakan oleh tim Mapala UI, selalu diikutinya. Jika harus ditulis satu demi satu, layar monitor ini tak cukup menampung. Kesimpulannya apa yang didapat dari semua rutinitas di alam bebas itu terlihat sikap dan sifat kepemimpinan. Usai kuliah Mimi mendirikan badan usaha Share Communication. Merangkul para sahabat yang juga bertipe sama, doyan kerja dan punya target goal bisnis yang baik.

Hasil kerja kerasnya itu menguak lebar relasi tentu dari berbagai kalangan. Mulai dari Instansi pemerintah sampai pihak swasta. Ini membuktikan lagi betapa pentingnya sebuah manejemen komunikasi dalam menjalankan roda bisnis. Memang sih, teknologi berkembang demikian pesat  namun sisi-sisi kemanusiannya itu sangatlah penting. Hal itu disadari penuh oleh ibu dari dr. Bintang Gemilang Ramadhan dan Aurora Raisa Rahmadhan itu.

Sisi-sisi indah kemanusiaan itu antara lain yang menggulung tekadnya untuk mendirikan Perkumpulan Perempuan Berkebaya Indonesia. “Tak mudah, sangat tak mudah, sebab ada sebuah gerakan yang harus dicermati dalam mengumpulkan perempuan berkebaya. Mereka harus paham bahwa ada pakem-pakem tertentu untuk kebaya Indonesia. Jadi tidak hanya sekadar nuansa kebaya, atau ornamen yang melekat di bahan berpatron seperti kebaya. Itu lantas disebut kebaya Indonesia,” begitu penjelasan Mimi.

Di ketinggian pun Mimi konsisten berkebaya. Ist

Kesibukan kesehariannya itu justru memecut Mimi untuk melakukan inovasi- inovasi perkumpulan ini. Sampai pada akhirnya suatu hari 17.000 lebih perempuan berkebaya tumpah ruah di Pekalongan “mengibarkan bendera” bahwa perempuan berkebaya Indonesia masih mencintai warisan busana itu di kota Pekalongan Jawa Tengah.

“Goes to Unesco. Saya berpikir keras untuk itu dan memang sudah kami lakukan semua prosedur atau persyaratannya. Para sahabat yang memang punya alur ke arah itu di pemerintahan juga menyambut baik. Saya dan teman teman yang membantu merasa plong. Ini kan juga budaya tak benda asal Indonesia yang harus kita lestarikan,” ungkap perempuan ulet itu lagi.

Di Mana Saja Berkebaya

Bagi sosok pekerja, tentu tantangan justru menjadi inspirasi yang muncul, dan itu tak terbatas untuk sebuah kesuksesan. Sebagaimana yang telah dituturkan Mimi bahwa kerja ini tak mudah, namun pemecahan demi pemecahan masalah yang datang justru memberi nilai tersendiri untuk  bisa “naik kelas” ketika  harus menghadapi persoalan yang lebih pelik.   

“Jangankan kerja kolektif yang menyangkut warisan budaya bangsa, untuk mengejar biaya operasional hidup di tengah pandemi ini, juga tak mudah. Saya juga harus bekerja untuk operasional hidup. Tapi bagaimana pun hidup haruslah seimbang. Nah, untuk perkumpulan berkebaya ini usaha diri untuk menjaga kelestarian budaya yang sudah kita miliki,” tandas perempuan bertubuh mungil itu.

Bersama anak gadisnya, Aurora Raisa Rahmadhan. Ist

Beberapa tahun belakangan ini usaha mensosialisasikan kebaya yang dilakukan Mimi patut mendapatkan acungan jempol. Sibak saja, mulai dari bersepeda di kawasan permukiman sejauh kurang lebih 25 km, hingga mendaki gunung, berpergian lewat darat dan udara, kebaya melekat erat di tubuhnya dan tim kerja. Belum termasuk mengadakan seminar, berbicara di layar televisi, sampai ada hari berkebaya yang jatuh setiap Selasa.

Memang jika mau jujur membela negara atau berjuang untuk NKRI tentu tak hanya sebatas hadir di mimbar politik, lalu memilih. Sungguh, kecerdasan cuap-cuap di Gedung DPR, atau adu pendapat yang tak pernah berujung di stasiun televisi, namun pergerakan seperti yang dilakukan perkumpulan perempuan yang dimotori Mimi ini adalah sebuah pergerakan mulia yang mau mendengar, belajar, berusaha keras untuk melestarikan budaya bangsa.

Sungguh kecerdasan membantu seseorang mencari peluang.  Termasuk pada peluang  untuk memperkenalkan budaya bangsa ke dunia luar dengan kemasan yang jitu. Kecerdasan itu juga menumbuhkan karakter kuat pada diri seseorang dalam bekerja. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gilgerte Beaux bahwa untuk meraih kesuksesan, karakter seseorang lebih penting daripada inteligensi. Karakter yang kuat akan memberi peluang terhadap diri seseorang untuk meraih keberhasilan.

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa keberhasilan mensosialisasaikan kinerja kelompok ini agar generasi muda mencintai budaya bangsanya pun telah dan akan terus menjadi agenda prioritas Mimi. Itu yang ia tegaskan beberapa hari lalu melalui telpon genggamnya. “Agenda saya ke depan lebih melibatkan banyak  generasi penerus, sehingga mereka paham dan lebih mencintai warisan negeri ini.”

Mimi (kiri) pada perhelatan akbar sempatkan berfoto. Ist

Gerakan itu sudah dimulai Mimi, antara lain dengan  bicara soal pelestarian budaya bangsa kepada ABG di Pesantren Gunung Geulis. Iapun mengikuti berbagai ajang bersepeda bersama dengan para muda tetap dengan menggunakan kebaya. Setidaknya Mimi sudah mempersiapkan putrinya, Ora yang kebetulan juga sudah menjadi anggota Mapala UI, ambil bagian setiap kegiatan berkebaya yang dilakukan sang ibu.

Buah tak jatuh jauh dari pohon. Kesan itu melekat erat pada Si Cantik Ora. Supel bergaul, senang membantu ketika sang ibu menggelar berbagai acara, baik itu yang berkenaan dengan kegiatan Mapala UI, maupun yang menyangkut agenda Perkumpulan Perempuan Berkebaya Indonesia.

Kodrat Bekerja

Orang bijak mengatakan, seorang ibu adalah tiang doa keluarga. Jika pada umumnya orang bekerja itu 8 jam sehari, untuk seorang ibu tak ada kata batasan. Jika disimak sejak dulu, Mimi memang perempuan pekerja. Maka tak ada hari tanpa kerja itu berlaku dalam hidupnya. Sejalan dengan itu peran dan fungsi kental terasa dilakukan dengan baik. Betapa tidak, wawancara pun sempst dilakukan dengan baik dari dalam mobil yang sedang berjalan. “Saya baru drop, sementara Gilang tugas ke Rumah Sakit sebab dia tugas siang ini.”

Saat menghadiri acara di Setu Babakan, perkampungan Budaya Betawi. Ist

Di waktu yang berbeda, ketika dihubungi, Mimi menjelaskan, dia dan Ora menuju kaki gunung untuk bergabung dengan para pencinta alam. Atau sedang bersepeda bersama di hari libur. Dan, kemarin ketika dihubungi, Mimi menjelaskan ketinggalan pesawat saat untuk menilik orangtua yang kurang sehat di Samarinda, Kalimantan Selatan.

Wah ‘Power of Mom’ pikirku. Covid menghadang namun apa yang dikerjakan Mimi selama kurang lebih 34 tahun menuai hasil dan membuktikan bahwa dalam kiprahnya ia selalu mau mendengar. Mendengar situasi, mendengar peluang kerja, keseimbangan diri dalam dalam menjadi motor sebuah kegiatan besar, di samping tentu mendengar kata hati untuk kemampuan diri sendiri dalam bekerja.

Banyak orang pintar berbicara, pintar menyibukkan diri, dan juga pintar mengeritik orang, namun tidaklah pintar mendengarkan dirinya sendiri dan bertumbuh dari sesi mendengar itu. Begitu kan kenyataan yang bisa kita saksikan? (Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

Wow, Glenfiddich Luncurkan “Where Next Club” di Indonesia

Jakarta, NextID – Glenfiddich, penerima penghargaan Whisky Single Malt Scotch paling banyak di dunia baru-baru …

Leave a Reply