Home / LifeStyle / Leisure / Art / Miranty Abidin Mengagumi Tenun Etnik Nusantara
Miranty Abidin di teras rumahnya yang asri dan etnik. (Foto Martha Sinaga)

Miranty Abidin Mengagumi Tenun Etnik Nusantara

Jakarta, NexID – 30 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk seseorang menekuni apa yang ia sukai, tapi itu yang dilakukan Miranty Abidin dalam usahanya mempelajari sekaligus mengoleksi wastra Nusantara. Mungkin didorong dengan visinya yang jelas dan suara hati yang kuat, akhirnya membuat langkah-langkah Miranty soal wastra itu semakin kokoh. Sewajarnya, jika rasa kagum seseorang atas obyek indah maka jalan terbuka itu ditapaki dengan sukacita dan antusias.

Miranty Abidin, nama itu mulai naik kepermukaan negeri ini setelah ia terpilih sebagai calon astronot tahun 1984. Kala itu 4 nama perempuan dinyatakan memenuhi persyaratan sebagai calon astronot dari 700 calon yang ada. Satu di antara 4 yang terpilih adalah Miranty Abidin. Kemudian nama itu kembali muncul di kancah perekonomian dan usaha negeri ini karena memang ia dan Indra Abidin (alm) sang suami mendirikan sebuah perusahaan komunikasi, Fortune PR.

Menjalankan roda perusahaan keluarga tak menyurutkan antusiasnya untuk mempelajari sekaligus mengoleksi berbagai wastra negeri ini. Ia pun lantas bergabung dengan Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI), apalagi jika tidak untuk berbagi pengetahuan. Dia pun punya banyak agenda untuk berkegiatan, dan tentu bergandengan tangan dengan sesama pencinta wastra negeri untuk menelaah, mengkaji keindahan budaya dan seni Indonesia lewat wastra.

Penting untuk Sebuah Keindahan

Memiliki impian nan besar pada ujungnya akan melahirkan sikap hidup yang sarat kejujuran,  memiliki inisiatif, kepekaan sekaligus berjiwa besar dan semua itu mengarah kepada pemikiran yang selalu positif. Punya impian di kehidupan mendatang. Tak salah jika Albert Schweitzer mengatakan bahwa tragedi kehidupan bukanlah kematian kita namun hal-hal yang mati.  Artinya, jika kita tak lagi mempunyai impian dan tak memelihara impian tersebut maka itulah hal-hal yang mati dalam kehidupan.

Koleksinya dari buah kekaguman Miranty atas negeri ini. Ini beberapa tenun etnik NTT. (Foto Martha Sinaga)

Rasanya Miranty Abidin peka terhadap hal itu, setidaknya dapat dilihat dari rencananya membuka “Rumah Kain Negeri” dalam waktu dekat. Mulailah ia memasuki waktu khusus untuk berada di ‘the world of mine.Dunia impian yang pada akhirnya diejawantahkan menjadi sebuah pekerjaan yang ikut melestarikan sekaligus mengembangkan wastra sebagai bagian dari heritage bangsa ini.

“Setiap orang bisa konsentrasi dengan karya seni budaya yang berupa wastra . Itu kan akar kita. Betapa tidak, dalam satu helai kain ada sesuatu yang komperatif. Ada filosofi satu kesatuan. Ada jiwa yang menenun, ada cerita budaya seni adat istiadat, atau lambang. Setiap daerah berbeda-beda. Itu yang luar biasa. Kita bisa menggalang persatuan sebagai anak bangsa dari kain tenunnya lho,” begitu pendapat Mia, panggilan akrabnya.

Nah itu juga menjadi salah satu alasan mengapa ia gigih mengumpulkan tenun bermotif etnik Indonesia. Saat menengok di kediamannya yang asri di Selatan Jakarta, wuih memang koleksi tenun pakar komunikasi luar biasa. Terlihat ada tenun dari Sabang sampai Merauke, memenuhi lemari-lemari antiknya.

“Kita ini terdiri dari suku yang beragam. Indonesia ini beragam banget.  Nasionalisme diperkuat dulu deh, melalui ekspresi budaya yang beragam itu. Tentu itu bisa menjalin kekuatan nasionalisme,” tegasnya serius.

Miranty lantas meneruskan pendapatnya, “Kain itu punya pakem lho. Kenapa begitu? Setiap daerah punya motif, warna, dan sajian yang punya makna masing-masing.  Misalnya, ulos gak dapat diasumsikan seperti kain dari ranah Sunda, karena peruntukan kain itupun orang Bataklah yang paham. Begitu juga Cirebon. Mengapa batik Cirebon terbubuhi motif nuansa Cina dan Belanda? Karena kota Cirebon memang terletak di kawasan pelabuhan di pantai utara, tempat kapal-kapal berlabuh yang datang dari berbagai belahan dunia tempo dulu. Nah, pengaruh-pengaruh itu tertera pada motif kain mereka. Itu yang saya katakan bahwa helai kain itu punya pakem.”

Berdiskusi dengan pencinta kain – salah satu Nadya Saladin (kiri) – soal motif dan simbol-simbol pada helai kain Nusantara. (Foto GI)

Bincang siang itu, Ibu dari dua putra dan seorang putri (almarhumah) berlanjut dengan contoh lain. Kali ini ia membidik rumah-rumah kayu berikut pahatan reliefnya yang cerminan Indonesia. Rumahnya itu mengacu pada konsep Rumah Limas di Palembang –  karena almarhum suaminya berasal dari sana. Sementara di bagian depannya “dikawinkan” oleh ornamen Rumah Kudus lawas.

Yang menarik, menurut kisahnya, ornamen Rumah Kudus itu dahulu peninggalan “Raja Kretek” Nitisemito. “Saya peroleh dari generasi ke-6. Memang, semua punya ciri, punya seni dan fungsi masing-masing itu. Jadi, jika kita mau melihat lebih detil lagi itulah kekayaan Indonesia. Kita disatukan dengan perbedaan yang ada,“ ungkap Miranty semangat.

Mengapa ia dan keluarga juga membangun kediaman mereka di tanah maha luas itu dengan gaya arsitektur Indonesia dan piranti interior pelengkap ruangan demi ruangan juga bergaya Nusantara?  “Barang-barang seni itu mempersatukan dan memperkokoh sukma ke Indonesiaannya. Negeri ini maha kaya untuk seni budaya. Kita belum bicara lingkungan dan lainnya, ya. Indonesia itu maha kaya,” begitu Miranty berpendapat.

Keagungan Bangsa

Diakui sebagai seorang pimpinan di sebuah perusahaan jasa komunikasi, maka idealnya memang tampilanpun sudah mewakili komunikasi itu sendiri. Akhirnya di banyak kesempatan Miranty selalu hadir dengan setelan busana yang bermotif etnik Indonesia. Tampilannya menyiratkan apa yang ingin ia gapai dari keindahan Indonesia. Kesatuan dan persatuan dari sekian banyak perbedaan motif. Gitu kan Mbak Miranty?

Di pojok terasnya pun pas untuk membentang berbagai motif kain. (Foto Martha Sinaga)

“Antara lain memang itu. Kita sebagai perempuan Indonesia, tampilkanlah apa yang dimiliki negeri ini. Tenun motif etniknya, antara lain. Inilah yang disebut value. Semakin tinggi nilai sesuatu maka kita akan lebih bersemangat memperlihatkannya, di samping mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari dan memilikinya,” tandas Miranty.

Keinginan untuk lebih mempersatukan visi misi anak bangsa dalam usaha mengembangkan sekaligus melestarikan wastra Indonesia, ia berempati untuk membuka dinding rumahnya sebagai altar penyusunan berbagai kain yang dimiliki, bersama para rekan yang punya tujuan sama dengannya.

Self awareness itu terkesan tebal dimiliki Miranty. Kompentensi diri  memang dapat dikenali antara lain dari usaha, pendidikan, bakat dan hobi yang positif. Sedangkan kemampuan diri dapat dilihat dari  keyakinan, spirit, karakter, dan kepemimpinan. Apalagi dipadu daya juang yang tinggi dan keduanya digabung, akan menghasilkan kompetensi pribadi yang sangat tinggi.

Kompentensi pribadi inilah yang dapat melahirkan kemampuan diri sendiri, termasuk kemampuan dalam melihat dan menjaga kekayaan para leluhur atas warisan seni dan budaya. Setelahnya tentu akan keluar sebagai pemenang. Pemenang dalam mempersatukan kekuatan kebersamaan anak negeri, yang kebetulan dipilih Miranty melalui wastra.

Salah satu koleksi Mia, kain tenun tapis Lampung. (Foto Martha Sinaga)

Semoga Rumah Kain Negeri segera berperan serta dalam usaha melestarikan sekaligus mengembangkan tenun motif negeri ini yang diprakarsai Miranty Abidin dengan beberapa rekan yang punya visi-misi dan tujuan yang sama.

Mengutip pendapat George Bernard Show, “Orang-orang sukses di dunia adalah orang yang bangkit dan pergi mencari keadaan yang mereka inginkan, dan jika tidak menemukannya mereka akan membuatnya.”  (Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

“Seksinya” Mobil Miniatur Peugeot 9×8

Jakarta, NextID – Siapa bilang mobil-mobil miniatur hanya sebatas hiasan mainan belaka? Justru dalam bentuk …

Leave a Reply