Home / Business / Pandemi Membawa Berkat
Soun buatan pabrik Novi Yuliani yang diolah dengan bahan-bahan tambahan terlihat yummi. Foto: Mario Ikada

Pandemi Membawa Berkat

Jakarta, NextID – Mungkin orang bertanya berkat apa yang bisa didapat di tengah kegusaran kunjungan Covid-19. Bukankah hanya kepanikan, atau airmata karena ditinggal selamanya oleh orang-orang  terkasih. Kalaupun tidak demikian maka ekonomi keluarga yang tiarap.
Lantas, di mana letak berkatnya?

Sesungguhnya, seseorang bisa hidup sehat di tengah badai Covid ini saja sudah merupakan berkat yang tak dapat dinilai dengan mata uang apapun. Tapi, okelah masih banyak orang yang mengartikan berkat itu berupa materi, sandang dan pangan.  Nah, kali ini coba kita intip dapur dan gudang pembisnis bahan makanan asal Purwodadi, Novi Yuliani.

Novi begitu ia lebih dikenal, mulai membuka usaha tahun 2000 di Lampung. Walau ia mengaku semua itu karena meneruskan usaha yang sudah dirintis oleh sang mertua, namun tentu saja tak luput dari tangan dingin dan kepekaan dunia bisnis sang suami. Pasangan ini bahu-membahu dalam menjalankan bisnis dan  terus mengembangkannya. Semisal, yang semula dirintis oleh orangtua mereka hanya mie. Tetapi di tangan Novi dan suami berkembang menjadi beberapa  jenis materi yang siap bersaing di pasar bahan makanan.

Masuk dalam suasana berdagang di tengah Covid ini ternyata jenis bahan makanan yang keluar dari dapur bisnis Novi beragam jenisnya. Mengapa bisa demikian? Ini penjelasan Novi. “Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya, kami akan terus berjuang agar survive, the show must go on.”

Tentu tekad itu diterapkan karena Novi menyadari penuh bahwa orang butuh makan. Mengonsumsi makanan adalah sesuatu yang tak dapat dihindari.  Jadi, jika waktu yang lalu hanya mie dan soun, justru di era Covid-19 ini dilengkapi dengan kerupuk,  ikan kaleng sardencis sampai terasi.

Novi Yuliani bersama suami membangun bisnis bahan makanan. Ist

“Jika orang jual soto butuh mie dan soun, pasti juga butuh kerupuk. Di pandemi orang tidak bisa kumpul-kumpul, maka cari makanan yang praktis antara lain sardencis. Walau memang kamipun harus  mendapatkannya dari mitra kami. Tapi puji syukur, semua berjalan baik. Bahkan berkat di tengah Covid ini kami terima seperti biasa, tak ada kekurangan. Malah permintaan  pasar terus bertambah,” singkapnya.

Di tengah Covid, di mana banyak orang tak bisa bergerak dengan leluasa, termasuk para stafnya selalu bersyukur karena permintaan datang bukan hanya berasal dari Lampung, namun juga di luar itu. “Permintaan datang dari Palembang, juga Jambi. Sebulan ini mie jagung dan kuning, harganya ada kenaikan sebulan ini. Jika ada yang beli ke gudang biasanya pak-pakan bukan eceran.

“Setiap daerah beda-beda permintaannya, karena tergantung yang disukai masyarakat setempat. Misalnya, produk soun saja ada puluhan  jenis, yah kira-kira 50 jenis. Jika eceran Rp 1000 rupiah sampai Rp 20.000 rupiah. Ada yang satu pak harga Rp 40 ribu isinya 10 pieces. Kami menyiapkan saja permintaan pasar, apa yang mereka order kami siapkan,” begitu cerita Novi.

Terkesan dari yang ia tawarkan memang memungkinkan untuk kantong  konsumen, atau masyarakat luas. Itu sebabnya di tengah teriakan peliknya ekonomi di Covid ini, Novi tetap mensiasati agar usaha bahan makanan tak kehilangan pelanggan atau pembeli. “Untuk mie soun stabil sih penjualannya, hanya beberapa waktu lalu ada sedikit dampak Covid ini, namun tak separah orang jualan makanan di kafe,” ujarnya.

Kerupuk, panganan pelengkap yang bukan remeh-temeh, begitu cerita Novi Yuliani . Foto: Mario Ikada

Duet Bisnis dengan Suami.

Keluarga adalah masyarakat terkecil, namun keluarga juga yang menjadi tiang doa untuk kelangsungan usaha yang dilakukan, baik istri maupun suami. Novi dan suami berbagi tugas dalam menjalankan roda bisnis mereka. Jika Novi ingin melebarkan bisnis maka ia  katakan kepada suami. Maka dengan cepat, hitungan bisnis dilakukan oleh pasangannya. Selanjutnya Novi menembus pangsa pasar dengan tim salesnya.

Novi punya kiat khusus dalam membidik pasar. ”Sekarang sudah gak boleh pesta perkawinan atau pertemuan dalam jumlah besar. Namun sebelumnya, jika mie atau soun diorder untuk pesta, maka kerupuk menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan. Itu sebabnya saya juga menyediakan kerupuk, udang,  kerupuk ikan, dan beberapa jenis lain,” sibak perempuan yang mengaku sangat cinta produk Indonesia. 

Sekilas orang melihat kerupuk, terasi, mie  so un itu makanan remeh. Namun jika berpikiran cerdas, di tengah Covid ini hal yang remehpun menjadi penting. Coba maknai bahwa sekrup yang remeh, kecil penting untuk sebuah bangunan megah. Benda kecil itu sanggup menghubungkan satu benda yang besar dengan benda lainnya. Selanjutnya muncullah gedung tinggi yang kekar menjulang ke langit. Bukankah apa yang dikerjakan Novi dan keluarganya juga demikian. Inilah contoh dan perumpamaan bahwa hal remeh dan kecil dalam bingkai kehidupan yang luas tetaplah penting.

Memang setelah diolah lebih lanjut, lauk sardencis ini menimbulkan selera makan. Foto: Mario Ikada

Cherie Carterscoot berpendapat, orang yang luar biasa hanya percaya pada hal-hal yang mungkin. Mereka bisa membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin.  Apalagi di tengah pandemi ini, terobosan-terobosan yang cerdas dan inspiratif perlu diterapkan, dan harus disiasati. Bagimana pun hidup butuh makanan, walau hidup bukan hanya untuk makan.

Selain mensiasati bisnisnya, Novi mengaku tak kalah penting menjaga kesehatan diri dan keluarga. Ia selalu mengatakan kepada dirinya apa yang ia kerjakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Motivasi untuk terus menjaga kesehatan dalam bekerja juga ditebarkan kepada pegawai, pelanggan dan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

“Harus tetap produktif di masa pandemi ini dan optimistis. Tebarkan berita-berita yang membuat orang optimis, juga melalui medsos. Saat ini orang membutuhkan motivasi. Dalam berbinis juga butuh motivasi kuat. Tidak semata meraup untung, lalu selesai. Tapi terus melakukan inovasi sehingga bisa saling bantu, baik kepada rekan sesama pembisnis maupun dengan sahabat para karyawan. Dengan niat baik maka usaha akan jalan terus. Ini berdampak positif di mana asap dapur juga bisa ngebul stabil,” papar Novi lagi.

Jiwa bisnis dengan jiwa sosial diharapkan jalan beriring, utamanya di situasi seperti sekarang ini. Mungkin menurut kita pemberian kepada orang kecil nilainya, namun tidak demikian bagi sang penerima. Sekecil apapun berkat itu jika disalurkan dengan benar, maka punya makna yang besar. Tak ada orang yang makan sehari menimbulkan rasa kenyang selama setahun. Maka tak salah jika  berada di alur bisnis  bahan makanan yang  memang menjadi kebutuhan sehari-hari sebagaimana yang dilakukan Novi Yuliani.

Sungguh, lawatan Covid -9 yang hampir dua tahun ini melahirkan banyak cerita. Kisah sedih, sukacita sampai inspiratif. Bagaimanapun hidup harus tetap berjalan. Agar usaha bisa terus berlanjut maka mari membangun energi fisik dengan manajemen tubuh yang baik. Itu sikap yang tak dapat dihindari. (Martha Sinaga)

Jangan sepelekan terasi. Bahan campuran berbau khas ini amat digemari masyarakat. Foto: Mario Ikada



.

About Gatot Irawan

Check Also

Negara Barat yang Dikte Indonesia Dikritisi Mahasiswa

Jakarta, NextID – Para mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (Unibraw) menilai Indonesia dalam posisinya sebagai …

Leave a Reply