Sunday , 1 August 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Caffe / “Angkringan” Peluang Usaha di Tengah Covid 19
Hilda Safitri sedang mempersiapkan masakan untuk Dapur Moci's. Ist

“Angkringan” Peluang Usaha di Tengah Covid 19

Oleh Martha Sinaga  
Jakarta, NextID – Judul kisah ini dan kenyataan memang selaras, so pasti membuat banyak orang ngiler untuk mengenyam hasil bisnis yang sama. Mengingat “kunjungan” Covid-19 ini banyak usaha yang terpuruk bahkan amblas. Berbeda kenyataan yang dialami oleh Hilda Safitri (Cici) yang menetap di Bali kurang lebih 20 tahun – bisnis makanannya justru melonjak.

 Okelah kita simak dulu warta di masa Covid ini. Diberitakan bahwa dunia pariwisata Bali terpuruk, walau tak dapat dikatakan amblas. Bisa dipahami, karena pembatasan keras atas kunjungan turis luar maupun lokal. Padahal pendapatan ekonomi Pulau Dewata itu bergulir hebat dari  pariwisata.

Memasuki akhir tahun rasanya keterpurukan itu masih dirasakan sebagian besar warganya. Pengurangan pegawai itu yang paling membuat Bali muram. Bisnis apapun kolaps, karena memang masyarakat di sana hidup dari dunia turisme.

Tetapi beda dengan apa yang dialami Hilda Safitri. Ia memutuskan untuk berbisnis makanan itu di tahun 1998. Tahun itu Ibu dari dua putra dan seorang putri ini sudah memiliki beberapa restoran, antara lain di Spago yaitu di Sanur.

Cerita Hilda lagi, pada tahun 2007 usaha makanannya terus meningkat. Maka, manajemennya memutuskan untuk merambah melayani katering, yang disiapkan sebuah perusahaan untuk para karyawannya. Dan pelayanan seperti itu dilakukan selama kurang lebih 4 tahun.

“Puji Tuhan, orderpun berdatangan, ya untuk arisan bahkan untuk pesta.  Usaha saya tidak hanya sampai di situ namun juga merambah ke sekolah, bahkan di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar,” beber Hilda.

Terpuruk
Untung tak dapat diraih, rugipun tak dapat ditolak. Pribahasa itu juga dialami oleh Hilda dan manejemennya di masa Covid ini. “Duh, menyedihkan banget. Sangat menyedihkan. Semua  terpuruk. Sayapun tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan karyawan sebab cukup berat untuk memfasilitasi kebutuhan mereka,” cerita Hilda.  

“Usaha katering tak jalan. Yang di rumah sakit dan sekolah bahkan ditutup. Hanya air mata yang rasanya sudah mengering harus menerima kenyataan ini. Tetapi karena pada dasarnya karyawan saya loyal dan baik di bidangnya masing masing, mereka tidak menuntut gaji, asal bisa tetap tinggal di rumah,” ujarnya.

Suasana konsumen sedang santai di Dapur Moci’s. Ist

“Tapi mau gimana lagi, dengan berat hati ada juga yang saya pulangkan ke Cianjur ke daerah asal saya, karena memang mereka berasal dari sana. Ini menyedihkan, hanya kepada Allah saya bisa mengadu betapa hancurnya hati ini, tapi sayapun harus bijak mengambil keputusan. Bali sepi, sangat sepi pengunjung, lalu mau jualan di mana,” kisahnya.

Waktu berjalan, himpitan ekonomi karena Covid pun berjalan 8 bulan. Dengan tabungan yang semakin menipis Hilda mencoba bangkit. Walau di sana sini protokoler harus dijalankan dengan ketat. Setiap komplek atau kawasan pemukiman dijaga ketat, termasuk tempat tinggalnya di daerah Renon yang biasanya ramai dengan lintasan orang menjajakan makanan.

Favorit Mie Ayam Pangsit & Bakso Urat

Kenyataan ini tentu membuatnya berpikir ulang untuk berdagang kecil-kecilan dulu. Hanya saja bukan Hilda namanya jika tidak punya kebijakan agar asap dapur terus ngebul. Biaya hidup tertutupi walau tidak seperti masa sebelum Covid-19 melanda.

“Ya, saya jualan makanan di angkringan, hanya beberapa jam sehari. Itu tak lain juga untuk membantu masyarakat yang sulit hidupnya. Walau untungnya sedikit sekali, namun saya jalani,” ungkapnya lagi.

Pasti, Hilda tak lagi bicara omset. Untuk bisa menafkahi karyawan yang masih ada saja, sudah bersyukur. Itu juga sebabnya ia menerima orderan makanan di rumah. “Dua, porsipun saya ladeni. Gak ada pilihan. Hitung-hitung saya melayani sesama sajalah.”

Ehm, tangan kanan berbuat maka tangan kiri tak perlu tahu, karena Tuhan lebih tahu mana yang terbaik. Kira-kira itulah yang dialami perempuan pekerja keras ini. Dua bulan terakhir, menu bakso urat dan mie ayam pangsit laku deras.

“Duh, Puji Tuhan. Respon pembeli luar biasa. Tiap hari kami disibukan untuk membuat sendiri baksonya, meracik bahan-bahannya. Sungguh saya berterima kasih kepada Tuhan dan teman-teman yang sudah mensuport usaha saya di waktu sulit ini,” sibak perempuan yang sedang mempersiapkan sebuah buku kesaksian rohaninya itu.

Mungkin tidaklah berlebihan, ia memang punya nyali yang peka dalam hal berbisnis makanan. Walau di Bali, yang diketahui masyarakat dunia tumpah ruah di sana, namun ia tetap memilih selera Nusantara untuk menu yang ditawarkan. Nasi liwet, gado-gado, bakso, ayam bakar asap sambal, Mata plecing gondo, atau soto betawi. “Tetapi  lontong sayur, nasi uduk, dan bakso urat menjadi menu favorit selama ini,” ujarnya.

Mutlak Kreatif

Dapur Moci’s (Dapur Momy Cici) begitu ia menerapkan label dagang makanannya. Ia yang menentukan resepnya, ia juga yang heboh berbelanja bahan mentah yang diperlukan, iapun yang menata table manner agar membangkitkan selera bagi calon penikmat masakan yang disajikan.

Satu hal yang pasti, kehidupan akan tetap berjalan normal bagi orang-orang kreatif. Tak penting memang berapa kali keterpurukan itu dialami, yang maha penting adalah berapa kali pula bisa bangkit dari keterpurukan itu. Bukan begitu Ibu Hilda Safitri…

Sebagian daftar dan deretan menu di Dapur Moci’s. Ist

About Gatot Irawan

Check Also

I Gede Sukana Kariana: Berkreasi dari Sudut Bali

Jakarta, NextID – Bali, salah satu provinsi yang terpuruk jika tak dapat dikatakan tiarap  akibat …

Leave a Reply