Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Kreativitas dan aktivitas yang dijalani tak lepas dari enerji fisik dan alam pikir. Keseimbangan itu tentu salah satunya dapat dilihat pada hasil akhir kerja. Nah, paduan yang dikatakan di atas itu terasakan pada bentang pergelaran busana karya Nine Round by Kinto Wardani pada Kamis, 25 September 2026 di Tower Bank Tabungan Negara (BTN) di Jakarta.
Kinto Wardani menembus Batik Betawi yang dipadu dengan beberapa jenis tenun bermotik etnik Nusantara. Satuan padu padan yang mengikuti rotasi fashion, dan bisa diterapkan untuk berbagai jenjang usia – junior hingga senior bahkan para eksekutif dan profesional muda. Patut diakui bahwa pemandangan ini jarang ditemui di pergelaran busana pada umumnya.

Merangkul Para Muda
Sangat terasa dalam mengetengahkan karya-karyanya kali ini pun Kinto memberi peluang kepada para muda untuk tampil sebagai peragawan dan peragawati mengenakan desain-desain uniknya. Sikap ini patut mendapat acungan jempol.
Dalam kesempatan terpisah, Kinto memberi alasan mengapa sikap itu diambil. “Harapan saya, marilah kita berkolaborasi, mewujudkan, juga melestarikan budaya busana dan wastra Indonesia sebagai warisan leluhur. Ini tentu bukan hanya soal budaya, namun juga ekonomi karena dengan berkain tentu membantu ekonomi pengrajin batik, sekaligus penenun yang potensinya cukup besar di Nusantara ini,” ujarnya.

Dia melanjutkan, “Tapi saya tidak menyarankan berkain atau berwastra dengan produk pabrik dan print, sepatutnya yang menggunakan canting batik. Begitu juga dengan tenun. Tentu dengan begitu bisa membantu kelangsungan hidup mereka, sekaligus meneruskan mengembangkan sekaligus melestarikan warisan bangsa yang berupa batik dan tenun.”
Dalam usaha merangkul para muda agar menumbuhkan rasa memiliki terhadap heritage yang berupa batik dan tenun, beberapa waktu lalu Kinto menggelar acara bagaimana berkain di tengah kawula muda di Malang, Jawa Timur. Setidaknya ia memberitahukan bahwa berkain dalam keseharian itu juga nyaman dan tetap bisa tampil chick.
Pada pergelaran busana di Tower BTN pun, ketentuan yang sama ia terapkan kepada para senior yang berjalan di atas panggung pergelaran busananya ketika itu. Kinto membagikan enerji kebersamaan dengan bidikan yang tepat, yakni paduan batik Betawi dengan tenun Badui.
Kenyataan ini adalah satu sikap yang patut digarisbawahi yaitu membangun kebersamaan dalam mendalami rasa cinta terhadap tenun bermotif etnik dan batik Betawi. Di kesempatan itupun desainer yang satu ini juga menarik kepermukaan tenun ulos dan lurik untuk memperkaya nuansa etnik di pergelaran busananya.
Kerja apik Kinto ini diakuinya membutuhkan waktu dua minggu. Ia juga merangkul beberapa produk UMKM yang bisa dilihat dari hadirnya “gelar meja” mereka. Mulai dari batik Betawi, aksesori, tenun Badui dan busana siap pakai yang tentu kesemuanya berbahan dari dalam negeri.
Impian untuk menembus pasar kreatif lebih bernilai ekonomi bisa dirasakan saat itu walau acara digelar hanya beberapa jam. Pastinya banyak pihak yang bermimpi untuk bagaimana bisa melakukan hal yang sama dan membuat kesepakatan dengan banyak pihak hingga perhelatan ini bisa berlangsung. Sehingga produk yang dijajakan bisa menembus pasar yang populer disebut ekonomi kreatif. Tentu diakui sebuah usaha atau karya itu berkembang dimulai dengan sebuah impian.
Impian itu akan terwujud jika banyak elemen atau badan pemerintah yang menopang hasil karya anak bangsa sebagaimana yang dipaparkan Tiana Elma Hetty selaku Regional Head Kantor Wilayah Jakarta I BTN. “Acara khusus ini menjadi tonggak penting bagi BTN dalam usaha memperluas jangkauan bisnis, di samping mengangkat warisan lokal ke level premium tentunya,” ujarnya.
“Transformasi BTN tidak hanya skala perumahan namun meluas ke sektor kreatif. Keterlibatan penuh BTN di kelas fashion ini sebagai bukti bahwa BTN kini mendukung sektor industri kreatif yang kita tahu bersama sebagai tongkat penggerak ekonomi bangsa di masa mendatang. Melalui sinergi lintas sektor ini tentu diharapkan layanan perbankan transaksional BTN lebih kuat,” ujar Tiana Elma Hetty.

Membangun Enerji Hati Bersama Para Muda
J. Donald Walter – penulis terkenal, mengatakan bahwa kebahagian Anda akan tumbuh berkembang di kala bisa membantu orang lain. Serta, membangun enerji dengan relasi yang tepat.
Memang Kinto melihat bahwa “bermitra” itu selayaknya harus tepat sasaran. Ini tampak ketika dia mengetengahkan karyanya di mana para muda terlihat. Merekalah sumber enerji antara lain untuk menghasilkan sebuah karya. Yang pasti tongkat estafet ekonomi kreatif ini pun ada di bahu mereka nanti. Para mudalah untuk selanjutnya yang akan menjadi pelaku ekonomi kreatif itu.
”Itulah salah satu alasan saya memperkenalkan baju berkain melalui wastra di layar medsos. Dan saya berusaha untuk terus menghadirkan sosok yang berkain dan mengenakan tenun dalam fashion Indonesia. Setidaknya itu menjadi tontonan orang banyak bahwa berkain itu selalu ada. Bagi mereka yang lebih bisa memahami maka diharapkan akan mampu mengembangkan sekaligus melestarikannya batik dan tenun lewat kepeduliannya. Kain itu salah satu produk warisan budaya Indonesia,” papar Kinto yang juga tergabung dalam Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI)
Tentu pemikiran dan sikap kerja seperti Kinto perlu disanggah dengan benar oleh banyak pihak. Pihak pemerintah, elemen terkait, komunitas, pihak akademisi yang tentu berperan untuk menanamkan rasa memiliki para muda terhadap heritage negeri berupa batik dan tenun etnik Indonesia.
Memang, acara ini terselenggarakan atas kerjasama berbagai sponsor antara lain BTN, dan Kalpataru, Omah Kebaya dan beberapa usaha lainnya. Sehingga enerji besar para desainer tertuang pada karya yang lebih mumpuni lagi, dan itu mampu diharapkan akan menciptakan lapangan kerja karena menembus pangsa pasar dalam dan luar negeri.

Selaras dan Harmonis
Siang itu Kinto Wardani telah menabur karya busana. Menciptakan harmoni dan keselarasan antara otak dan hati. Karya busananya bisa dinikmati dan itu pasti membuka wacana menjadi wawasan bagi para muda khususnya dan pencinta karya anak bangsa pada umumnya. Kata Aristoteles, “Belajar tentang pikiran dan ilmu pengetahuan tanpa belajar untuk memperkaya hati sama dengan tidak belajar apa apa.”
Kinto Wardani memperkaya hati lewat karya busananya, terkesan setidaknya dari ia mempercayakan karyanya dikenakan oleh mereka yang berbeda usia. Satu bukti bahwa sejak dulu, kini dan nanti batik Betawi tetap diminati. Begitu kan Mbak Kinto Wardani?

NextID What's Next ?
