Home / LifeStyle / Leisure / Art / Ina Rachma: Bahagia itu Tak Berujung…
Ina Rachma bersantai dikelilingi karya-karyanya. Ist

Ina Rachma: Bahagia itu Tak Berujung…

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Bicara kecerdasan tak hanya berkenaan dengan otak, tetapi juga menyangkut emosi dan kerja hati yang selaras dengan asam manisnya pengalaman hidup. Itulah yang dilakukan pelukis yang juga perancang busana, Ina Rachma dalam melahirkan karya-karyanya.

Yang pasti, kreativitas telah membuka cakrawala berpikir yang lebih luas, walau ia mengaku untuk karya seni di dua bidang yang ditekuni dalam kurun waktu yang panjang itu, ia tidak mengenyam pendidikan secara formal. Menarik kan? Memang tak seutuhnya pendidikan formal menjamin seseorang berhasil  dalam hidupnya, karena ada sisi sisi lain yang tak kalah penting untuk diresapi, ditekuni dan pasti kerja keras.

Kenyataan seperti apa yang dialaminya, kenapa ia bisa bertahan dengan karya lukis, sementara perjalanan hari muncul dan berkembang. Pelukis lain pun dengan karyanya memenuhi pasar seni dalam dan luar negeri. Lalu, siapa orang yang berperan dalam kehidupan karirnya itu? Suatu siang Ina Rachma menjelaskan kepada penulis, dan merangkumnya.

Inilah karya busana Ina Rachma saat masih menggeluti dunia fashion. Ist

Sisi-sisi Kelembutan Hati

Awal perjalanan karir saya sesunguhnya berasal dari dunia fashion. Rasa suka terhadap dunia fashion itu sudah saya rasakan sejak usia anak Mungkin karena saya diberasarkan di lingkungan yang erat kaitannya dengan dunia indutri mode.

Pasalnya, ibu saya (Tina Fatima Kabir) menggeluti bidang pekerjaan industri pakaian. Saya ingat betul beliau aktif mengerjakan pengadaan pakaian AKABRI. Mulai dari piyama mereka hingga pakaian untuk upacara. Dari kenyataan itu. Ibu menjadi salah satu pendiri Asosiasi Perancang Mode Indonesia bersama beberapa perancang senior Non Kawilarang, Peter Sie, dan Prayudi.

Dari ibulah saya belajar banyak bahwa sebuah karya lahir dari ketekunan, disiplin, dan kecintaan terhadap sebuah proses untuk mewujudkan sebuah karya. Tahun 1955 saya bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang saat itu diketuai oelh Poppy Dharsono. Sejak saat itu saya semakin serius menekuni dunia fashion dan banyak kesempatan terbuka untuk mengikuti berbagai pergelaran buasan dalam dan luar negeri.

Perjalanan hari, di tahun 2023 saya mulai mengurangi aktivitas di dunia fashion, namun tidak berarti cinta saya terhadap dunia seni berhenti. Saat itu juga saya menemukan ruang baru untuk mengekspresikan diri melalui seni lukis. Darah seni mengalir rasanya dari ayah yang suka bermusik dan melukis, sementara ibu pemain piano klasik. Maka tanpa saya sadari keduanya mewariskan dunia seni dengan cara yang berbeda kepada saya.

Ruang Berdiaolog

Dari situlah saya mengenal dunia fashion, sementara dari ayah saya memahami dan menekuni kebebasan berekspresi melalui seni lukis. Saya sangat merasakan melukis bukan sekadar menghasilkan karya. Tetapi, kanvas adalah ruang untuk berdialog dengan hati dan pikiran. Di sanalah saya mengolah rasa, menenangkan diri, bermeditasi dan menuangkan berbagai emosi dalam bentuk warna-warna, garis serta tekstur.

Perenungannya dan ide spontanya diwujudkan di kanvas saat di studio lukisnya. Ist

Saya tidak fanatik atau mengidolakan seniman khusus dalam memberi insipirasi di setiap karya saya, karena saya berpendapat semua seniman yang saya saksikan karyanya memberikan enerji antusias pada karya mereka masing masing.

Oh ya, untuk pendidikan formal melukis tak pernah saya tempuh atau belajar khusus kepada seorang pelukis. Semua karya saya lahir secara spontan, megikuti suasana hati, intuisi dan suasana batin pada saat itu. Itulah sebabnya saya tidak pernah memasukan karya saya pada aliran tertentu. Saya paham bahwa karya saya bukan aliran naturalis, saya memilih kebebasan berekspresi melalui bentuk-bentuk abstrak, garis, bunga serta kekayaan permainan di tekstur.

Latar belakang sebagai perancang busana masuk dan dirasakan pada karya lukis saya. Garis-garis komposisi, tekstur hingga padu padan warna merupakan bagian yang saya pahami sejak lama. Seakan kerinduan untuk merancang busana saya tuangkan di atas kanvas. Beberapa pameran saya ikuti dan mendapat respon baik dari para kolektor, walau hingga kini belum pameran secara tunggal. Proses kreatif sebaiknya tanpa membebani diri dengan target tertentu. Saya melukis ketika hati memanggil, tak semata mengejar hasil.

Ada lagi yang saya sukai, yaitu budaya berkain. Jika yang satu ini karena sering melihat nenek berkain dan di kala Hari Raya tiba, diwajibkanlah kami berkain. Kenyataan itu menimbulkan rasa cinta saya terhadap wastra nusantara. Berkain itu bagian dari identitas, karakter dan penghormatan terhadap budaya Asia.

Tutorial Sederhana
Untuk lebih membudayakan berkain maka saya aktif memberikan tutorial berkain yang sederhana, namun kreatif untuk dapat diterapkan dalam keseharian. Diharapkan budaya berkain sebagai bagian dari kehidupan sehari hari.

Ekspresi Ina Rachma dalam menerjemahkan keindahan. It

Bagi saya, wastra Indonesia bukan hanya warisan yang perlu dilestarikan, namun juga dikembangkan dan diwarisan kepada generasi penerus. Sama seperti melukis, cara kita berpakaian juga merupakan ungkapan jiwa, karakter, kreativias dan kebebasan berekspresi dalam konteks kesantunan.

Itu sebabnya, baik melalui fashion, seni lukis dan budaya berkain, saya sedang merasakan melakukan dengan hati yang sama. Mengkespresikan rasa, “merayakan” keindahan dan mensyukuri anugerah warna yang Allah titipkan dalam kehidupan saya.

Setuju dengan Ina Rahman bahwa keindahan pada dasarnya adalah sebuah upaya membersihkan diri untuk sampai kepada kemurnian dan kesejatiannya. Kita harus akui bahwa peradaban manusia yang isinya serba materi dan segala macam proses mekanis pada akhirnya mendorong manusia kehilangan sensitivitas rasa dan kepekaan terhadap fitrah kehidupannya.

Maka cara memandang kehidupan yang menekankan rasa sebagaimana dimensi keindahan dalam mencintai karya adalah media yang sangat bernilai untuk mengembalikkan manusia ke rel kemanusiaan yang memiliki rasa, kepekaan dan kecerdasan. Itu yang tertangkap dari sikap dan tindakan Ina Rachma yang hingga saat ini tetap berkarya dalam keindahan kehidupannya.

Ekspresi diri Ina Rachm di studionya. Ist

About Gatot Irawan

Check Also

Honda Monkey Makin Menyala…

Jakarta, NextID – PT Astra Honda Motor (AHM) menghadirkan Honda Monkey dengan penyegaran terbaru melalui …

Leave a Reply