Home / LifeStyle / Leisure / Art / Para Muda Merebut Warisan Cinta
Ihwan Nugraha dan Malik Ardi saat menyimak koleksi Gerai Kalpataru. (MS)

Para Muda Merebut Warisan Cinta

Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Kreativitas bisa membantu kita  mampu meningkatkan  kualitas hidup. Betapa tidak dengan sikap yang kreativ dapat menguak cakrawala berpikir lebih luas. Semisal antara lain dengan mengasah ide, juga wawasan yang kemudian masuk dalam sebuah proses kegiatan atau pekerjaan.

Langkah ini tentunya dapat  membasuh jenuh dari keseharian kerja. Rutinitas yang mungkin itu-itu saja pada akhirnya dapat dikikis. Yang pasti kreativitas yang disukai dapat membentuk sebuah impian. Betapa tidak, karena kreativitas bisa membantu kita melakukan sesuatu yang biasa dengan cara yang tidak biasa. Di sinilah hidup bisa lebih memaknai menjadi lebih hidup dan tidak monoton. Itu pasti!

Caranya? Lakukan apa yang harus dikerjakan dengan kreativ dan imajinasi yang penuh. “Dengan daya kreatif dan cinta seseorang akan muncul sebagai pemberani untuk memiliki pengetahuan yang tunak” (filsuf Cina Lau-Tzu). Tentu termasuk dalam menyintai warisan negerinya, antara lain tenun bermotif etnik dan keagungan batik tulis.

Andre Colin Hartono sedang mengamati batik gedok yang sekitar berusia 35 tahun. (MS)

Cinta Menciptakan Kejaiban
Menjawab rasa ingin tahu tentaang wastra Indonesia, menggiring rasa mereka untuk mengenakan pada event tertentu di mana mereka harus hadir atau mengisi pertunjukan dan kegiatan.

Walau di samping mengembangkan kreativitas, mereka telah punya status profesi yang cukup aduhai. Sebut saja, dr. Andre Colin Hartono yang hingga kini masih bertugas di RSUD Labuan Bajo, juga Ihwan Nugraha – seorang akuntan, dan Malik Ardi – pemerhati seni dan sastra sekaligus merketing di sebuah perusahaan interior.

Di usia muda yang produktif, mereka tentu memiliki jam kerja yang sibuk tetapi tak menyusutkan keinginannya untuk lebih dalam mengetahui tentang warisan seni budaya bangsa, berupa tenun etnik dan batik tulis klasik. Membanggakan.

Selain profesi yang disandang, Ihwan dan Malik juga menggandrungi dunia sastra lama yaitu berpuisi danga dunia teater, bahkan tak terhindari berada di dunia public speaking, baik sebagai pengajar (Ihwan) dan master of ceremony /MC ditekuni Malik. Sementara Andre sejak lama senang dengan sesuatu yang natural dan sentuhan etnik dan arkelogi. Jadi tak salah jika sejak mahasiswa Andre aktif di alur kemanusiaan dan pendakian gunung.

Kreativitas yang melekat pada jam-jam di luar kantor menggiring mereka untuk mengenakan tenun. Baik itu berupa kain panjang, sarung, ikat kepala hingga syal dan pelengkap fasyen seperti tas. Mengapa? Apa sebenarnya yang terekam di benak para muda ini tentang wastra sebagai warisan bangsa yang tak bergerak.

Ihwan Nugraha mengamati hamparan patchwork motif etnik dari seluruh Nusantara. (MS)

Menurut Malik kain adalah narasi yang ditenun oleh waktu, Di helai kain itu ada filosifi, doa, sejarah, dan identitas bangsa, bahkan perjalanan hidup masyarakat luas. “Ketika mengenakan tenun etnik kita, saya merasa sedang membawa cerita para leluhur. Dengan begitu setidaknya bisa meneruskan kepada generasi leluhur bahwa seni budaya kita maha kaya. Itu awal saya jatuh cinta kepada wastra,” sibak Malik untuk kisah awal mengapa ia jatuh cinta kepada tenun-tenun Nusantara.

Ehm, jatuh cinta terhadap sesuatu itu memang beragam pemicunya. Jika Andre karena ia sering ke alam maka erat kaitannya antara alam dengan karya dari masyarakat di mana yang dikunjungi. “Spesifik sekali, garis, lengkung, titik yang ditenun menjadikan sebuah karya yang berkisah tentang adat istiadat dan habit masyarakat di mana kain itu ditenun. Itu yang paling mendasar buat saya, mengapa saya suka dengan corak-corak dari berbagai daerah kita,” tuturnya sambil mengamati batik gedog yang ia tebar di tangannya.

Malik Ardi menikmati keindahan batik Podhek dari Madura. (MS)

Sungguh, banyak hal yang bisa dilakukan, dari pembelajaran panjang terhadap sesuatu agar bisa memaknai ”naik kelas” untuk menjadi pribadi yang kokoh dalam membidik dan mengkaji sebuah warisan leluhur yang agung. Itu diakui Ihwan yang juga doyan berpuisi. Katanya lagi, “Rekam sejak sejarah dan budaya dari para leluhur tentu kental ada di helai demi helai kain yang ditenun. Upaya perawatan atas tenun  juga menurut saya memunculkan pesona tersendiri pada identitas kain. Utamanya kain kain kuno.”

Menurutnya, kenyataan tersebut menarik untuk dikaji, dan dipahami karena untuk para penenun masa kini ketentuan itu menjadi pakem ketika mereka akan mengesplorasi menjadi desain yang disesuaikan dengan perkembangan jaman. “Saya merasakan sekali jatidiri itu kuat jika mengenakan batik atau tenun, baik di kantor atau ketika tampil di berbagai panggung teater untuk berkesenian,” tegas Ihwan.

Mereka bertiga sependapat, berharap pelestarian tenun dan batik harus semakin dilakukan guna menjaga kelestarian dan jatidiri bangsa, dan ada langkah-langkah masiv dari pemerintah, komunitas, elemen terkait melakukan pengenalan dan inovasi dengan langkah-langkah yang elegan.

Malik lantas memberi saran, tenun jangan hanya dikenakan pada acara resmi namun bisa di berbagai acara atau kesempatan. Jejaring yang lebih luas, semisal antara pencinta wastra, pelaku bisnis hingga lingkungan yang awam terhadap kain itu sendiri. Selanjutnya agar mendapat perhatian generasi muda, dibutuhkan visual sebagai katarsis dan pemantik awal. “Kami kan juga melihat iklan visual antara lain yang membuat perhatian kami muncul terhadap wastra,” timpal Ihwan.

Ihwan lantas memberi contoh bahwa basis pencinta tenun sendiri sangat besar di akun Facebook (FB). Tercatat sampai 82 juta bertaut di dalamnya. “Ini menunjuk pada sebuah data bahwa tenun di Indonesia memiliki cakupan besar.”

Tampil di hadapan mahasiswa di Malang, bagaimana mengenakan kain dengan praktis dan benar. (Dok. Kinto Wardany)

Dengan jumlah yang sangat signifikan itu maka Malik berpendapat, warisan leluhur yang paling kuat bukanlah yang disimpan di lemari atau museum, melainkan ada usaha keras untuk diteruskan pengetahuan itu kepada generasi berikutnya.
Terkesan bahwa generasi muda ini memiliki cinta yang dalam terhadap bagian dari tenun dan kain batik sebagai warisan benda tak bergerak negeri ini.

Mereka menyintai berlandaskan kepada kemerdekaan, ketulusan yang dibungkus dengan keindahan. So, pada dasarnya adalah sebuah upaya penggodokan rasa dan pikir untuk sampai pada kemurnian pengetahuan bahwa negeri ini adalah negeri yang maha kaya dengan budaya dan seni.

Pemahaman dan penerapan seseorang akan kemerdekaan yang sesungguhnya dalam membidik makna sebuah warisan adalah suatu upaya aktualisasi diri secara optimal dalam perjalanan sebuah peradaban.

Pelestarian sekaligus pengembangan tenun merupakan sebuah tantangan bagi banyak pihak, terkait Inovasi demi inovasi yang diciptakan. Seyogianya untuk  menciptakan keberadaan budaya dan seni  semakin dicintai. Dengan ketertarikan generasi muda terhadap hal itu, maka  di kalangan generasi muda tercipta tekad untuk melestarikan sekaligus mengembangkan warisan leluhur antara lain yang berupa wastra ini.

Ketertarikan para muda terhadap motif etnik mulai terasa. Bravo Kinto Wardany. (Dok. Kinto Wardasny)

Gaya Promosi di Kalangan  Generasi Muda
Tak mengenal secara tunak maka tak penuh rasa untuk memiliki. Itu sebabnya dalam usaha memperkenalkan tenun motif Indonesia ini desainer Kinto Wardany mengayunkah langkah menggelar berbagai pergelaran busana di berbagai kota, bertema dari dan untuk para muda. Tak hanya itu Kinto pun dengan cerdas memberi pelajaran untuk mahasiswa di kota Malang, menggelar acara bagaimana cara mengenakan kain dengan praktis dan bisa diterapkan untuk menghadiri berbagai kesempatan.

“Peran kita ini ya membawa mereka menjadi melihat, tertarik, memakai dan menyintai,” demikian alasan Kinto mengapa dia sering melakukan fashion show yang ditujukan untuk para muda.

Ada cerita Kinto yang menarik ketika menggelar acara “Mengapa Harus Berkain” di Universitas Merdeka Malang, baru-baru ini. Para mahasiswa yang hadir ternyata dari lintas universitas di negeri ini. Mereka sangat tetarik. Di saat itulah tergambar antusias para muda dengan kesungguhannya ingin tahu lebih dalam tentang berkain.

“Mereka bertanya asal kain dan bagaimana cara mengenakannya. Saya berpikir keras, masuk dari sini. Beragam wastra Indonesia perlu mereka kenal dengan baik agar menyintainya . Merekalah tonggak penerus itu,” ungkap Kinto dengan semangat.
Seribu langkah ke depan dimulai dengan satu langkah. Maka perlu memperioritaskan hal yang harus dilakukan, tentu dengan semangat dan kecerdasan. Jangan tundak, karena kekayaan wastra nusantara tak terbilang indahnya dan jangan biarakan itu hilang, raih , gengan dan kaji warisan tersebut dengan hati yang penuh cinta.

Motivator kondang Wayne Gretzy mengatakan, sikap menunda merupakan penyakit kronis yang paling umum dan mematikan. Itu bisa menghanyutkan kekayaan yang semula dimiliki.  Jadi, apapun yang dilakukan saat ini akan menentukan kehidupan di kemudian hari. Bukan Begitu?


 

About Gatot Irawan

Check Also

Skutik Sporti New Honda Vario Evo 160 Menggoda Iman!

Jakarta, NextID – PT Astra Honda Motor (AHM) meluncurkan New Honda Vario Evo 160 sebagai generasi …

Leave a Reply