Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Keselarasan antara kecerdasan berpikir dan hati tentu dibutuhkan untuk berjalannya sebuah usaha. Membangun enerji hati dengan asam manisnya pengalaman hidup tentu tak luput pula dalam mengokohkan karya. Patut diakui bahwa pengalaman hidup menjadi guru untuk memiliki rasa empati, baik terhadap mitra usaha, pasar, hingga para pekerja yang menjadi tiang-tiang penyanggah usaha itu sendiri.
Nah, “Rumah Batik Komar” di Cigadung, Bandung yang kondang itu tetap eksis hingga kini. Bahkan terus berinovasi hingga menembus pasar mancanegara. Resesi di masa tertentu dialami, namun kembali bangkit. Itu yang membanggakan, karena lapangan kerja para pengrajin batik bisa dipertahankan, namun siapa yang berada di balik dapur produksi? Adalah Nuryanti Widya (55) istri dari pemilik Batik Komar itu sendiri.
Banyak perempuan pintar bicara, pintar juga menyibukkan diri, namun tak setiap perempuan punya waktu untuk mendengarkan dirinya sendiri dan bertumbuh dari “sesi” mendengarkan itu. Kemudian mengatakan kepada suami dan keluarga bahwa ia menjadi tonggak doa dan bekerja sebagai mitra keluarga. Itulah dilakukan oleh Yeyen, begitu panggilan akrabnya, yang akhirnya membangun “Rumah Batik Komar” bersama suami pada tahun 1998 dan berkembang hingga kini.

Untuk mengetahui sisik melik perjalanan usaha “Rumah Baik Komar,” kita simak perbincangan dengan Yeyen yang menarik, inspiratif bahkan sarat edukasi bersama penulis berikut ini.
Tanya (T): Tolong dijelaskan perjalanan usaha “Rumah Baik Komar” sampai mencapai titik kesuksesan, baik dari sudut ekonomi, pelestarian juga pengembangannya?
Jawab (J): Saya lahir dari kedua orangtua pengrajin batik. Itu yang membawa hidup saya sejak kecil akrab dengan aroma lilin. Juga tumpukan potongan mori atau lawon yang sudah siap dilorod. Bahkan saya melakukan kanji dan membatik dengan emak, uwak, dan yayuk para pembatik. Di samping itu saya diberi kesempatan untuk melipat batik sebelum dipasarkan oleh ibu ke toko – toko batik.
Saya juga diperbolehkan nimbrung ketika berlangsung diskusi untuk melahirkan karya batik yang baru. Ternyata kenyataan itu sangatlah membentuk pribadi saya untuk mengenal lebih jauh dan menyintai batik.

T: Bagaimana tanggapan konsumen khususnya di Bandung tahun ke tahun. Termasuk ketertarikan para muda apakah dalam keseharian, atau acara khusus mereka mengenakan batik hingga kini?
J: Secara umum semakin banyak peningkatan, tapi masih terkesan bahwa pengetahuan tentang batik itu belum teredukasi secara menyeluruh. Janganlah anak muda, di kalangan seniorpun masih banyak yang belum bisa membedakan antara mana yang batik dan mana yang batik tiruan. Contoh, saya hadir di acara orasi profesor di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan dress code batik. Kenyataan, 75% yang hadir mengenakan batik printing atau tekstil bercorak batik tiruan, imitasi batik bahkan fake batik.
T: Bagaimana perkembangan batik di kalangan anak muda?
J: Tentu banyak sekali peningkatan.Hanya saja pengetahuan tentang batik itu sendiri terutama dari sisi produksi masih banyak yang kurang paham. Dalam artian untuk membedakan mana yang batik asli dan mana yang printing.

T: Apakah yang Ibu harapkan untuk pembatik khususnya batik tulis di masa depan, mengingat kini banyak orang berpikir praktis menggunakan komputer untuk menghasilkan batik lebih cepat. Bagaimana nasib batik tulis ke depan, apakah optimis batik tulis ke depan tetap langgeng?
J: Optimis tentu, ya. Hanya saja perekonomian seperti sekarang tentu berdampak kurang baik terhadap karya pembatik tulis. Harapan kita bersama tentunya, semoga kenyataan ini segera bisa diatasi.
Masalah batik diproduksi dengan komputer, tidak masalah selagi proses batiknya tetap menggunakan teknik batik (lilin panas).
T: Batik khas tanah Pasudan tentu Ibu miliki. Bisa ceritakan dari mana dan bagaimana Ibu dan keluarga mendapatkannya?
J: Batik pasudan atau batik priangan yang populer adalah dari Garut dan Tasikmalaya. Saya adalah salah satu pengurus Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) maka terhadap pengrajin batik di 27 Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Barat, saya kenal dan banyak yang saya bantu dengan cara membeli batik mereka dan selanjutnya mengisi atau menjualnya lewat toko-toko batik yang saya miliki.

T: Berapa omzet per bulan atau per tahun dari penjualan batik ini?
J: Lumayanlah dengan 300 perajin batik, namun ketika pandemi, omset anjlok hingga setengahnya. Pengrajin pun berkurang tinggal 200 perajin batik. Setelah pandemi, penjualan di dunia batikpun belum kembali normal. Kalau usaha sekarang bisa berjalan harus disyukuri.
T: Ibu berkecimpung di organisasi batik apa saja?
J: Saya ada di Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) sejak berdiri di Agustus 2008. Ketua umumnya adalah Ibu Sendy Yusuf. Ketua Hariannya Mas Komar (Komarudin Kadiya), suami saya. Dari awal terbentuknya YBJB lebih kepada membantu para pengrajin agar mampu meningkatkan kualitas batik dan penjualannya. Saya dan suami percaya jika kami membantu orang lain, maka Yang Maha Kuasa akan membantu kami.
T: Batik Komar sudah menembus pasar dunia?
J: Rumah Batik Komar melakukan ekspor secara besar besaran tentu tidak, tapi kerjasama dengan para desainer dunia sering dilakukan. Tahun 2000-an sudah kerjasama dengan Milo, desainer Itali yang ada di Bali, dengan Maiyet (adibusana dari Amerika), dan jika di Jepang dengan desainer Kazuyo Togo dan sudah berjalan 15 tahun sampai kini. Kami mengerjakan kimono dan obi yang bahannya dari Jepang dibabar tentunya dengan proses batik tulis.
Ide-ide terbaik akan melahirkan banyak karya, dan kretifitas, dan itu membuat kehadiran dan peran kita menjadi penting di tengah kehidupan masyarakat sosial. Bangunan besar berdiri karena disanggah oleh peran dari sekrup-sekrup yang kecil. Bukan begitu, Bu?

NextID What's Next ?
