Jakarta, NextID – Mempertahankan sebuah persahabatan jauh lebih sulit ketimbang membentuk persahabatan, begitu pendapat sebagian orang. Hanya saja, jika hal itu disadari masing-masing pihak justru dalam menjalani proses itu banyak pelajaran hidup yang disimak sekaligus dinikmati.
Akan menjadi lebih hebat mengartikan benang persahabatan itu, ketika dalam kebersamaan merenda hari dalam kurun waktu yang cukup lama – katakanlah setengah abad. Begini kisah persabahatan itu.
Perjalanan panjang itu dimulai sejak 1960-an saat usia mereka remaja di kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Ketika itu Tanjungpinang masih masuk dalam Provinsi Riau. Kesibukan dan aktivitas masing-masing membuat mereka terpisah kota, namun tali persahabatan itu tetap terpilin kuat.
Alam memiliki mekanismenya sendiri. Di usia senja ini, mereka menyatu kembali bahkan menuangkan hobi masing- masing bersamaan. Merenda hari lewat harmoni gradasi warna benang, seharmoni dan sekuat persahabatan itu sendiri.

Mengapa bisa demikian? Padahal saat ini kepentingan pribadi, tuntutan kebutuhan hidup, menggilas makna saling memberi, saling memperhatikan dan saling menuangkan doa dalam hidup bersilahturahmi. Kita simak kata hati mereka.
Merajut Hari dengan Rajutan
Adalah Tianggur Sinaga (Utet) dan Sylvia Margareta Maria Olivier (Ria) keduanya dibesarkan di kota Tanjungpinang. Tak ada kata kebetulan juga jika kedua opung itu (punya 5 cucu) dan oma itu (punya 2 cucu ) memiliki tanggal lahir, bulan dan tahun yang sama. Mereka pun lulusan SMA yang sama di sana. “Kok bisa gitu ya?” begitu satu hari Ria berkomentar.
Rasanya memang tak ada yang kebetulan. Pesahabatan itu bukan hanya terpilin di antara mereka, namun juga turun ke anak, kemudian ke cucu. Jika dulu mungkin kenyataan seperti ini masih bisa banyak ditemui, namun kesenjangan itu terjadi di tengah kehidupan generasi penerus, walau tak dapat dikatakan punah.
Penulis coba mengintip apa sesungguhnya yang mereka terapkan karena saat tulisan ini dipersiapkan keduanya sedang asyik merajut pelengkap interior, seperti taplak meja, sarung termos, tatakan gelas di samping merajut bagian dari fesyen. Sebut saja topi, berbagai tas hingga syal dan rompi dengan benang unitsuga atau polycrab yang diperuntuk membuatan topi.

Juga dengan benang-benang lainya, yakni polycherri, nilon, dan benang bali, mereka merajut persahabatan sekaligus merenda hari dengan menciptakan karya kreatif bernilai ekonomi. Hebat kan?!
Dari kota Tanjungpinang menuju kota Purwokerto, Ria – begitu aku memanggilnya kini menetap di kota sejuk itu karena semula mengikuti tugas suami. Sementara Utet – begitu ia lebih sering dipanggil – bekerja di Jakarta, sampai masuk usia pensiun.
Perjalanan waktu, dua cucu Utet diterima di Universitas Sudirman, Purwokerto. Gayung bersambut, dia pun “betah menetap” di kota itu. Persahabatan itu kembali terpilin. Dan memang tak ada yang mustahil, semua sudah ada yang mengatur. Di usia senja mereka menapaki dengan kasih dan terus berproduktif.
Mengutip pendapat Abraham Maslow – psikolog ternama Amerika – kasih adalah sebuah proses aktualitas diri yang bisa membuat orang melahirkan tindakan-tindakan produktif dan kreatif, dengan kasih seseorang menyadari bahwa ia akan mendapatkan kebahagiaan ketika bisa memberi kebahagiaan kepada orang lain.
Rasanya apa yang dikerjakan keduanya memang ‘panci ketemu tutup.’ Di samping sebuah pekerjaan jika diminati dengan hati yang sukacita tentu akan menimbulkan enerji kreatif. ”Jika ada yang pesan, kakak baru siapkan. Karena ini by hand. Butuh waktu, ketelitian dan kami ini pensiunan, jadi tidak bekerja dengan modal yang besar. Tapi prinsipnya apapun bentuknya bisa dilakukan,” begitu penjelasan.
Dalam perjalanan waktu, pelanggan karya Utet ini itu ya para sahabatnya ketika kuliah di IPB, rekan di gereja, dan saudara dekatnya.

Sementara Ria, mulai konsen ketika rajutannya berupa tas, rompi dipesan oleh Florens – putrinya yang bekerja di Jakarta. “Dari anak terus menular ke saudaranya yang lain. Biasanya anak-anak juga pesan untuk gift di hari-hari khusus. Terkadang aku harus bikin catatan siapa yang order lebih dulu, itulah yang dikerjakan lebih awal,“ cerita mantan guru biologi dan bahasa Inggris di SMP Katolik Tanjungpinang itu.
Tak bisa disangkal bahwa kemandirian di usia muda tak membuat mereka berpangku tangan di usianya kini. Mereka sejak dulu cinta terhadap pekerjaannya, itu berdampak hingga kini.
Filsuf Yunani abad ke-5, Empedocles mengatakan Idea of Cycles, di mana dunia itu isinya merupakan keadaan yang silih berganti antara kasih dan pertikaian. Tetapi kedua sahabat ini – Utet dan Ria memilih hidup dengan cinta kasih.
Itu bisa dilihat dari Utet. Di satu kesempatan ia menyatu dengan para sahabat membuat puluhan topi dan hasil karyanya diberikan kepada para perempuan penderita kanker. Memang tak mudah untuk konsisten dalam berkarya, namun panjangnya pengalaman dan prestasi mereka justru menjadikan keduanya menginjak bumi.

“Apa yang bisa kami lakukan saat ini adalah karunia Tuhan. Doa-doa kami dijawab Tuhan. Aku diberi pekerjaan atau bagian dari kegiatan hidup yang memang kusuka dan bisa dilakukan,” urai Ria – ibu dengan seorang putri dan dua orang putra itu.
Apa yang mereka sukai membuat mereka bertemu dan melakukan bersama penuh sukacita karena masih diberi waktu untuk berbagi dan dari hasil yang didapat secara materi mereka gunakan lagi untuk kebutuhan cucu dan pelayanan di gereja masing-masing. Jadi bukan hanya benang yang dipakai merajut hingga berbentuk karya, namun mereka bekerja sambil merajut hati dan jiwa saling mengisi di usia senja.
Bisa dipahami jika dari pemikiran keduanya mengenai karya dan hubungan persahabatan diabadikan kepada eksistensi kehidupan manusia di bumi ini, baik yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohaniah atau spiritual.
Kebersamaan dalam kasih diterapkan mereka sebagai potensi paling luhur yang dimiliki manusia sebagai anugerah Tuhan, karena ia merupakan bagian dari “diri” Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain cinta kasih merupakan inti kehidupan manusia dan seharusnyalah membimbing manusia dalam kehidupan.
Keduanya memilih kehidupan yang dijalani dengan kebersamaan saling mengisi. Semoga di 29 September 2025 mendatang, karya indah yang harmoni dari mereka bisa digelar dalam perayaan ke-77 tahun hari jadi bersama. (Martha Sinaga)
NextID What's Next ?
