Home / Auto / Tim Overlander Indonesia Menjejak Atap Dunia!
Dua rider tangguh Indonesia: Rial Hamzah & Adet Vriono menjejak "Atap Dunia." Ist

Tim Overlander Indonesia Menjejak Atap Dunia!

Jakarta, NextID – Setelah sebelumnya berhasil mencapai Lhasa, ibukota Daerah Otonomi Tibet, yang merupakan simbol pintu masuk ke atap dunia pada 17 Mei lalu – tim ekspedisi Indonesia “Ride To The Roof Of The World” yang terdiri dari Rial Hamzah dan Adet Vriono kembali mencatatkan pencapaian penting dengan berhasil mencapai Everest Base Camp North Face Tibet serta kawasan Mount Qomolangma (Everest) dari sisi utara Tibet, China pada 20 Mei.

Perjalanan menuju kawasan Everest ditempuh melalui Gyawula Pass yang berada pada ketinggian sekitar 5.200 meter di atas permukaan laut. Dari titik ini, tim dapat menyaksikan bentangan Pegunungan Himalaya secara utuh, termasuk Gunung Everest (Qomolangma) yang menjulang setinggi 8.848,86 meter.

Namun bagi tim ekspedisi Indonesia, Everest Base Camp ternyata bukanlah garis akhir perjalanan. Justru setelah mencapai kaki gunung tertinggi di dunia tersebut, perjalanan berlanjut semakin dalam ke dataran tinggi Tibet melalui jalur legendaris Route 318 dan Route 317 yang dikenal sebagai salah satu rute overland paling spektakuler, sekaligus menantang di dunia namun juga sedikit tertutup.

Kapan lagi ya, kesempatan tak datang dua kali. Ist

Perjalananan ke Atap Dunia

Dari Shigatse, perjalanan dilanjutkan menuju Nagqu, Baqing, Sog, Dengqen, Chamdo hingga Sichuan. Selama lebih dari satu minggu, tim secara konsisten berkendara di ketinggian 4.500 hingga lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut.

Kondisi tersebut menjadikan ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan menuju Everest Base Camp, melainkan benar-benar menjelajahi kawasan yang dijuluki sebagai “Roof of The World” atau Atap Dunia.

Di banyak titik perjalanan, langit terasa begitu dekat. Udara menjadi sangat tipis, suhu berada di bawah titik beku, dan kadar oksigen jauh lebih rendah dibandingkan daerah pegunungan pada umumnya.

Meski tubuh mulai beradaptasi dengan kondisi ekstrem tersebut, gejala Acute Mountain Sickness (AMS) seperti pusing, sesak napas, kelelahan, dan penurunan stamina tetap dirasakan oleh para rider. Oksigen portabel menjadi perlengkapan wajib yang selalu disiapkan selama perjalanan.

Sepertinya perjalanan yang menyenangkan tapi sesungguhnya penuh tantangan karena selain medannya berat, kandungan oksigen pun tipis. Ist

Menurut Rial Hamzah, tantangan utama riding di Tibet berbeda dengan pengalaman berkendara di kawasan pegunungan bersalju Eropa.“Di Eropa kita bisa menemukan salju yang indah, namun umumnya berada pada elevasi yang jauh lebih rendah. Di Tibet kami menghadapi kombinasi salju, suhu beku, udara tipis, dan ketinggian ekstrem di atas 5.000 meter. Tantangannya benar-benar berbeda dan membutuhkan adaptasi fisik yang serius,” ujar Rial.

Izin Khusus

Selain melintasi Everest Base Camp dan jalur Route 318 serta Route 317, tim juga mengunjungi kawasan Yuexionggou High Mountain Periglacial Wetland Park di Baqing County, Tibet.

Kawasan ini merupakan ekosistem pegunungan tinggi yang terbentuk dari proses glasial dan periglacial selama ribuan tahun, dengan sumber air yang berasal dari pencairan salju dan es pegunungan Tibet. Guide yang mendampingi kami berkata bahwa kawasan tersebut baru akhir-akhir ini dapat diakses wisatawan asing dengan izin khusus.

Bagi tim ekspedisi Indonesia, kunjungan ke kawasan glacier tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan selama menjelajahi dataran tinggi Tibet. Berdasarkan informasi dari guide resmi Tibet yang mendampingi perjalanan, sangat mungkin Rial Hamzah dan Adet Vriono menjadi rider Indonesia pertama yang mencapai kawasan tersebut menggunakan sepeda motor berplat Indonesia.

Di momen khusus kudu ada pembuktian “ilmiah” dengan berfoto, sudah sampai di titik tertentu. Ist

Ekspedisi ini juga menjadi simbol kolaborasi positif antar rider Asia Tenggara. Untuk memasuki China dan Tibet menggunakan kendaraan asing, tim Indonesia bergabung bersama 11 rider dari Malaysia dalam satu grup ekspedisi yang harus melalui proses perizinan dan birokrasi yang kompleks serta memerlukan persiapan berbulan-bulan sebelumnya.

Menurut Adet Vriono, tantangan terbesar dalam perjalanan ini bukan hanya kondisi jalan ataupun cuaca ekstrem, tetapi bagaimana menjaga kondisi fisik dan mental selama berminggu-minggu berada di lingkungan dengan kadar oksigen rendah.

“Setiap hari kami harus beradaptasi dengan perubahan elevasi, cuaca, dan kondisi tubuh. Perjalanan ini mengajarkan bahwa konsistensi, kesabaran, dan kerja sama tim jauh lebih penting daripada kecepatan,” ujar Adet.

Ibadah Kurban

Setelah meninggalkan dataran tinggi Tibet dan memasuki wilayah Sichuan, tim juga berkesempatan melaksanakan ibadah kurban di sebuah masjid di Chengdu bersama rekan-rekan rider Malaysia yang tergabung dalam ekspedisi ini.

Bersama rekan-rekan rider dari Malaysia. Ist

Momen tersebut menjadi pengalaman istimewa bagi Adam Malik, rider Malaysia keturunan Medan, Sumatera Utara. Biasanya ia melaksanakan kurban di Malaysia atau Sumatera Utara. Ini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan, terlebih karena pelaksanaannya dilakukan setelah menyelesaikan perjalanan panjang dari salah satu kawasan tertinggi dan paling terpencil di dunia.

Sebagai Pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bidang Touring dan Komunitas, Rial Hamzah berharap perjalanan ini dapat menjadi inspirasi bagi perkembangan wisata touring dan overland Indonesia di tingkat internasional.

“Perjalanan ini membuktikan bahwa rider Indonesia mampu melakukan ekspedisi lintas negara secara profesional, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan dunia. Harapannya semakin banyak rider Indonesia yang berani menjelajah dunia sambil membawa nama baik bangsa,” ungkap Rial.

Semua Motor Aman

Keberhasilan ekspedisi ini tidak lepas dari dukungan penuh Ikatan Motor Indonesia (IMI) yang sejak awal memberikan dukungan dengan CPD Carnet terhadap misi Ride To The Roof Of The World sebagai bentuk promosi positif kegiatan touring Indonesia di tingkat internasional

Bagian perjalanan ini banyak dijumpai lokasi keren, sekaligus untuk menandai jejak. Ist

Selama ribuan kilometer perjalanan melintasi Malaysia, Thailand, Laos, China, Tibet hingga kembali ke Asia Tenggara, seluruh sepeda motor berhasil menyelesaikan ekspedisi tanpa mengalami kerusakan mayor maupun kendala teknis yang mengganggu perjalanan. “Pencapaian tersebut menjadi bukti pentingnya persiapan matang, kualitas perlengkapan yang digunakan, serta dukungan seluruh pihak yang terlibat dalam ekspedisi,” sebut Rial dan Adet.

Ride To The Roof Of The World bukan hanya perjalanan menuju Everest atau Tibet. Ini adalah perjalanan membawa semangat petualangan Rakyat Indonesia ke salah satu kawasan paling tinggi, terisolasi, dan paling menantang di muka bumi. Saat ini Rial dan Adet masih di Laos untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Indonesia.

About Gatot Irawan

Check Also

TGRI Kembali Raih Podium Pertama Kelas RC2 Kejurnas Sprint Rally 2026 Seri ke-2

Jakarta, NextID – Setelah mendominasi dua seri sekaligus pada gelaran pembuka Rally Nasional di Kalimantan …

Leave a Reply