Home / Auto / “VW Camat” Resmi Terwadahi via Volkswagen Thing Club
Menjelang deklarasi pendirian Volkswagen Thing Club di Black Stone Garage, Jakarta, Jumat 9/6). (GI)

“VW Camat” Resmi Terwadahi via Volkswagen Thing Club

Jakarta, NextID – Ini serius, dulu jenis mobil itu belum punya wadah. Tapi kini sudah, dan yang unik pendiriannya gegap gempita di Black Stone Garage, Jakarta, Jumat (9/6). Dulu jenis kendaraan ini banyak berseliweran di pojokan terpencil Tanah Air via para Camat yang memerintah “di daerah kekuasaannya.” Dengan alat transportasi itu mereka bisa bergerak leluasa ke lokasi wilayah kerjanya.

Para Camat itu doeloe memang terkesan berwibawa dengan mobil dinasnya itu. Dan kini seiring perkembangan jaman, populasinya nyaris punah, tidak jelas alias abu-abu.  Tapi ada orang-orang yang terpanggil – pastinya para pecinta mobil klasik di Indonesia, berkumpul dan diskusi untuk menyelamatakan keberadaan “VW Camat” itu.

Inilah sebagian dari pendiri Volkswagen Thing Club (VTC). (GI)

Mobil itu kebetulan memang belum punya wadah sebagai tempat bernaung bagi pemiliknya, di mana pun. Mendengar proses pembentukan unik dan tanpa tedeng aling-aling. Soal nama yang dipilih mengapa bukan VW Safari atau VW Camat, pastinya sudah melalui proses alot. Pemilihan nama itu pasti kuorum dan sudah sah: Volkswagen Thing Club (VTC).

Pertanyaan soal nama itu memang dibeberkan tuntas oleh para pendiri VTC yakni para pemilik dan pemakai Volkswagen Thing (nama Thing merupakan sebutan populer di Amerika untuk VW Safari/Camat atau type 181/182). Kepopulerannya tak hanya di Indonesia tetapi juga di sejumlah negara. Di Inggris disebut Trekker dan di Jerman sebagai negara asalnya dikenal dengan nama Kurierwagen.

VTC saat ini barulah 12 anggota, unik ya. Para pendirinya 10 orang terdiri Bambang Soesatyo (Bamsoet), Pudji Hartanto Iskandar, Gregory Ray, R. Adi Yuniadi, Arief Gunawan, Liauw Lie Kim, Dito I. Mahardika Jaya, Riono Maulana, Fajar J. Adi, dan Riki Maulana.

Di salah satu sudut, terparkir santun 2 VW Safari. (GI)

Bamsoet selaku Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) yang juga Ketua MPR RI jelas mengapresiasi terbentuknya VTC. “Selain memperkuat soliditas, kehadiran VTC juga membantu pemerintah dan Polri dalam mewujudkan keselamatan berkendara. Komunitas ini pun pasti menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan pengalaman terkait perawatan dan pemeliharaan Volkswagen Thing,” ujarnya.

Melalui wadah ini, menurutnya, para anggota VTC juga bisa melakukan berbagai usaha bersama di antaranya mendirikan workshop dan service station yang representatif untuk memberi pelayanan yang terjamin dalam merawat dan memelihara kendaraan milik para anggota.

“Keanggotaan dan spirit kebersamaan serta kultur organisasi VTC harus bersifat inklusif dan merangkul semua golongan. Dengan begitu bisa menjadi rumah besar bagi seluruh pecinta mobil VW Thing, tanpa adanya sekat sosial-ekonomi yang membatasi. Sekaligus sebagai klub otomotif yang mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan, semangat solidaritas, brotherhood, dan gotong royong,” tandas Bamsoet.

Inilah para pendiri lengkap berfoto di salah satu VW Safari. (GI)

Diburu Tapi Langka

Kini memang VW Safari sudah langka, bahkan cerita-cerita yang terekam mirip dongeng. Bagaimana mereka memperoleh saat “berburu” model itu, seru kisahnya. Mencari hingga ke pedalaman pun, kalau tak berjodoh, ya tangan hampa. Tetapi karena dana tersedia dan berjodoh maka sampai harga Rp 300 juta pun diboyong pulang. Kini VW Safari berwarna kuning milik Bamsoet itu terparkir gagah dan seksi.

Sore itu di parkiran Black Stone Garage, berjejer rapi VW Camat/Safari milik anggota VTC. Mengulik kisah satu persatu mobil itu jelas menarik dan bisa menjadi buku tersendiri yang mengharu biru hingga menjadi sosok yang sekarang ini.

Populasi mereka sebenarnya di tempat wisata, semisal di kawasan Borobudur atau Bali, cukup banyak. Karena boleh jadi untuk pertimbangan bisnis, mesin dan perlengkapan tertentu telah berganti “made in Japan.

Inilah VW Camat yang gagah milik Bamsoet. (GI)

Saat deklarasi pendirian VTC memang tercetus akan merangkul anggota baru ke banyak daerah. Cara yang terdekat adalah membangun informasi cepat tentang klub ini via situs resmi atau sosial media sehingga ada ketertarikan untuk bergabung. Sehingga jika nanti telah banyak anggota, komunitas ini otomatis banyak diuntungankan.  

Diakui pula, VW Thing ini walau berserakan, sosoknya kurang akrab buat sebagian orang. Boleh jadi karena populasinya tak sebanyak VW Kodok alias VW Beetle, atau VW Kombi atau VW T2.

Menurut sejarah, VW Thing adalah kendaraan militer kecil yang diproduksi oleh VW dari 1969 – 1983. Mobil ini berbasis VW Type 1 (Beetle), dan merupakan kelanjutan sekaligus perbaikan dari Volkswagen Kübelwagen – kendaraan militer yang dipakai Jerman di Perang Dunia II.

Tak mau kalah, bergaya di antara “The Thing.” (Octo Budhiarto)

About Gatot Irawan

Check Also

Tank 500 Diesel Hadir di IIMS 2026, Dijual Mulai Rp 799 Juta!

Jakarta, NextID – Inchcape GWM Indonesia resmi meluncurkan SUV Tank 500 Diesel di Indonesia International …

Leave a Reply