Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Menyaksikan gelar pameran lukisan dan peluncuran buku Trilogi Puspa Hati karya perupa Antaresa Hendita di Galeri Mitra Hadiprana, Kemang, Jakarta Selatan yang digelar 22-27 September 2024, menyenangkan batin. Menyimak lukisan Dita – begitu sapaan akrabnya, menimbulkan betapa dalam dan luasnya imajinasi manusia yang dihadiahi talenta oleh-Nya.
Betapa tidak, sebanyak 64 lukisan yang ia ketengahkan dari sekitar 300 ratusan lukisan karyanya yang secara khusus membidik bunga sebagai obyek utama itu, diyakininya karena semata hikmat tercurah dari Sang Maha Karya.
Bunga sebagai objek memiliki banyak sisi menarik, jika ditilik dari benang sari hingga kelopak. Atau dari kuncup hingga mekar, bahkan proses tanaman itu muncul sampai layu lalu gugur. Terlebih lagi filosofi dari bunga itu sendiri maha luas. Begitulah menurut alam pikir Dita, ibu dari 3 putra.

Bunga Simbol Kehidupan
Bunga rasanya menjadi pilihan banyak seniman untuk menuangkan karya lukisannya. Dari abad 18 hingga kini, bunga tak putus dan tak lekang menjadi pilihan mereka, tentu dengan gaya dan interprestasi yang berbeda. Sebut saja Roses of Heligabalus karya Lawrence Alma-Tadema yang dibuat tahun 1888. Juga Claude Oscar Monet yang dikerjakan tahun 1900 yang hingga sekarang dapat dilihat di Musee d’orsay, Paris. Karya itu diberi judul Irises in Monet’s Garden.
Di bumi pertiwi ini pun para seniman lukis tak kalah banyak yang membidik bunga untuk melahirkan karya-karya akbar mereka. Kartika Affandi dengan bunga lotusnya, atau Dyan Anggraini, juga Yashumi Ishii. Sebut lagi, Ni Ketut Ayu Sri Wardani dengan bunga mataharinya. Masih sederet nama lain.
Nah, beberapa tahun terakhir muncul nama Antaresa Hendita. Bunga-bunga yang menjadi inspirasinya menjadikan hamparan “alam semesta” dalam dirinya. Bunga yang ditorehkan dalam beragam nuansa ini lantas ditarik juga ke lembaran literasi yang berupa Buku Trilogi Puspa Hati yang diberi judul, Puspita, Sekar dan Kusuma, dengan penerbit Afterhours Books.
Ketika disinggung dengan obyek lukisan yang dipilih, Dita menjelaskan, ”Bunga itu sama dengan proses hidup ini. Ada sisi ketahanan yang kuat, namun juga rapuh. Dalam kerapuhan itu tetap ada nilai fananya. Diterpa hujan, atau panas, bunga akan tetap bersemi. Bahkan kalaupun pohonnya diinjak-injak orang di sebuah taman, bunga tetap mengeluarkan aroma harumnya.”

Menurutnya, jika kembali pada kehidupan ini, apakah kita juga mampu seperti bunga. Kemelut hidup melanda, namun kita tetap mau bersyukur kepada Sang Pencipta? “Ini yang saya renungkan. Bagaimana Tuhan memelihara ciptaan-Nya yang luar biasa,” terangnya.
Dita yang jebolan FISIP Universitas Indonesia itu lantas memberi contoh, bunga bakung saja yang tidak seindah jubah Raja Sulaiman, namun tetap dipelihara Tuhan. Lagi sebuah pernyataan, kehidupan manusia tak bisa dipisahkan dengan alam semesta. Alam semesta tentu tak mungkin dipisahkan dari pencipta-Nya.
Pendapat senada muncul dari perempuan pelukis, Ni Ketut Ayu Sri Wardani. “Bunga itu adalah sebuah simbol pemeliharaan Tuhan.”
Hitam dan Emas
Perupa dan Kurator Amuya Gallery, Adek Dimas Aji Saka berkomentar, lukisan Dita menggambarkan keindahan yang bernilai, sekaligus membayangi harmoni yang kuat dalam kehidupan yang penuh misteri dan tantangan. “Dalam lukisannya, paduan warna hitam dan emas menciptakan kombinasi kontras sekaligus harmoni yang kuat, sehingga karya seni itu yang memancing pikiran dan perasaan pemirsa,” sebutnya.

Selain itu, menurut Dimas lagi, penggunakan warna hitam dan emas pada lukisan, juga dapat mengingatkan kita pada konsep dualitas dalam hidup. Seperti kebahagian dan kesedihan, hidup dan mati, serta terang dan gelap. “Lukisan-lukisan ini mengajak kita untuk merenungkan perbedaan dan kontradisi dalam kehidupan, serta bagaimana semua elemen tersebut bisa bersatu dalam sebuah keindahan yang unik,” ujarnya.
“Secara keseluruhan, lukisan bunga berwarna hitam dan emas ini merupakan karya seni yang memikat dan penuh makna. Perpaduan warna yang kuat inilah yang menciptakan sebuah karya yang tak hanya enak dipandang mata, namun juga menggugah pikiran dan perasaan kita tentang keindahan, sekaligus misteri hidup,” tandasnya.
Madu dan Lebah
Khalil Gibran dalam bukunya Filosofi Cinta menulis sebuah analogi tentang hubungan antara alam dan manusia. Ia menulis, walau pun lebah hidupnya tergantung pada madu yang dihasilkan oleh bunga, namun cara lebah menghisap madu tidaklah sampai merusak bunga. Sebaliknya bunga merasa kedatangan lebah adalah kebutuhan tertentu karena dengan hisapan madu maka bunga memakai kenyataan itu untuk dapat mengatur harmoni dalam dirinya.

Keyakinan Dita untuk timbal balik dalam filosofi bunga itupun akan jelas dirasakan dari lembaran bukunya. Dita menulis, “Apakah kita seperti bunga? Yang walaupun tidak memilih sendiri tempatnya namun tetap mekar di manapun ia ditanam, bahkan memberkati semesta dengan keindahan dan keharumannya.”
Di lembaran yang lain Dita menulis, Tuhan tidak pernah menjanjikan langit yang selalu cerah dan bunga bermekaran indah. Jika diteruskan kalimat ini berujung pada namun penyertaan Ilahi tak akan pernah berujung, karena Tuhan bersifat transender, juga imanen. Tuhan ada di mana-mana.
Itu juga yang ditulis Gibran dalam bait puisinya. “…Kau akan melihat-Nya berjalan di antara mega, menjulurkan tangan-Nya dalam guntur datang melalui hujan yang turun. Kau akan melihat-Nya tersenyum di antara bunga-bunga lalu membumbung tinggi sambil melambaikan tangan di pucuk pepohonan…”
Pendapat yang senada tentang bunga muncul dari seorang art director sekaligus pengusaha, yang cinta bunga sejak lama: Ruth Tamzil. “Hampir di semua karya saya mengetengahkan bunga sebagai properti. Bunga itu akan mengalami proses panjang untuk bisa mekar. Proses itulah menjadi sebuah cerita. Bagaimana ia ditempatkan, bagaimana ia dirawat atau mungkin malah sebaliknya.”
“Saripati cerita itu yang sama persis dengan kehidupan manusia. Hidup yang dipelihara akan berbunga indah, atau sebaliknya. Filosofi bunga itu luar biasa. Sebuah pelajaran yang tak tertulis namun benar adanya. Saya kira itu sebabnya bunga hadir sejak dari manusia lahir hingga kembali keribaannya. Bungapun sangat erat kaitannya dengan para seniman. Mau seniman apapun itu. Ini pasti menyangkut karya mereka,” tegas perempuan asal Bandung itu.

Puspa dari Antaresa Hendita
Salah satu bagian ruang pamer di galeri itu memang penuh dan rapi dengan lukisan berseminya bunga karya Dita. Terasa aksen komunikasi yang ingin ia tebar melalui susunan harmoni dari guratan lukisan dan buku sebagai jembatannya. Keindahan karya memang pada akhirnya menjadi gerbang pertemuan antar para insan. Keelokan adalah taman penuh warna yang sarat rasa syukur di tengah kehidupan pencinta damai.
Klasifikasi ini menunjuk pada kenyataan betapa baiknya perilaku hidup harmoni dan cinta kasih dalam diri seseorang, dan semua itu belumlah lengkap jika karyanya belum diejawantahkan sebagai ungkapan rasa syukur pada yang memberi hidup. Filsuf Rumi mengatakan, cinta kasih itu tak hanya pada manusia namun juga ada dalam seluruh alam semesta. Nah, bagian dari alam semesta itu ada pada karya lukis Dita yang dalam dua hari berpameran telah terjual kurang lebih 30 lukisan dan 6 lukisan yang dilelang untuk charity.
Ehm, melihat kenyataan itu muncul pertanyaan apa tujuan Dita berkesenian? “Saya ingin mengaplikasikan apa yang Tuhan percayakan atau berikan kepada saya, yaitu talenta. Sekalipun saya telah mengapresiasi diri terhadap itu tapi rasanya kok belum apa-apa yang saya lakukan untuk kebaikan dan karunia Tuhan terhadap perjalanan hidup saya dan keluarga.”

Pendapat itu bisa dipahami karena memang pada dasarnya segala sesuatu itu berasal dari-Nya dan patutlah bersyukur kepada-Nya. Tentu melalui tindakan positif dan kepekaan yang cerdas. Betapa bahagiannya seseorang yang berkarya dan memang ia menyukai pekerjaannya itu. Maka bisa ditebak hasilnya.
Walau tak ada gading yang tak retak dalam gelar sebuah event. Acara ini akan mungkin menjadi salah satu tempat kunjungan pilihan bagi penyuka lukisan dan pencinta buku jika sebelumnya disediakan ruang dialog antara penyelenggara dengan para sahabat pers, sehingga sahabat penulis berita bisa dengan gamblang mencurahkan tulisannya kepada publik dari hasil wawancara sebelum acara dimulai. Lebih hikmat juga jika pemilihan acara disajikan dengan rentang waktu yang terpisah.
“Ya, agar materi yang disajikan di pameran itu lebih terfokus dan komunikatif. Tetapi, Dita perlu diberi ruang dan waktu untuk terus berkarya,” begitu pendapat wartawan senior Yusuf Susilo Hartono yang sekaligus seorang ahli sketsa yang menyempatkan hadir di acara itu.
(Foto-Foto: Mario Ikada dan GI)
NextID What's Next ?
