Jakarta, NextID – Dalam kaitan memperingati Hari Ulos Nasional 2025, Jiwa Perempuan Indonesia (JIPINDO) yang dimotori Purnama Sitompul menggelar agenda acara di Jakarta. Pada kesempatan itu agenda kerja kelompok ini dituangkan dalam beberapa bagian. Yakni, peragaan busana karya dari beberapa desainer, dilanjutkan dengan temu wicara yang seyoganya akan dipaparkan oleh budayawan sekaligus desainer ulos, Torang Sitorus namun keberadaannya di Medan tengah dilanda banjir yang membuat kolektor ulos yang satu ini berhalangan hadir. Sebagai nara sumber posisinya digantikan oleh Martha Sinaga.
Pada kesempatan itu juga alunan permainan angklung dari kelompok IMAKGI menciptakan suasana seakan berada di tano Batak. Perhelatan petang itu ditutup dengan alunan beberapa lagu bahasa Batak lewat vokal Ronnie Sianturi.
Ini kali yang kedua JIPINDO menggelar agenda kerja mereka. Dalam kesempatan terpisah Purnama menjelaskan bahwa tahun 2022, “perayaan kecil” hari ulos sudah dilakukan namun perayaan dalam skala nasional baru dilakukan pada tahun 2023. Pada 29 November 2025, perayaan Hari Ulos Nasional itu kembali dilakukan, yang juga diisi juga dengan bazar karya dari UMKM.

Sikap kerja cerdas kelompok ini antara lain melestarikan sekaligus mengembangkan tenun Batak, Ulos . “Kami berharap, dengan terus menerus ulos diangkat kepermukaan, bukan hanya masyarakat dalam negeri yang mengenakan namun juga masyarakat luar negeri. Dengan begitu otomatis memberi income lebih baik untuk para penenun. Tenun ulos bukan lagi hanya milik dari suku Batak. Ini membahagiakan,” papar Purnama Sitompul.
Kreativitas Mengubah “Kebuntuan” Menjadi “Peluang”
Menu acara disuguhkan kurang lebih tiga jam, so pasti dipenuhi oleh para ibu. Bisa ditebak mereka dari golongan mana, tapi yang terpenting adalah para puan tersebut tertarik dengan tenun Batak khususnya dan tenun nusantara pada umumnya. Mereka menikmati suguhan yang memang dikemas dengan “roh” Batak. Walau mungkin tak semua juga paham dengan literasi atau bahasa Batak. Tak soal, yang pasti mereka menikmati apa yang disuguhkan. Itu terbukti, tidak ada yang beranjak dari tempat duduk hingga acara berakhir jelang senja.

Kecerdasan hati dan daya pikir yang selaras tentunya mampu menguak kebuntuan menjadi peluang. Betapa tidak, di saat itu pun ada peluang bisnis yang berjalan. Setidaknya dari karya para desainer. Kinto Wardani salah satu contohnya. Memadukan ulos dengan lurik polos dan lurik bermotif, atau ulos dan tenun Badui. Peluang kreatif ekonomi diangkat kepermukaan melalui motif etnik tenun Indonesia.
Etty Nafis hadir dengan kebaya panjangnya. Tangan-tangan kreatif, kekayaan imajinasi berpadu sehingga terkesan memang keluar dari pakem yang ada, atau desain yang konservatif. Dunia kreatif memang tak terbatas, menyentuh setiap sudut kehidupan, selanjutnya mengubah gaya hidup yang kita jalani setiap hari. Dan itu ada pada gaun-gaun siap pakai yang disuguhkan saat itu. Asyik bukan?
”Ke depan JIPINDO tidak hanya mengetengahkan tenun ulos, namun kami juga akan merambah dengan agenda kerja yaitu dengan mengangkat tenun dengan motif-motif etnik dari daerah yang belum terpublikasi. Doakan saja,” tegas Purnama Sitompul.
Ann Landers – kolomnis ternama mengatakan, “Hanya orang kreatif bermental kuat dan cerdas dalam bertindak yang mampu menangkap sesuatu yang masih tersembunyi dan membawanya kepermukaan.”

Tumbuh Cinta karena Filosofi
”Ijuk pangihot ni hodong, ulos panghingot ni holong” (Jika ijuk adalah pengingat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengingat sayang antara sesama). Kalimat mengingat ini dipakai Martha Sinaga untuk membuka temu wicara sore itu. Ulos memang helai kain pengikat jiwa, keharmonisan, kesetaraam dan pedamaian dalam tata kelola kehidupan masyarakat Batak.
Ikatan itu diperjelas dengan apa yang disebut dengan Dalian na Tolu. Dalian berarti tungku na tolu berarti tiga. Tiga kaki yang menyanggah keharmonisan unsur kehidupan manusia Batak itu dari Somba Marhula-hula (keluarga pihak perempuan, para tetua yang harus dihormati. Menghormati pihak perempuan karena merekalah yang akan meneruskan keturunan).
Dari kenyataan itu, peran ulos, makna ulos, filosofi ulos itu diterapkan. Dalam perjalanan pengembangan tenun ulos tentu ada aturan main yang tak bisa tidak dipahami. Mengapa? Mulai manusia Batak itu dikandungan Ibu hingga wafat, ulos itu tak pernah lepas. Akar itu yang menjadikan ulos sebagai “kehidupan” turun temurun. Simbol-simbol tenun yang satu ini hendaknya dipahami dengan tunak. Kenapa demikian? Karena nilai ulos bukan ditentukan dari motifnya namun filosofi yang mengakar di dalamnya.
JIPINDO berhasil mengubah perhelatan siang hingga senja itu seperti kehidupan di Tano Batak. Betapa tidak, mulai dari busana pengunjung hingga makanan pun disajikan resep dari Tapanuli yang biasa menjadi santapan masyarakat Batak. Lapet (makanan ringan yang terbuat dari tepung beras, dicampur kelapa dan gula merah) contohnya.

Sesi Mendengarkan
Inovasi demi inovasi yang dilakukan para puan untuk tenun Indonesia tentu menciptakan seni dan budaya negeri semakin kondusif. Bagaimana pun hari kemarin adalah masa lalu yang harus disempurnakan di masa kini, dan masa kini menjadi jalan yang terbuka untuk masa mendatang. Sebagai konsumen atau pengguna hasil ekonomi kreatif perlu mencermati makna pengembangan jaman. Kesinambungan ini menciptakan pemahaman terbaik para puan untuk sebuah nilai pengembangan diri. Kreatif dengan insiprasi yang inspiratif untuk karya setidaknya yang menyangkut perkembangan tenun Indonesia.
Dengungan senada dengan itu telah dikatakan oleh pendiri JIPINDO, Purnama Sitompul. Dia mendengar tentang kreatif ekonomi yang memang dibutuhkan pasar yang lebih luas. “Itu sebabnya saya merangkul mereka di setiap JIPINDO menggelar acara,” sibaknya.
Memang tak dipungkiri saat ini lebih banyak manusia yang suka bicara ketimbang mendengar, padahal dari sesi mendengar itulah maka kreativitas lebih terkuak lebar, dan hasil akhir bisa menembus pasar ekonomi yang lebih menjanjikan.
Saat ini banyak orang pintar bicara, pintar menyibukkan diri, dan pintar mengkritik pihak lain, namun tak setiap manusia punya waktu untuk mendengarkan dirinya sendiri, apalagi mendengar kebutuhan pasar. Padahal dengan mendengar dirinya sendiri maka akan bertumbuh dari “sesi mendengarkan” itu.
JIPINDO sudah membuka kesempatan untuk mengenal tenun lebih dalam lagi, walau harus diakui “kebutuhan” untuk mendengar dari tujuan acara digelar masih sekian persen. Mungkin karena menu padat yang harus disajikan, sementara waktu relatif hanya dua jam. Maka panitia dan para undangan berpadu dengan menggunakan kesempatan yang ada. Bagaimana pun itu, horas untuk para puan. Kreativitas memudahkan kita untuk mengungkapkan cinta. (Martha Sinaga)
NextID What's Next ?
