Home / LifeStyle / Leisure / Art / Tuty Cholid 40 Tahun Berkarya di Dunia Fashion
Tuty Cholid - perancang busana yang konsisten di bidangnya. Ist

Tuty Cholid 40 Tahun Berkarya di Dunia Fashion

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Hasil karya seni seorang desainer tiada muaranya. Betapa tidak, karena semua akan terus bergulir seiring penjalanan waktu. Itu sebabnya para seniman di bidang busana ini selalu hadir dengan “keliaran” karyanya. Bisa dipahami jika tidak demikian maka karya mereka hanya jalan di tempat.

Desainer yang tak pernah surut berkarya salah satunya adalah Tuty Cholid (67). Nama itu mulai muncul di altar pergelaran busana tahun 1986. Perlu diberi apresiasi ya karena dalam rentang waktu yang panjang, ia konsisten menggenggam karirnya. Karya yang ditebar tak hanya untuk konsumen dalam negeri, namun juga insan busana di luar negeri. Desain di atas sutra batik ia memiliki pelanggan di negeri Sakura –  tepatnya ia menggelar busananya di torseba kelas atas di Takashimaya di Tokyo dan Yokohama, dan di New York. Karya Tuty diminati kalangan the have, dan itu dalam waktu yang cukup lama.

Dia memang memenuhi permintaan pasar di luar negeri,  namun tetap juga menjawab  kebutuhan pasar di dalam negeri. Di samping itu ia tetap konsisten mengikuti pergelaran di berbagai ruang dan waktu. Ia bergabung dengan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) yang diketuai oleh Syamsidar Isa. Ketika itu Tuty Cholid bersama rekan seprofesi, seperti Stephanus Hammy dan Didik Budiardjo.

Sebagian karya Tuty Cholid dengan desain yang elegan. Ist

Belum lama ini, tepatnya Kamis – 26 February 2026, kembali Tuty tampil dengan desain yang elegan. Pengadaan busana itu untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Kali ini ia bermitra dengan perusahaan garmen Intresse – Bandung, di bawah tangan dingin Fanny Kurniawan.

Apa yang dikerjakan Tuty selama ini? Mengapa ia memutuskan untuk bermitra dengan Intresse? Bagaimana pandangan desainer senior ini terhadap perkembangan dunia fashion negeri ini? Selanjutnya apa yang diharapkan agar pangsa pasar fashion tidak kalah dengan merek busana  luar negeri?

Simak bincang-bincang dengan Ibu tiga putra kelahiran Mojokerto itu.

T: Sejak berkiprah di dunia fashion atau busana memakai brand Tuty Cholid?
J:  Ya, semula semua karya saya menggunakan sutra batik. Tapi di industri sekarang saya berkolaborasi dengan Intresse, sejak pertengahan November 2025. Yang sekarang busana kami bisa didapatkan di beberapa mal besar seperti Metro, Seibu, Sogo, PI Mall, dan Metro Senayan. Saya mendesain busana perempuan dengan sentuhan natural, yang tetap elegan dengan aksen bordiran.

Lagi, sebagian karya busananya yang tetap menarik dikenakan di berbagai kesempatan. Ist

T: Rasanya cukup panjang waktunya Mbak Tuty Cholid berkarya di atas sutra batik? Sekarang mendesain di atas bahan yang digarap garmen Intresse, bisa dijelaskan?
J: Sejak lama saya memang tertarik dan menyukai motif tenun etnik Indonesia. Itu sebabnya karya-karya saya sering mengetengahkan motif etnik Indonesia,  dan high quality. Kebetulan Intresse memproduksi tekstil yang sesuai dengan karakter saya. Bahannya terbuat dari serat alam (cotton) kalau pun di-mix dengan rayon,  dan bambu.

Motifnya, kita bisa lihat saat ini, diambil dari seni budaya dan tradisi provinsi Riau. Warna kain sangat lembut, natural dan cantik jika dikenakan. Saat ini saya benar-benar fokus dalam penggarapan busana, sesuai dengan market Intresse. Karena saya sudah tidak lagi harus memikirkan manajemen.

T: Berarti apa yang ditawarkan Intresse by Tuty Cholid?
J:  Ya benar. Jika sutra, tenun dan batik brand Tuty Cholid.

Usai acara fashion preview, Tuty Cholid (ketiga kanan) berfoto bersama dengan jurnalis dan fashion designer senior di Metro. Ist

T: Untuk busana yang menggunakan bahan dari Intresse apakah khusus hanya busana kaum wanita, dan diperuntukan Lebaran?
J: Dipersiapkan memang untuk sesi Ramadan dan Idulftri. Setelah Idulfitri tentunya menyiapkan untuk pertengahan tahun 2027. Semoga.

T: Pengalaman 40 tahun berprofesi sebagai perancang busana, tentu mengalami pasang surut ya, karena tentu tak semata karena biaya operasioanl namun juga generasi berikut terus bermunculan dengan karya yang spetakuler? Bagaimana menyikapinya?
J: Benar sekali. Market saya di New York, itu sebuah butik  kaum the have. Khusus saya siapkan sutra batik motif minimalis. Juga di Takashimaya, Isetan – Jepang, sudah cukup lama. Ini juga khusus silk batik/waeving silk dan embrodery. Juga di Tokyo, Osaka dan beberapa kota di Jepang. Pada 2018 saya cabut karena  konsumen di Jepang daya belinya mulai menurun.

T: Pendapat Mbak Tuty untuk beberapa tahun terakhir bagaimana dengan karya anak bangsa dalam hal fashion?
J: Tentunya harus punya rasa bangga untuk mengolah wastra Nusantara ke pasar global. Nah kenyataan ini sudah seharusnya generasi muda banyak melakukan riset dan juga pengembangan. Mulai pengolahan tekstil, produksi secara keseluruhan, juga sasaran pasar yang harus diperjelas. Itu penting agar hasil karya itu bisa diminati dan perputaran biaya operasional bisa diselesaikan sesuai target.

Tuty Cholid dengan salah satu karyanya nan indah. (MS)

T: Jika dilihat karya Mbak Tuty Cholid kali ini lebih elegan, natural dan simpel namun aksen kuat juga ada di embrodery. Pemilihan warna kain juga natural, benarkah demikian?
J: Ya, ya. Kami saling isi dengan pihak Intresse namun saya juga mengarahkan agar desain yang disepakati sebaiknya multi fungsi. Sehingga busana bisa dikenakan untuk ke kantor, kegiatan di keseharian, atau mau mengenakan kerudung or jilbab juga tak salah. Itu yang bisa ditemui di Intresse by Tuty Cholid. Untuk warna sangat natural, resik dan apik. Pas saja dikenakan di berbagai kesempatan.

T: Sepanjang waktu puluhan tahun Mbak Tuty pernahkah fakum berkarya, atau bagaimana nih?
J: Berhenti sama sekali, tidak. Namun produksi memang dikurangi, karena saya masih ada kegiatan lain yaitu pembinaan UMKM di Wastra dan fashion berjalan baik. Tapi begini ya, dikatakan berkurang juga tidak, hanya ingin fokus melakukan bisnis yang benar. Contohnya, berkolaborasi dengan Intresse yang harus nyemplung di industrinya. Sementara yang hade made sutra batik juga lagi diusahakan mencari partner. Saya tidak ahli bisnis, namun terus belajar untuk mengubah konsep agar jelas dan dalam berkarya tidak pupus.

Memang, keberhasilan seseorang itu mengacu pada sebuah kinerja sesuai dengan perkataan, dan akhirnya menjadi tolok ukur kredibilitas seseorang. Demikian juga Tuty Cholid. Rentang waktu 40 tahun ia tak keluar dari jalur profesinya dan karyanya telah dikenakan lapisan masyarakat dalam dan luar negeri.

Itu mengganggumkan. Ia dengan jelas mengatakan apa yang ia maksudkan dengan profesinya itu, dan mengharapkan apa yang ia inginkan. Keinginan itu kini menjadi kenyataan karena ribuan potong gaun perempuan dihasilkan dari kerja cerdasnya berkolaborasi dengan garmen Intresse. Begitu kan Mbak Tuty Cholid…?!

Anggunnya balutan busana dengan aksen bordiran yang kental. (MS)

About Gatot Irawan

Check Also

Changan Automobile Cetak Sejarah Raih Lisensi Resmi Autonomous Driving L3

Jakarta, NextID – Changan Automobile mengukuhkan posisinya sebagai pionir dalam industri otomotif global, dengan menjadi …

Leave a Reply