Saturday , 31 January 2026
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Tenun Negeri Milik Siapa?
Peragaan kain secara unik oleh Poppy Yudith, pelaku dan pecinta seni dari Yogyakarta. Ist

Tenun Negeri Milik Siapa?

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Tak kenal maka tak cinta. Begitulah kesan yang bisa ditilik melalui heritage negeri yang berupa tenun bermotif etnik Indonesia. Dari rasa cinta yang utuh terhadap seni wastra dan budaya negeri maka akan muncul usaha untuk mengetahui secara tunak dan merawatnya. Seiring dengan itu, sering muncul pertanyaan benarkah pada helai-helai tenun tersebut sarat akan ilmu dan kisah tradisi di mana kain itu ditenun atau dibatik?

Mengapa orang tertentu sampai memutuskan menjadi kolektor atau paling tidak punya rasa bangga jika mengenakan tenun Nusantara.  Benarkah image  yang muncul ketika berbalut wastra Indonesia penampilanpun menjadi santun? Benarkah kepribadian Indonesia itu muncul ketika menjunjung marwah bangsa.  

Sederet pertanyaan itu muncul untuk keberadaan wastra yang menjadi bagian kekayaan negeri. Bisa dipahami. Tersirat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa   yang mampu menghargai warisan para leluhur.

Dengan konsistensi tinggi, Poppy Yudith menekuni seni budaya Jawa. Ist

Suatu yang membangakan jika Kementerian Kebudayaan telah menetapkan 33 jenis kain tradisional Indonesia menjadi warisan tak benda, namun tentu masih banyak elemen, komunitas, perorangan yang seharusnya lebih tanggap terhadap wastra kita, selain  soal kelestariannya sekaligus pengembangannya. Plus, sikap tegas dari beberapa kementerian yang terkait untuk hal itu sangatlah diharapkan.

Pasalnya, sangatlah menyedihkan ketika  kenyataan bicara banyak motif wastra negeri ini yang punah karena berbagai sebab, tak sedikit tenun etnik Indonesia yang menjadi penghuni abadi museum di berbagai negara. Diharapkan ada terobosan pasti agar kekayaan negeri yang berupa tenun dan batik menjadi penghuni abadi di negeri sendiri.

Menghadapi kenyataan itu marilah kita simak bersama, apakah kata nara sumber di bawah ini? Apa tujuan mereka sejak lama merawat kain peninggalan para tetua mereka, atau menyisihkan sejumlah uang untuk bisa memiliki karya seni yang berupa wastra negeri ini. Mereka tak berhenti di situ,  tak hanya mengoleksi namun terus berusaha mengajak para generasi penerus untuk mencintai wastra dari bumi pertiwi, dengan kiat masing-masing.

Ewith Bahar mengaskan untuk mencintai wastra, dimulai dari diri sendiri dulu sajalah. Ist

Jika Bukan Kita yang Mencintai, Siapa Lagi?

”Pemerintah harus berperan aktif, bukan hanya kita saja yang punya kesadaran memelihara wastra kita, namun juga Kementerian Pariwisata, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, juga Pemerintah Daerah,” sebut Ewith Bahar, pegiat seni, membuka obrolan.

“Peran itu memang dalam bentuk proaktif. Ya, untuk pemodalan, membuka peluang selebar-lebarnya untuk para muda berkreasi, juga peran masyarakat kampus. Tak luput para jurnalis dan penulis, karena ditangan mereka berita tentang kekayaan negeri berupa wastra ini akan sampai ke masyarakat dunia,” imbuhnya, yang gemar merawat tenun dan aktif di dunia penulisan dan kepenyairan.

Pendapat senada muncul dari penggiat seni budaya di Yogyakarta, Poppy Yudith. Walau penyuka wastra dan kebaya ini merasakan usaha yang ia tempuh untuk mendengungan wastra Indonesia tidak mudah, mengingat belakangan ini cara bergaun sebagian besar masyarakat kita mengacu ke negara tertentu.

“Tapi sesulit apapun itu, saya  tetap berpendirian bahwa saya manusia Indonesia yang harus berbusana dengan kain dan kebaya. Maukah itu berpadu dengan jarik batik , tenun dari Sumatera atau NTT, atau wastra etnik dari daerah lain, namun saya akan jalani terus. Dimulai dari diri sendiri dulu sajalah. Pada akhirnya orang akan melihat busana Indonesia itu dari diri kita dulu,” ucapnya.

Poppy Yudith mengaku, 4 tahun terakhir konsisten menekuni seni budaya Jawa khususnya. Dan belum lama ini dia bergabung dengan para budayawan di Mataram. Tentu dalam konteks melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya.

Alessandra Gita Laura Sitorus jatuh cinta dengan wastra karena sering melihat neneknya berbusana daerah. Ist

Selanjutnya Ewith Bahar melihat, ketika mengenakan wastra Indonesia ada nilai estetis yang muncul, sekaligus ketika memadukan antara baju, selendang  dan aksesori, akan muncul nilai keanggunan yang memang menjadi nilai khas bagi perempuan negeri ini. “Jika semakin banyak para puan di negeri ini yang mengenakan wastra kita, maka semakin tegaslah identitas budaya kita, bahwa wastra itu milik Indonesia,” tegas perempuan berdarah Minang itu.

Sementara Tiur Mufrita Silalahi, juga pecinta wastra yang mukim di Cilegon menimpali bahwa kain tenun dengan motifnya ketika dikenakan seseorang seringkali menunjuk daerah asal mereka. Di banyak kesempatan, di ruang terbuka atau hanya silaturahmi kecil saja, walau pakai kebaya dan jarik, namun ulos tetap di sampir di bahu, orang akan tahu kok daerah asal si pemakai.

“Semisal lagi, perempuan berkerudung, namun di atas kerudung itu dibalutkan selendang tudong manto. Orang tahu figur itu dari Melayu. Saya setuju, jika dikatakan wastra menunjuk identitas kita,” ujar Tiur yang mengumpulkan batik tulis dan tenun etnik Indonesia bermula dari pemberian ibunya.

Ia mengaku, karena sering melihat ibunya mengenakan batik tulis dan ulos maka rasa memiliki itu muncul dengan sendirinya. “Semua dimulai dari rumah. Saat itu saya masih berusia remaja, namun karena keseringan lihat mama dan nenek pakai kebaya dan batik maka rasa memiliki itu muncul. Dan itu bertahan hingga kini,“ paparnya.

Berbeda generasi namun sama-sama mengalami rasa cinta yang tumbuh dari rumah. Contohnya Alessandra Gita Laura Sitorus, mahasiswi. Dia tertarik memakai busana tradisional dan kain etnik karena sering melihat neneknya mengenakannya dalam banyak kesempatan.  “Kebentulan di sekolah dan kegiatanku diharuskan mengenakan busana tradisional, jadi aku terbiasa dan akhirnya suka. Apa ya, asyiek aja gitu,” ujarnya, yang baru saja diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri.

Tiur Mufrita Silalahi rasa cinta wastra muncul dengan sendirinya. Ist

Nah, ini yang namanya cinta tumbuh karena biasa. Contoh langsung dan motivasi akan dengan sendirinya dirasakan generasi penerus, ketika mereka banyak melihat. Apalagi jika lingungan sekitar mendukung. “Dulu, ketika saya menjadi penyiar, hari-hari tertentu wajib mengenakan busana tradisional. Maka, setiap penugasan ke luar kota, saya membeli oleh-oleh ya kain untuk diberikan ke sejawat atau diri sendiri. Seiring waktu berjalan maka timbul rasa memiliki semakin tebal,” tegas Ewith lagi.

Gerakan untuk memasyarakatkan cinta berkain Indonesia itu telah dilakukan 11 tahun lalu oleh pendiri sekaligus motor dari Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI), Sita Hanimastuty. Ia konsisten dan  berdiri  tegap dalam kaitan mendengungan agar masyarakat luas mencintai wastra karya anak bangsa. Puan yang satu ini terkesan sudah bekerja keras bersama jajarannya untuk mensosialisasikan hal ini.

”Saya hanya ingin mulai dari masyarakat sederhana hingga kalangan tertentu pakailah kain-kain kita. Nggak harus selalu kain yang mahal, yang tergapai isi kantong saja pun, oke. Sarung-sarung kita itu luar biasa lho, cantik cantik lagi. Sarung itu sebenarnya multi guna yang bisa dipadupadankan dengan kebaya dan baju. Atau dipadu dengan apapun tampak elegan. Ayolah kita semua bergandeng tangan, mulai dari diri sendiri dulu,” begitu harapan puan yang tak pernah surut mengangkat berbagai motif tenun ke permukaan.

Dalam kesempatan yang berbeda Ewith Bahar pernah mengatakan hal senada. “Jika para seleb kita, petinggi, atau orang yang punya peran di negeri ini mengenakan kain dan aksesori buatan anak bangsa, otomatis itu menjadi terobosan yang jitu.”

Sita Hanimastuty – Ketua Umum Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI). Ist

Tenun Sebagai Subyek Bukan Obyek

Dalam usaha mengangkat ke permukaan tenun dan batik Nusantara, Poppy Yudith harus menyediakan waktu tiap hari, khusus berdandan dengan gaya perempuan Jawa. Berkebaya, berkain batik atau tenun, plus bersanggul yang tertata rapi. Bisa dibayangkan apa yang ia lakukan tak mudah karena harus “melawan “ diri sendiri agar usaha mempertahankan seni budaya berkain itu konsisten.

“Kadang saya kurang diterima baik dalam berdandan seperti itu, tapi saya hargai saja kok pendapat itu. Toh, setiap manusia punya hak menentukan pilihan gaya tampilannya. Saya berpikir positif saja untuk  gaya tampilan yang saya pilih. Puji syukur, keluarga saya mendukung sekali untuk itu keputusan saya,” ucapnya.

Poppy melanjutkan, ia akan lebih banyak melibatkan para muda untuk berdandan dengan memilih helai-helai tenun bermotif etnik, walau dengan padu padan yang disesuaikan dengan usia dan status mereka.

Pada setiap benang yang ditenun menjadi helai kain, pastinya punya banyak cerita dan makna. Betapa tidak, saat menenun ada rasa yang muncul dari sang penenun yang tak mudah untuk dijabarkan. Ada tradisi, sosiologi, antropologi, unsur agama, arkeologi, seni dan budaya. Semua akan terangkum pada pintalan benang demi benang. Itu sebabnya penulis melihat bahwa wastra itu bukan sebuah obyek, namun subyek yang patut dijunjung tinggi. ‘

Perjumpaan penulis dan Ewith Bahar. Ist

Cerita hidup sebuah bangsa ada pada helai demi helai kainnya. Maka, jadikanlah wastra Indonesia sebagai jiwa bangsa, bukan berpenampilan untuk menjadi jiwa bangsa lain!

About Gatot Irawan

Check Also

Mengolah Kreasi dari Tanah Leluhur

Oleh Martha Sinaga Jakarta, NextID – Cinta dan ketertarikan sudah diakrabi insan sejak dahulu dengan segala …

Leave a Reply