Jakarta, NextID – Dalam berkarya di tengah Covid-19 ini tidak ada jurus lain, selain harus tetap semangat. Betapa tidak, setiap hari berita tentang virus mematikan itu memasgulkan hati. Kenyataan ini tak dapat disangkal sering membuat orang apatis, atau minimal pupus harapan dalam melangkah.
Tetapi, bagi pelukis jerami padi, Febrantonius Parasian Sinaga (44) hal itu tak dialaminya. Ia mengaku tetap semangat, tetap juga menjalankan mekanisme seperti biasa yaitu mencari jerami, membersihkan, mengeringkan hingga menata indah di atas kain ulos seperti yang ia lakukan sebelum Covid melanda umat di dunia, termasuk di negeri ini.
Jika ada yang berbeda, menurut Febrantonius yang sejak 2006 telah menetapkan menjadi pelukis jerami profesional itu hanyalah pembagian waktu kerja. Misalnya, ia mencari jerami setelah para petani berhenti bekerja. “Yang saya perhitungkan adalah teriknya mentari, karena akar dari jerami ketika dicabut diusahakan saat mentari bersinar terik. Kualiatasnya akan baik untuk menggarap lukisan,” ujar Febri, begitu panggilannya.

Terkesan ayah dari, Artkeyza Sinaga dan Thiart Adeline Sinaga ini bermurah hati dalam membagikan ilmunya. Ia tak segan-segan mengurai proses demi proses karyanya itu. Febri yang memang berasal dari keluarga berdarah seni itu yakin bahwa rezeki sudah ada yang atur. Buktinya, di tengah maraknya Covid-19 yang berdampak terhadap ekonomi di segala lini, dia mengaku tetap mendapatkan order. “Pembeli tak hanya dari dalam negeri namun juga luar negeri, seperti dari Swiss, Belanda, Jerman, dan China.
“Memang lebih mudah ketika pembeli itu berasal dari negeri sendiri. Mereka bisa melihat langsung, baru memutuskan untuk membeli. Hanya saya percaya laku atau tidaknya karya tidak dibatasi oleh keadaan, juga waktu. Saya alami dalam kondisi sulit sekalipun Tuhan tetap campur tangan untuk karya saya,” sibaknya optimistis.
Karya-karya Febri dikenal agamis karena sumbernya dari Alkitab, yang sarat inspirasi dan maha luas cakupannya. Apa yang dikisahkan olehnya, semoga bisa disimak dengan baik oleh banyak kalangan, karena keyakinan seseorang atas karya yang Maha Kuasa jauh melebihi karya manusia. Ada kenyataan yang terkadang tak dapat diselami oleh alam pikiran manusia dari ke-Esaan Yang Maha Kuasa.

Dia meyakini ini dalam tiap usaha dan dalam hidup berkeseniannya. Inilah sebuah kenyataan dari kalimat yang berbunyi, jika Tuhan sudah membuka tingkap-tingkap, tak satu manusia mampu menutupnya. Demikian sebaliknya. Yang pasti kenyataan itu dialami dan menjadi kesaksian indah sepanjang dia berkarya.
Memilih hidup dari hasil karya seni sudah menjadi keputusannya, maka perjalanan hari ia tetap mempertahankan sekaligus mengembangkan karya seni lukisan yang identik dengan napas kekristenan. Di samping itu nilai budaya dari leluhurnya sering muncul lewat bahasa batak atau tulisan kuno batak di karyanya. Ini salah satu kerja yang tak mudah. Di era milenial, Febri masih mempertahankan nilai-nilai keluhuran manusia batak, yang dikemas dengan cantik. Rasanya sikap dan tindakannya patut diberikan acungan jempol.
Keliaran inspirasi dengan rasa hormat terhadap leluhur disatukan dalam tehnik lukis jerami yang ditekuninya belasan tahun lalu. Dengan kenyataan itu, bisa dirasakan konsentrasi dari kedua hal itu melebihi perhitungan harga sebuah lukisan di tengah peliknya ekonomi saat ini.
“Saya sudah katakan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Ia sudah buktikan di tengah sulitnya ekonomi melanda dunia, namun Ia tetap memberi jalan bagi umat yang berserah kepada-Nya. Yang penting saya tetap kerja keras, tetap jaga prokes. Jaga kesehatan dan mengurangi kontak fisik dengan banyak orang. Jika gak perlu banget saya gak keluar rumah. Keluar itu jika ke sawah cari jerami,” ceritanya.

Mendengarkan proses kerja lelaki asal Toba ini, semangat pun muncul. Hari-harinya penuh dengan jadual kerja, karena pasar sudah menanti. Tak ada kata diam, apa lagi menyerah. “Saya diam jika memang harus memikirkan ide apa yang akan dicantumkan di karya. Biasanya itu saat saya sendiri dan suasana tenang. “Tetapi ketika menuangkan jerami di atas ulos atau bahan dasar lukisan itu kapanpun bisa,” tegasnya lagi.
Jika disimak seluruh lukisan Febri diilhami dari Alkitab. Bisa dilihat dari “Doa Bapa Kami” dalam bahasa Batak, “Our Father,” “Gorga Batak,” “Kepala Bermahkota Duri,” atau “Jalan Keselamatan.” Dan ia mengaku sudah ratusan karya yang digarapnya dengan harga sekitar Rp 2,5 juta per lukisan. Luar biasa.
Dengan adanya pasar online itu tentu memudahkannya dalam hal pemasaran. Apalagi di lawatan Covid ini, pasar online tentu membantu untuk menggapai pasar. Asyik saja jika mendengar komentar Febri, tugasnya adalah melakukan karya terbaik, untuk sampai kepada calon pembeli dan ada yang membeli itu tentu ada campur tangan Tuhan. “Itu tak bisa dipungkiri,” tukasnya.

Rasanya Febrantonius Sinaga benar, karya yang baik tentu akan ada pasar yang baik pula. Walau bicara soal seni tentu tak ada batasannya, karena karya seni itu tak pernah berujung. Apa lagi jika para seniman yang mumpuni yang melakukannya. Kurang lebih 16 tahun ia bertaruh di arena karya seni, dan selalu keluar sebagai pemenang. (Martha Sinaga)
NextID What's Next ?
