Home / LifeStyle / Leisure / Art / Mengolah Kreasi dari Tanah Leluhur
Pergelaran busana etnik moderen saat di Sarinah, Tharmrin. Tampak Hetty Sinaga di tengah parade busana. (Foto: Dok. Pribadi)

Mengolah Kreasi dari Tanah Leluhur

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Cinta dan ketertarikan sudah diakrabi insan sejak dahulu dengan segala keluasan dimensinya. Rasa cinta itu juga yang mengasah ketajaman rasa manusia dalam melahirkan karya. Seliar apa imajinasi dan inspirasi seseorang dalam melahirkan karya seninya tentu didasari rasa perhatian, cinta dan kepekaan.

Tersirat rasa itu muncul dari desainer kelahiran Jakarta 30 Januari, Hetty Sinaga. Berkiprah didunia fasyen  sejak awal berkiprah dengan detail karyanya menggunakan tenun batak ulos. Ya, tenun dari tanah leluhurnya yang dipilih Hetty. Alasannya, tenun yang satu ini walau semula ditenun menjadi helai kain yang keras, namun justru di balik itu ada kekuatan filosofi yang menggugah inspirasinya untuk menarik kepermukaan dalam bentuk busana siap pakai.

Warna, corak garis-garis yang tegas dilihatnya sebagai garis hidup bangso Batak yang demikian kuat. Sementara pilihan warna yang beragam membuatnya lebih kaya menetapkan desain busana yang diinginkan, walau di awal karyanya cenderung ke pola rompi, blazer namun kini sudah merambah ke busana siap pakai untuk perempuan dan kaum adam.

Hetty (kanan) usai pergelaran busana di Toba Dream Fashion Week dalam acara Hari Ulos Nasional 2024. (Dok. Pribadi)

Tentu tuntutan kebutuhan dunia fasyen seperti kenyamanan ketika dikenakan dan keindahan menjadi satu kesatuan yang perlu dipikirkan secara cermat dan detil.  Maka ia menentukan pilihan dalam karyanya untuk memadupadankan antara tenun etnik ulos dengan tenun yang berasal dari beberapa daerah di negeri ini. Memang sih, bagian alam yang natural  itu akan “hidup” dan selalu menyajikan kebebasan dalam berkarya.

Kebebasan dalam berkarya itu yang pada akhirnya bisa ditemui dari pola yang diterapkan perempuan jebolan Adventist University of the Philippines itu. Padu padan yang terkadang tabak lari antar motif dan warna, juga desain yang kental terlihat bagaimana manusia Batak itu menyandang selendang di bahunya.

Namun nilai klasik itu Hetty sesuaikan dengan kebutuhan dan kesan modis ketika dikenakan berbagai usia. Cara ini rasanya berhasil memecah kebekuan jika dalam rentang waktu tertentu padangan masyarakat terhadap ulos adalah tenun yang  kaku jika dikenakan.

Dari alam seperti inilah ulos itu lahir. Toba na uli. (Dok. Pribadi)

Lepas dari kesan yang berhamburan dari berbagai pihak namun satu catatan pasti bahwa tanggungjawab manusialah untuk menempatkan warisan leluhur yang berupa tenun ini di posisi dan porsinya yang tepat, di samping menjaga kelestariannya secara optimal.

Mengolah Alam Batak Melalui Tenun

Peradaban manusia yang berkembang hingga tahap modern bahkan pasca modern tak luput menyenggol karya yang berupa busana. Itu sebabnya dewasa ini ulos terlihat di berbagai pertokoan, rumah mode hingga pergelaran busana di luar dan dalam negeri.

Hetty ada di tengah semua itu. Jawabnya, ya. “Saya ikut perform di Madagascar walau itu dengan rombongan. Tetapi gelar parade busana saya pribadi di Taman Mini Indonesia Indah dan Sarinah Thamrin. Juga beberapa tempat lagi di mana saya mengisi dengan karya busana yang terbuat dari ulos,“ sibak ibu dengan 5 putra itu.

Ia mengakui  bahwa perkembangan dunia fesyen yang mengetengahkan ulos dewasa ini sangat potensial. Setidaknya  hal itu menggambarkan bahwa ulos sudah menetap di hati sebagian bangsa ini sebagaimana yang terjadi dengan tenun motif etnik dari berbagai daerah lain di negeri ini.

Rumah modenya itu ada di Samosir, Toba. (Dok. Pribadi)

Kodrat alami inilah yang menurut JJ Rousseau – filsuf kenamaan Prancis, tidak boleh ditinggalkan, diselewengkan, apalagi dilenyapkan, karena di sanalah terletak harmoni dalam kehidupan warisan leluhur.

“Saya setuju karena ulos memiliki kekuatan sehingga dalam berkaryapun saya merasakan sebuah harmonisasi, antara kreasi dengan fisolosi ulos sebagai tenunan yang mempersatukan antara keluarga, sahabat dan masyarakat luas,” tegas Hetty.  

Kecerdasan Menumbuhkan Kreasi

Dalam berkarya ada masa hening dan masuk dalam relung doa. Pun di saat teduh yang menghubungkan jiwa ini kepada sang Pencipta. Maka dalam keheningan akan muncul kesejukan hati yang sangat mungkin dalam perjalanan berkarya  itu “tercemar” oleh persaingan, buruk sangka dan ambisi untuk maju. Tetapi memang  keheningan sangat dibutuhkan dalam perjalanan berkarya. Sebab, di sana muncul keseimbangan hidup yang tak terseret dengan persaingan yang tidak sehat.

”Wah, itu memang berat, namun di situlah pecutan tajam untuk terus berkreasi. Terkadang keluarga intipun mempertanyakan dengan pedas untuk karya-karya saya. Karena dunia fesyen bohong jika tidak mengeluarkan budget yang signifikan. Namun saya mencoba memberi pengertian lewat hasil karya saya yang terus saya tekuni.  Saya mencoba keras untuk berkomunikasi lewat karya-karya yang diusahakan tak pernah surut, walau tak jarang airmata membungkus karya tersebut,” ungkapnya dengan mimik serius.

Ehm, kenyataan ini seperti yang dikatakan Michael Faraday – ilmuwan Inggris – bahwa ciri entrepreneur dalam usahanya untuk menggapai sukses wajib memiliki konsentrasi, diskriminasi (kemampuan untuk membedakan), organisasi, inovasi dan komunikasi. Proses interaksi dalam kehidupan sehari hari juga tidak akan lepas dari komunikasi berkarya dan salah satu cara Hetty berkomunikasi adalah lewat desain busana di atas helai-helai tenun batak ulos.

Membangun enerji hati dengan asam manisnya pengalaman hidup tentu punya nilai atau poin tersendiri. Sementara membangun enerji pikiran dengan asupan ilmu yang menghentak seseorang untuk terus melanjutkan atau mengembangkan karyanya. Itulah yang dilakukan Hetty.

Menggarap aksesori dalam usaha melengkapi karya busananya. (Foto Martha Sinaga)

Busana akan lebih tertata dengan elegan ketika aksesori melengkapinya. Jadilah aksesori dan busana berlebel Daminten berupa anting, bros, cincin, gelang hingga ikat pinggang bersematkan mutiara, batu-batuan dan pilihan lain terbuat dari bordiran bermotif bunga.  Alasannya memilih itu, karena ia menyukai mutiara, sekaligus berseminya bunga. Hetty pun meraih peluang pasar dari padupadan yang dilakukan dengan harmonis dalam mengikuti perkembangan dunia mode.

Dengan kreasi Hetty Sinaga berarti satu lagi manusia batak muncul dipermukaan dalam usaha melestarikan, sekaligus mengembangkan bagian dari warisan tano Batak yang berupa helai kain tenunnya. Tentu diharapkan akan lebih banyak lagi genersi penerus yang bisa kosentrasi penuh terhadap nilai-nilai warisan leluhur.  Itu pasti indah.

Ya, keindahan itu adalah jembatan antara dua dimensi, yaitu dimensi material dan dimensi ideal, atau dimensi partikular dan dimensi universal. Bukan begitu Hetty Sinaga?



About Redaksi

Check Also

JAECOO J7 SHS-P Teruji di 16 Negara

Jakarta, NextID – Seiring persaingan teknologi kendaraan hybrid yang semakin ketat di pasar global, jarak …

Leave a Reply