Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Pada umumnya apa yang dilihat sebagai barang sisa, ujungnya hanya dijadikan penghuni tong sampah. Apalagi untuk memperhitungkan sebagai materi yang bisa mendongkrak nilai ekonomi, jauh dari pemikiran. Hebatnya, anggapan itu terjadi di tengah kehidupan masyarakat banyak yang enggan mengenal lebih jauh terhadap barang sisa, atau menelaah dan mempelajari karakter dari barang tersebut. Ya, lebih bersikap pasif. Dengan mudah barang sisa itu siap untuk dibuang.
Ini beberapa kisah positif jika mau menoleh ke belakang tentang bahan-bahan sisa tersebut, tepatnya limbah kain. So, pada abad 18 sisa benda-benda itu dijahit sambung menyambung oleh masyarakat Eropa ketika mereka hijrah ke Amerika Utara di musim dingin. Mereka menjahit perca kain dijahit sebagai pakaian, jaket, tudung kepala hingga selimut.
Juga, kisah lawas ini bisa menjadi inspirasi. Sejak lama di dataran Cina, tepatnya oleh Kaisar Liu Yu dari Dinasti Liu Song, kain perca telah dioptimalkan untuk berbagai keperluan, mulai dari busana hingga pelengkap interior. Bahkan lebih ke belakang lagi, orang Mesir kuno membuat gambar dari kain perca dan menurut penelitian itu karya tertua berasal dari tahun 3. 400 SM.
Budaya manusia di berbagai negara telah mengenal seni-budaya perca. Teknik penyambungan perca (patchwork) diperkirakan sudah ada sejak zaman kuno. Bukti bicara dari ditemukannya seni ini di makam kuno Mesir dan Cina, paling tidak itu. Maka jelas waktu membuktikan penyambungan kain percaya atau seni patchwork sudah ada di zaman kuno.
Rasanya tak meleset jika Alberto Giacometti – seniman patung, pelukis, dan juru gambar terkenal asal Swiss (1901-1966), mengatakan bahwa obyek seni bukanlah untuk memproduksi realitas, namun untuk menciptakan realitas dengan intensitas yang sama.

Intensitas memang dibutuhkan dalam memproduksi atau menghasilkan sebuah karya. Tentu itu disesuaikan dengan apa yang disukai atau dibutuhkan banyak orang seiring waktu yang berjalan. Lebih asik lagi dalam menghadirkan karya seni tidak ada sebuah keharusan karena seni itu bebas, bermuatan keharmonisan antara alam pikir dan suasana hati.
Bagaimana pun hasil yang terbaik bukan sekadar apa yang dilihat oleh mata namun apa yang dipahami oleh pikiran. Mengutip pendapat Theodore Dreiser – novelis, jurnalis, dan penulis Amerika Serikat (1871–1945) bahwa seni adalah madu yang tersimpan dari jiwa manusia. Menarik!
Nah, hasil manis itu muncul dari kreasi para pencinta seni dalam menyambung perca khususnya dan wastra pada umumnya. Sambung menyambung perca itu bisa melahirkan banyak desain. Mulai dari pelengkap interior, sampai busana semua punya nilai ekonomi yang mumpuni. Harganya juga tak main-main, puluhan hingga ratusan juta. Itu sebabnya ada pendapat yang mengatakan limbah kain bisa bertarif dolar dan menembus pasar dunia dari tangan orang-orang kreatif.
Semua Dimulai dari Kepekaan.
Pekerjaannya terkesan sederhana namun tak sesederhana ketika melakukannya. Yang pasti dengan kesabaran dan bekerja dengan teliti serta dibungkus dengan kepekaan dalam usaha melihat jenis serat kain, itu bisa dilakukan. Mungkin realitasnya ketika dis,ambung corak dan nuansa wastra serasi namun dijumpai bahwa serat kain berbeda jauh. Apa lagi jika karya itu menggunakan perca dari kain-kain yang telah punya usia. “Itu harus sangat hati-hati, karena benang yang sudah tua itu rapuh, kering dan mudah patah. Kenyataan seperti itu haruslah dicermati dalam tindakan menyambung tenun,” demikian pakar tenun sekaligus desainer, Torang Sitorus.

Catatan yang baik dari Torang Sitorus perlu digaris bawahi mengingat ia sejak lama menekuni ribuan tenun ulos bahkan kini merambah ke tenun Bali dan tenun Nusantara. Maka tak heran jika ia memahami banyak karakter tenun, juga berbagai jenis kain.
Kenyataan di lapangan bicara bahwa karakter benang pada sehelai kain yang digunakan untuk fasyen, berbeda ketika menggarap patchwork yang didesain untuk pelengkap interior. Semisal membuat bantal kursi, taplak meja, gorden, hingga tirai. Sementara untuk busana dan padu padannya bisa hadir gaun, blus, stola dan penutup kepala hingga tas dan jas.
Seni patchwork memang menggelitik. Produk yang dihasilkan Gerai Kalpataru. Tas yang merupakan perpaduan beberapa motif etnik Indonesia. Itu khusus didesain untuk menjadi paduan berkain dan berkebaya. Tentu paduan motif disesuaikan dengan tampilan wanita Indonesia yang anggun, ketika harus berkebaya dan berjarig (kain panjang batik). Begitu juga selendang yang hadir dengan menyatukan beberapa jenis motif etnik Indonesia. Melalui gaya patchwork yang indah sekaligus mempertebal rasa kekaguman terhadap motif-motif etnik negeri ini.
”Mengenakan selendang patchwork menumbuhkan rasa bahagia dengan intensitas yang tak saya dapatkan dari seni lain. Mungkin karena apa yang saya kenakan dari Gerai Kalpataru ini adalah Indonesia banget ya. Seni budaya kita itu membanggakan lho,” komentar Poppy Judith – penggiat seni budaya dari Yogyakarta.
Belasan tahun berlalu, Gerai Kalpataru konsisten menyajikan seni patchwork. Alasan personil seni yang tergabung di Gerai Kalpataru berpendapat bahwa ketika mereka memikirkan seni maka format keindahanlah yang harus lahir lewat perca-perca yang mereka kumpulkan dari berbagai tenun senusantara. Bahkan perca dari beberapa negara lain sebagai pembanding.
Sulitkah dalam usaha mendapatkan perca-perca ini? Pasti, mengingat tak ada orang yang memiliki sehelai songket dan memotongnya hanya untuk membagikan perca-perca, atau sehelai kain dari Nusa Tengara Timur digunting untuk sebuah karya patchwork yang mumpuni.

Tapi kenyataan ini harus bisa dicarikan jalan keluar agar karya dengan tehnik patchwork tak terhenti. Sebagaimana John F. Kennedy berpendapat bahwa jika seni sebagai tindakan memelihara akar budaya, maka masyarakat harus membebaskan seniman untuk mengikuti visinya ke mana pun ia membawanya.
Seni Patchwork di Panggung Peragaan Busana.
Kinto Wardani, salah satu fesyen desainer yang akhir-akhir ini menyulam karya dengan patchwork. Walau ia mengaku sesungguhnya sejak lama telah mengetahui seni yang satu ini. Diakui sejak lama ia memahami bahwa dampak limbah mengkhawatirkan merusak lingkungan dan mulai mengenal sustainable (berkelanjutan), utamanya dalam bidang fesyen yang lama digeluti, ia merasa ikut bertanggungjawab terhadap limbah fesyen yang dihasilkan.
”Nah, mulailah saya manfaatkan perca-perca sisa kain. Awalnya saya bikin kalung, anting, gelang tas, topi yang merupakan bagian pelengkap fesyen. Eh, mengasyikan tuh. Potongan kain kecil- kecil tersebut ditata dalam pola tertentu dan menghasilkan suatu motif baru yang menarik,” ujarnya.
Idenya terus berlanjut. Di beberapa bulan terakhir kok ada rasa yang muncul untuk lebih konsentrasi dan lebih detail terhadap pemanfaatan limbah kain ini. “Mulailah saya menerapkan dalam desain untuk berkain dan baju. Itu saya alami setelah ikut pameran Zero Waste yang diselenggarakan oleh adik-adik Gen Z. Ternyata pameran itu membuat saya lebih serius untuk memanfaatkan limbah fesyen,” ucap Kinto Wardani yang juga pengurus harian Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) itu.
Rasanya mengunakan perca dalam berkarya itu juga lebih membutuhkan waktu dan tenaga selain kepekaan dalam menata perca. Betapa tidak. Sebelum perca di sambung atau dijahit harus lebih dulu dipilah-pilah sesuai jenis tekstur benang, kemudian dibersihkan. Bisa dicuci atau diangin-anginkan. Langkah selanjutnya kain disetrika agar terlihat dengan jelas motifnya. Semakin kecil ukuran perca tersebut, maka semakin besar tantangan dalam pengerjaannya untuk sebuah pola yang diinginkan.
Mulailah kepekaan sang desainer “bermain” agar paduan itu membentuk kain baru yang lebih menarik. Itu juga yang dialami oleh pengusaha kuliner di Bali, Hilda Safitri. “ Saya tidak membuat atau memproduksi barang seni yang dibuat dari perca-perca ini, namun suka memilikinya. Di Bali ini karya seni apa sih yang tidak ada,” ujarnya.
“Di sini full karya seni, tapi tak banyak dijumpai patchwork yang mumpuni. Ketika saya memilikinya, saya berpikir, ini pekerjaan yang betul-betul berbalut rasa. Perca bisa menyerupai sinar mentari untuk sebuah sprei, ada juga tas perempuan yang ketika dikenakan menunjuk pada sebuah seni yang jelimet. Itu bener lho, ketika tas dikenakan maka akan menginspirasi orang yang memandangnya, bahwa seni itu gak ada batasan, sekalipun itu dari limbah kain. Jadi jika prize yang tertera untuk satu jenis barang dari seni patchwork harus merogoh kantong dalam dalam, sah-sah saja,” sibaknya dengan semangat.

Dalam suasana negeri seperti sekarang ini, idealnya banyak keterampilan yang muncul agar setidaknya perekonomian keluarga lebih stabil, walau persaingan pasar tinggi. Tapi ternyata ada yang menjanjikan, yang mungkin tak banyak dilirik orang. Limbah fasyen yang mampu bersaing. Ironisnya di negeri sendiri kurang dilirik, sementara di pasar luar negeri harganya membuat orang berdecak.
Pendapat ini disambut oleh budayawan dan kurator tenun, Sidiq Jafar. Ia menjelaskan bahwa nilai ekonomi patchwork berdasarkan pada prinsip up-cycling dan ekonomi sirkular yang secara fundamental menolak model linier produksi dan konsumsi, mengambil untuk dibuang.
Menurutnya, limbah tenun atau pun kain adalah perwujudan nyata dari konsep up-cycling dengan mengolah kembali menjadi bagian dari fesyen atau pelengkap interior untuk menjadi produk baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi ketimbang bahan aslinya.
“Ini sama dengan pendekatan yang selaras dengan tren global yang semakin menekankan pada desain berkelanjutan. Seni patchwork lebih dari aktivitas ekonomi, melainkan juga inisiatif sosial yang ekslusif dan berkelanjutan. Pemanfaatan limbah tenun dan tekstil ini sesungguhnya bernilai ekonomi yang mumpuni,” tandas Sidiq Jafar.

Fakta di atas menyiratkan seni adalah luapan kreasi insan yang mengandung unsur keindahan, sekaligus ekspresi jiwa dan itu membutuhkan keberanian untuk mencoba. Nah, cobalah!
NextID What's Next ?
