Jakarta, NextID – Masuknya truk dari Tiongkok ke Indonesia membuat industri otomotif khususnya truk berguncang hebat. Ini disadari pemangku kebijakan, tetapi pura-pura tak tahu padahal itu berdampak ke industri secara nasional. Isu ini sering muncul tapi no action dari pengambil kebijakan di sektor itu. Mereka kurang satset dalam bertindak.
Kondisi ini lebih terpetakan secara terang benderang saat berkunjung dan berdialog dengan para petinggi PT Hino Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) di pabriknya di Purwakarta, Rabu (21/1). Memang diakui semua pihak bahwa pada tahun 2025 menjadi tahun suram, di mana sektor otomotif di semua lini mengalami penurunan penjualan, termasuk kendaraan niaga.
“Tahun 2025 menjadi periode paling menantang bagi HMMI. Kami menilai serbuan truk impor asal Tiongkok memberikan tekanan besar terhadap industri kendaraan niaga dalam negeri. Derasnya arus masuk truk Tiongkok berdampak signifikan terhadap penurunan produksi nasional,” jelas Harianto Sariyan – Direktur HMMI.
Tetapi HMMI tegar dengan situasi itu. Padahal, Hino Indonesia telah menanamkan investasi besar senilai 112,5 juta dolar AS guna membangun fasilitas produksi seluas hampir 294 ribu meter persegi, serta menyerap 1.548 tenaga kerja hingga Desember 2025.
Dibeberkannya, pabrik Hino di Indonesia ini sebenarnya punya kapasitas produksi hingga 75 ribu unit per tahun. Namun, realisasi produksi tertekan sejak membanjirnya truk impor. Puncak produksi Hino terjadi pada 2012 dengan angka 61.741 unit, tetapi itupun jauh di atas capaian beberapa tahun terakhir.

Ada hal menarik dan itu ironis, yakni meski volume truk Tiongkok di lapangan sangat besar, terutama di sektor fleet tetapi data resmi keberadaannya sulit ditemukan di. Gaikindo ataupun Bea Cukai. Keberadaannya nyaris tak tercatat secara jelas. Hino Indonesia tak tinggal diam dan tentu bekerja sama untuk mencari data.
Total produksi Hino sepanjang 2025 tercatat sebanyak 18.450 unit. Angka itu merosot 22,6% dibandingkan capaian pada 2024 sebesar 23.823 unit. “Kami ini sudah membangun rantai pasok produksi yang panjang, melibatkan ratusan pemasok. Sehingga dampak truk impor China ini serius bagi kelangsungan industri kendaran niaga nasional,” ujarnya.
Hino Indonesia menilai persoalan ini bukan semata persaingan bisnis, melainkan masalah struktural kebijakan. Pemerintah dinilai belum memberikan barrier atau perlindungan yang seimbang terhadap industri otomotif nasional. Harianto menyoroti ketimpangan kebijakan bea masuk.
“Saat membangun pabrik, material impor dikenakan bea masuk. Sementara truk jadi dari luar negeri justru masuk dengan bea nol persen. Padahal negara-negara ASEAN lain membatasi impor, tapi Indonesia tidak. Ini jadi persoalan serius bagi industri,” tandasnya.
Ini, menurutnya, mengancam keberlangsungan industri dalam negeri. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tak mungkin pabrik-pabrik otomotif nasional bernasib sama seperti industri tekstil besar yang terpaksa tutup. “Memang ada langkah efisiensi, tetapi itu bukan solusi jangka panjang. Tanpa perubahan kebijakan impor dan perlindungan industri yang memadai, daya saing manufaktur nasional akan terus melemah! tegasnya.

NextID What's Next ?
