Jakarta, NextID – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) saat ini beranggotakan 61 (enam puluh satu) perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau pun lebih. Dan untuk kendaraan komersial kelas menengah ke-bawah atau pick-up selama ini diproduksi oleh beberapa Perusahaan anggota GAIKINDO.
Secara keseluruhan anggota-anggota GAIKINDO tersebut mempunyai kapasitas produksi untuk jenis kendaraan pick-up mencapai lebih dari 400.000 unit per-tahun yang hingga kini belum dapat dipergunakan secara optimal.
Kendaraan-kendaraan yang diproduksi tersebut umumnya adalah kendaraan dengan penggerak 4×2, dan kendaraan-kendaraan tersebut ini sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, mencapai lebih dari 40%.
Kendaraan-kendaraan komersial penggerak 4×2 atau jenis pick-up tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat diseluruh pelosok tanah air. Hal ini juga berkat dukungan jaringan servis bengkel pelayanan purna jual yang tersebar cukup luas. Sedangkan untuk kendaraan jenis penggerak 4×4 juga dapat diproduksi, namun memerlukan waktu untuk persiapan produksinya.

Total Pekerja 1,5 Juta Orang
Selama beberapa tahun belakangan ini penjualan kendaraan bermotor dalam negeri sedang tertekan, mencatat angka penjualan dibawah 1 juta unit dalam kurun waktu satu tahun. Namun, angka ekspor kendaraan bermotor dari Indonesia ke-93 negara, dapat mencapai lebih dari 518.000 unit.
Terkait dengan rencana impor kendaraan dari India, Putu Juli Ardika selaku Ketua Umum GAIKINDO meyatakan keyakinan GAIKINDO bahwa perusahaan kendaraan bermotor di Indonesia mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
”Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri-industri pendukungnya, di antaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” ungkapnya.
Putu Juli menambahkan bahwa bila diberikan kesempatan dan waktu yang memadai maka anggota-anggota GAIKINDO dan Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) sebagai bagian dari ekosistim Industri Otomotif Nasional diharapkan bisa ikut berpartisipasi untuk memenuhi kebutuhan kendaraan-kendaraan komersial tersebut.
“Sehingga kami dapat mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri yang ada serta menghindari terjadinya pengurangan tenaga kerja yang saat ini berpotensi cukup tinggi karena penurunan permintaan pasar dalam negeri selama beberapa tahun belakangan,” ujarnya.
Tetapi di pemberitaan yang santer terbaca dan viral, sudah terjadi bahwa kebutuhan atas kendaraan komersial diperoleh dari negara India. Salah satu alasan pilihan itu karena harganya yang 50% lebih murah ketimbang produk nasional. Sayang ya, boleh jadi mungkin pendekatannya dengan industri atau birokrat nasional di segala lini kurang mulus, atau ada apa yang belum terungkap?

Positif Impor
Menurut berita di berbagai media, perusahaan otomotif asal India itu adalah Mahindra, yang bakal mengekspor 35 ribu unit mobil pikap model Scorpio Pick Up ke Indonesia. Ini terkait pesanan PT Agrinas Pangan Nusantara untuk operasional program Koperasi Merah Putih.
“Dengan menerapkan Scorpio Pick Up sebagai bagian dari koperasi, kami memperkuat tulang punggung logistik yang andal yang menghubungkan petani ke pasar dengan lebih efisien,” ucap CEO Automotive Division Mahindra & Mahindrs Ltd. Nalinikanth Gollagunta. .
Sementara itu perusahaan India lainnya adalah Tata Motors yang telah menandatangani perjanjian untuk memasok 70.000 kendaraan untuk digunakan di Indonesia guna mendukung kegiatan pertanian dan logistik pedesaan. Termasuk transportasi dari lahan pertanian ke pasar dan pergerakan barang di seluruh negeri.
Tata Motors akan memasok masing-masing 35.000 unit Yodha (pikap) dan Ultra T.7 (truk ringan) untuk anak perusahaannya, yakni PT Tata Motors Distribusi Indonesia. Kendaraan ini juga siap dikirimkan ke PT Agrinas Pangan Nusantara.
NextID What's Next ?
