Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Cinta adalah satu kebebasan yang positif ketika proses dilakukan untuk sebuah karya. Cinta juga yang mendorong daya kreasi seseorang untuk menggulirkan karyanya tanpa henti. Banyak benda, materi, ornamen yang bisa memicu kreatifitas sehingga karya muncul di permukaan.
Katakanlah, karya ada dengan menggunakan bahan yang alami, yaitu kekayaan tanaman. Ketertarikan akan kebesaran alam mendorong langkah dan mengukuhkan niatnya untuk menciptakan ecoprint. Itu yang dilakukan oleh Lindawati Soegianto sejak tahun 2021, di tengah berkecamuknya Covid.
Rentang waktu yang singkat itu, kini karya Linda demikian ia sering disapa telah dinikmati masyarakat di beberapa kota. Katakanlah, pencinta ecoprint di Jakarta, Bogor, Nusa Tengara Timur (NTT) tentu di kotanya sendiri dan di Jawa Tengah.hingga ke Hong Kong Keberadaan ini memicunya untuk terus mengembangkan karyanya. Untuk itu ia bergabung dalam perkumpulan yang membedah karya sejenis, plus melakukan uji coba dengan berbagai jenis tanaman.

Mulai dari kulit batang, sari bunga, kelopak bunga, dedaunan, di samping memperhatikan tekstur yang akan keluar di permukaan jika menggunakan bagian dari tanaman yang dibidik. Ini tentu dibutuhkan sebuah ketekunan kerja yang konsisten mengingat betapa maha luasnya tanaman di alam lepas. Nah, kembali lagi karena rasa cinta maka tantangan demi tantangan dalam berkarya dianggap pelajaran yang tak pernah pupus.
Karya Linda terus bergulir cepat. Itu setidaknya bisa dilihat dari lembaran ecoprint yang dihasilkan. Betapa tidak, masyarakat dari berbagai jenjang usia bisa memiliki karyanya. Seperti yang dikatakan, “Dengan ecoprint ini saya mengajak para muda untuk mengenakan pakaian yang ramah lingkungan. Maka otomatis merekapun mencintai bumi kita yang maha kaya untuk jenis tanamannya,” Jelas Linda yang tergabung di Asosiasi Eco Printer Indonesia (AEPI) Jawa Tengah Wilayah Kudus.
Patut diakui bahwa kecerdasan seseorang memandu langkahnya yang tak terduga. Yah, langkah Linda menggunakan kekayaan alam secara positif dan mengajak banyak kalangan untuk cinta dan menjaga lingkungan dengan baik. Seperti yang dikatakan Chuck Knox – pelatih American football legendaris asal Amerika Serikat bahwa orang yang selalu memiliki rencana dalam menata pekerjaannya akan berhasil karena tidak ada pekerjaan yang terjadi secara kebetulan.
Linda juga bercerita bahwa ia percaya bahwa Tuhan sudah menciptakan pewarnaan alam yang biasa cantiknya, dan banyak tanaman yang dilihat sebelah mata karena hidup di semak semak dan itu dianggap tak berguna. Tetapi bagi Linda justru sebaliknya karena itu cikal bakal pewarnaan yang spesifik. Walau setiap langkah usaha tentu tak luput dari tantangan.
Sebagai contoh Linda menjelaskan ketika kemarau tiba tanaman liar mengering. “Maka saya harus membeli dedaunan dari orang yang masih berada di pegunungan, dan daun tersebut relevan untuk di ecoprint. Sementara jika curah hujan banyak maka tidak bisa menjemur kain di bawah terik mentari, dan cetakan daun tidak sempurna menempel di kain. Hal ini tentu harus dicarikan solusinya. Ini yang sedang saya telaah,” ujarnya.

Proses tentu menentukan hasil, rasa optimis Linda Soegiono untuk menembus pasar di antara karya yang bermunculan tentu patut diakui bahwa ia sebagai pelaku bisnis ekonomi kreatif suka akan tantangan. Dalam tantangan itu jika disikapi dengan positif pastinya menjadi kekuatan yang sulit untuk diukur dengan mata uang apapun, karena karya seni bukan hanya untuk dikenakan sebagai pelengkap, namun juga dinikmati sebagai kajian alam yang tak terbatas.
Inovasi dari Hari ke Hari.
Hati yang penuh syukur bukan saja kebajikan terbesar, tapi induk dari segala kebajikan yang lain, begitu kata Cicero – filsuf dan orator ulung Romawi. Rasa syukur itu juga yang selalu diucapkan oleh Kinto Wardani- desainer fesyen. Desainer yang satu ini ketika menggelar karyanya di banyak kesempatan selalu mengucap syukur. Nurani dan kebajikan menyatu maka lahirlah karya yang tak henti.

Nine Round by Kinto Wardani. Begitu ia tampilkan dalam kiprah busana yang terfokus menggunakan tenun etnik Badui, Batak, juga lurik dan batik. Sesekali terlihat karya Kinto mengetengahkan tenun dari berbagai daerah dari bumi Nusantara. Piawai? Tentu, karena cinta negeri dengan cinta karya berpadu dalam kecerdasan yang belakangan dia banyak melibatkan para muda untuk tampil dengan karyanya.
Sentuhan kekinian itu bisa diamati dari pelengkap fesyen yang dipilih. Mulai dari sepatu, aksesori, ikat kepala, penghias leher dan pergelangan tangan. Paket “muda” itu sangat terasa. Sehingga karya-karya Kinto juga masuk dalam perjalanan ekonomi kreatif. Ini dua hal yang saling menopang.
”Karya saya untuk kantong anak muda tentunya sulit. Saya pernah muda dan pernah merasakan hal itu. Maka agar karya ini menggapai para muda maka saya menggunakan kain Troso. Keinginan saya yang utama bukan profit tapi mereka bisa mengenal seni budaya sendiri dan itu tentu dibutuhkan kepedulian mereka agar warisan wastra kita menjadi bagian hidup mereka. Meski dengan wastra yang terjangkau mereka tetap tampil chic dan bisa menjadi busana sehari-hari. Itu yang menjadi kebanggaan saya. Apalagi ketika melihat anak muda yang berkain, wah bangga rasanya,” ungkap Kinto Wardani.
Kinto terus berkiprah dalam usaha mengenalkan wastra Indonesia lebih dalam lagi ke komunitas pada muda. Ia memperkenalkan tenun melalui media sosial, di samping mengikuti Indonesia Fashion Week (IFW). “Itu maksimal saya lakukan karena menurut saya itu IFW bukan regional. Meski dua tahun terakhir saya tidak ikut fashion show di sana namun saya tetap gelar di pamerannya, setidaknya tarif yang tertera masuk dalam kocek para muda,” tegasnya.
Apa yang ia lakukan tentu punya satu harapan, mungkin sama dengan harapan para fesyen desainer lainnya, yaitu agar lebih banyak pihak yang berkolaborasi mewujudkan, melestarikan busana lewat alam dan wastra kita. Dengan begitu ada sifat gotong royong maka akan terasa lebih ringan memikulnya, tapi tujuan akhir tetaplah tercapai. Baik dimulai menciptakan pakaian di awal dengan tenun troso, kemudian lurik dan tenun Badui.

Menurut pandangan Kinto kenyataan ini bukan hanya dalam skup seni budaya namun juga ekonomi. Menginat dengan berkain dan bewastra itu otomatis membantu para pengrajin batik, dan penenun yang jumlahnya cukup besar di tanah air.
Mengintip kiprah Kinto Wardani dalam menjatuhkan pilihan karyanya yang menggunakan tenun dan batik, menggelitik untuk disimak. Ia tak peranh menyerah untuk belajar mendalami tenun, juga tak pernah henti membidik pasar fesyen via antara lain ekonomi kreatif.
“Saya mulai berkarya dengan menggunakan tenun troso, kemudian lurik dan tenun Badui. Berlanjut menggunakan songket Palembang, blonsong Bali, atau Lombok. Malahan terakhir saya menggunakan tenun Nusa Tenggara Timur. Kalau kain Badui Lombok, juga Bali masuk dalam kategori kain menengah dan atas. Bagaimana agar terlihat chic tentu harapan desain haruslah tepat. Sesuai dengan pola yang lagi in,” ungkapnya lagi.

Perempuan Menjaga Kearifan Lokal
Kiprah dua puan di atas telah mencatat prestasi yang mumpuni. Dari mencintai alam, juga seni dan budaya mereka tuangkan dalam kancah ekonomi kreatif. Tentu karya itu dapat dinikmati dan dimiliki oleh masyarakat luas. Sungguh kodrat perempuan tak hanya menyusui dan melahirkan namun juga pemegang bagian ekonomi sebuah negara, sekaligus menjadi menara gading doa untuk keluarga.
Dengan kasih mereka berkarya, dengan cinta mereka mencipta maka kehidupan pun menjadi lebih hidup. Nikmati karya anak bangsa dengan bangga dalam situasi apapun. Jika bukan kita lalu siapa?
NextID What's Next ?
