Jakarta, NextID – Banyak cara orang mengungkapkan rasa cintanya terhadap NKRI, melalui kinerja di berbagai sektor kehidupan. Mulai dari pendidikan, sosial juga budaya. Nah, edukasi kemasyarakat yang dilakukan Poppy Judith adalah melalui budaya yang senantiasa dinamis.
Ia berkiprah dengan tim teater dan fotografernya mengunggah kekuatan budaya untuk kembali mengingatkan kepada khalayak bahwa budaya merupakan salah satu ikrar perjuangan anak bangsa untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan nilai-nilai moral bangsa ini. Yuk simak hasil bincang dengan Judith Indah Haryati berdarah Palembang yang akrab dipanggil Poppy itu.
Tanya/T : Terkesan Anda konsen dengan seni tradisi dan budaya. Apa alasannya?
Jawab/J : Betul, tiga tahun terakhir saya berusaha keras memberikan konstribusi dalam usaha menjaga sekaligus melestarikan. Tentu pula ikut mengedukasi masyarakat agar mau berperan serta melestarikan budaya kita. Tujuannya agar kekayaan budaya ini dapat diwariskan kepada generasi penerus. Contohnya, saya bersanggul juga berkebaya dalam menjalani aktivitas keseharian saya. Di samping bermain gamelan dan menari. Kenyataannya walau tidak drastis namun orang yang saya kenal di media sosial mengikuti langkah saya. Saya sadari semua harus konsisten jika mau melihat hasilnya.

T : Tanggapan dari keluarga dengan langkah yang diambil?
J : Oh, mereka sangat mendorong, bahkan seringkali mereka berkebaya, mengenakan jarik, juga memakai blangkon saat kami berkegiatan. Bahkan di luar itupun, misalnya waktu santai jalan-jalan ke pertokoan atau nonton bioskop, ya dandananya seperti itu.
T : Apakah berdandan seperti itu tak risih, mengingat tidak banyak yang berdandan demikian?
J : Ok, tentu saya sesuaikan semuanya dengan waktu dan tempat. Juga acara yang akan saya hadiri, walau sejauh ini saya lebih dikenal dengan dandanan yang klasik. Misalnya kebaya berdesain klasik, namun di saat santai yah saya kenakan kebaya casual. Sudah tiga tahun saya berkebaya. Dengan begitu kok rasanya semakin hari semakin cinta. Saya jalani dan tidak merasa terbeban. Hampir di setiap kesempatan saya mengenakan pola kebaya.
T : Dalam usaha pengembangan budaya ini, selain selalu berkebaya dan bersanggul ada langkah usaha lain?
J : Contohnya, saya selalu men-support para pengrajin wastra di Indonesia. Membeli wastra saya lakukan langsung dari pengrajin atau penenun. Dengan begitu saya berharap dapat membantu kelangsungan hidup para pengrajin atau penenun. Saya sangat berharap wastra nusantara dapat dipakai dan diwariskan kepada anak cucu kita.

T : Punya harapan apa agar karya tenun kita juga bisa lestari sekaligus berkembang pesat?
J : Ada perhatian serius dari pemerintah,itu pasti diharapkan. Juga pihak terkait, termasuk di dalamnya banyak komunitas, dan pejuang seni budaya di manapun di belahan negeri ini. Kesadaran tanggungjawab moral dan saling bergandengan tangan untuk melestarikan seni budaya bangsa itu mutlak hukumnya.
T : Gimana nih posisi seni-budaya kita menurut Poppy Judith dengan hempasan globalisasi saat ini?
J : Era globalisasi tidaklah bisa dihindari. Akulturasi budaya pasti terjadi dan gak dapat dihindari, mengingat budaya itu dinamis ya. Hanya saja sebagai tuan rumah kita wajib memelihara dan melestarikan keasliannya. Maksud saya budaya yang sudah diturunkan oleh nenek moyang kita, atau generasi belumnya. Kita patut memperindah tapi tidak mengubah pakemnya.
T : Mungkin bisa lebih diperjelas, tindakan apa yang sudah dan akan diambil untuk mempertahankan sekaligus melestarikan budaya Indonesia?
J : Langkah saya adalah menyimak dan mengikuti perkembangan seni budaya yang dinamis itu, dari medsos dan keseharian saya. Saya belajar dari mana saja, karena merasa terlalu banyak yang belum saya ketahui dan pahami. Dan saya mengejawantahkan butir-butir budaya itu ikut dalam ajang teater, melakukan foto dengan sahabat fotografer dengan latar belakang yang berkisah tentang budaya dan seni negeri ini.

Semua itu saya lakukan karena didorong oleh kecintaan saya terhadap seni budaya Indonesia. Negeri ini sungguh luar biasa indah dan kaya budayanya, maka saya merasa terpanggil untuk berperan di dalamnya, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya.
Mungkin saja apa yang dilakukan perempuan jebolan Universitas Tridinanti Palembang dan ibu dari dua putri dan seorang putra itu, bukan hal yang luar biasa karena jika mau jujur di luar sana banyak perempuan yang melakukan hal yang sama. Namun tekad yang konsisten dan mau terus menggali pengetahuan itu patut dihargai.
Tentu diharapkan ke depan ada terobosan-terobosan yang melibatkan gnerasi muda dalam usaha memperkenalkan pola busana tradisional kita, yaitu kebaya. Dengan mereka menjadi pelaku dan terlibat di dalamnya maka rasa mencintai itu akan muncul dan menetap dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rasa cinta terhadap seni budaya itu telah diakrabi manusia sejak dahulu kala, tentu jika dilihat dari keluasan dimensinya, namun hingga saat ini kenyataan itu bagai misteri, kenapa? Karena hanya bisa dirasakan oleh manusia yang memiliki rasa kasih dan komitmen terhadap apa yang mulai dipahami dengan benar.
Mencintai budaya dan seni itu sudah pasti tak lepas dari semua ruang kemanusiaan, sosial, teologis, etis dan estetis. Dibutuhkan sebuah telaah secara sistematik, dan holistik. Betapa tidak, seni budaya itu meniscayakan refleksi dan filosofis atas kehidupan anak manusia secara luas. Dalam budaya ada kemerdekaan, ketulusan, keindahan bahkan keputihan sikap dalam pemenuhannya. (Martha Sinaga)
NextID What's Next ?
