Home / LifeStyle / Leisure / Art / Bisakah “Makan” dari Berpuisi?
puisi tercipta karena sosok tersebut suka melakukannya. Kepuasan apa yang didapat dari menulis larik-larik bahasa kalbu itu? Lalu bagaimana dengan nilai ekonomi kreatif dalam karya tersebut? (MS)

Bisakah “Makan” dari Berpuisi?

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Setiap insan punya pilihan dalam menapaki hidup. Pilihan itu yang mendorong semangatnya untuk menciptakan sesuatu. Penciptaan itu tentu diikuti dengan motivasi. Motivasi itu menjadi kuat karena dilandasi rasa cinta, di samping rasa memiliki dari hasil yang diciptakan.

Katakan seorang penyair atau pengiat sastra melahirkan bait puisi. Kenyataan bicara, puisi tercipta karena sosok tersebut suka melakukannya. Kepuasan apa yang didapat dari menulis larik larik bahasa kalbu itu? Lalu bagaimana dengan nilai ekonomi kreatif dalam karya tersebut? Mengapa hingga saat ini masih berhamburan pendapat yang mengatakan bahwa masih sulit meraup uang dari karya puisi? Benar begitu?

Mungkin dari  penyair yang menulis puisi di bawah ini belum dapat dikatakan mewakili untuk menjawab pertanyaan di atas,  namun mengapa rentang waktu yang cukup lama mereka “duduk manis” menulis puisi sehingga karya itu dapat dinikmati masyarakat di belahan negara lain. Juga dijadikan tontonan dan penyiaran musikalisasi, bahkan menjadi bahan kajian khusus di ladang kesusastraan dalam dan luar negeri.  Puisi itu cinta.

Sebagaimana yang dikatakan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, kepada penulis bahwa menulis puisi itu kita menghargai diri sendiri, menciptakan semangat dan enerji, bahkan mengukir sejarah hidup.

Hakikat Manusia itu Satu

Mencintai sebuah karya adalah dorongan untuk masuk dalam proses panjang yang dinikmati. Mengapa? Karena dalam cinta ada kemerdekaan, ketulusan, keelokan bahkan penyucian yang mengalami pemenuhannya. Mencintai itu tidak ada unsur pemaksaan, tulus karena berkarya dilakukan tidak untuk sebuah imbalan apapun selain berkarya dalam cinta itu sendiri.

Elok, karena larik larik puisi itu memang harmoni, disebabkan penyair mengekspresikan diri dan bahasa hatinya. Bukankah menabur cinta dari rasa yang paling pribadi adalah jalan untuk memahami manusia lain dan lingkungannya? Mungkin itu sebabnya Khalil Gibran dalam puisinya menulis, “dan dia yang tahu diri tentang dirinya, tentang semua orang dan tentang segala sesuatu.”

So, apakah dalam cinta maka peran seseorang akan didudukkan di tangga ke sekian? Tidak juga! Bagaimana pun antara akal dan rasa perlu seimbang. Emosi dibutuhkan dalam menulis puisi, karena tanpa itu larik puisi akan garing, hampa dan jauh dari makna indah.
Keindahan dalam cinta yang membuat cinta lebih cenderung berada dalam wilayah hati dan perasaan, serta memiliki karakter yang dapat dirasakan oleh pembaca puisi itu sendiri.

Adalah hakikat manusia itu satu, menyukai dan mencintai hal-hal yang indah. Disadari bahwa keindahan itu punya tingkatan. Mulai dari keindahan paras, pikiran, perangai yang berujung pada keindahan mutlak. Walau Plato menulis keindahan adalah dua dimensi jembatan. Dimensi partikular dan dimensi universal. Sementara  Rumi mengatakan soal cinta dalam bait puisinya  “Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan, cinta memiliki banyak pernyataan melampui pembicaraan…. Tatkala ia menyerumu engkau akan menceritakan hikayatnya.”

Seruan itu rasanya datang kepada personil penyair Ewith Bahar yang karya pusinya telah melalang ke manca negara.

Ewith Bahar Ist

Cinta adalah…

Cinta adalah secawan kopi yang ketika
tandas kau teguk
menyisakan nyeri rindu yang manis
Cinta adalah sepinggan harapan
yang meski kadang porsinya kecil
namun tetap memberimu energi

Cinta adalah setangkai mawar yang ketika

durinya menusuk jemari kau kesakitan

Tapi tetap tak melepaskan bunganya

Cinta adalah menemui dia yang tak sempurna

Tapi kau tak henti memujanya

Cinta adalah sebuah sekolah tempat kita
tak berhenti belajar memaklumi dan memaafkan, meski
pelajarannya hanya satu setiap waktu:
kesalahan atau kekhilafan
(Ewith Bahar – Jakarta, Ferbuary 2023)

Martha Sinaga Ist

Terkait cinta, berikut perspektif penulis yang terambil dari Kumpulan Puisi “Cinta, Cinta dan Cinta”

Cinta Ilahiyah

Dalam kemasan apapun
dalam rasa bagaimanapun
dalam tingkat apapun
engkau mencintai

Itu bagian yang terkecil dari
cinta Ilahiyah…

Ketuklah pintu
Ia ada di sana

(Martha Sinaga – Bogor, 18 Maret 2005)

Cinta itu semakin dirasakan keutuhannya ketika alam dan hati sang penyair menangkapnya. Simak karya dari Franky F. Lingga – Director Bandung Leadership Connection.

Franky F. Lingga Ist

Anggrek dan Waru

Saya heran dengan waru tua
Dia selalu bahagia
walau daunnya kering diambil orang.

Ia senang walau batangnya diambil orang untuk jembatan
dan diinjak orang
Waru tua tetap bangga
Bahkan dahanya itu tumbuh pula!

Tapi jika musim tiba
Waru tua diterpa angin dan kedinginan
petir menyambar-nyambar rambutnya
Waru tua ketakutan
Ia gemetar tidak tidur semalaman
Saat itulah saya benar benar kasihan..

Inilah kisah dengan waru tua
walau ia hanyalah sebatang waru yang sangat tua
namun dialah waruku
yang sangat menyayangiku

(Franky F. Lingga – Pematang Siantar 1991)

Rasa cinta bisa saja menimbulkan sebuah rasa yang berbalik dari cinta itu sendiri dan Ayu Yulia Djohan pun menulis yang terambil dari bukunya “Rindu Beriak di Sungai Siak.”

Ayu Yulia Djohan Ist

Persetan dengan Cinta

Gairah ikuti langkah
kaki mewakili hati
Berjalan melupa hari

Persetan dengan cinta!  

(Ayu Yulia Djohan – Jakarta, September 2025)

Cinta itu kadang bersahabat dan bahkan sebaliknya dalam kehidupan manusia sejak dulu, tentu saja dari segala dimensinya. Maka tak heran ketika cinta itu jadi bahan garapan para penyair khususnya dan pelaku seni pada umumnya. Nah, di bawah ini  adalah penyair muda Ihwan Nugraha menulis larik puisinya.

Ihwan Nugraha Ist

Eros Saat Tertidur

Aku ingin jadi Eros yang sederhana
Diam-diam jatuh cinta kepadanya
Panahku meleset, arah berubah
Kupikir cinta ini akan berbalas juga

Ternyata sayapku ikut patah
Kupeluk bayangan yang tak ramah
Tertinggal di jalan yang tak searah
Mungkin aku pun kehilangan arah

Bolehkah aku mencoba lagi? Jadi Eros yang percaya diri
Meski luka masih sembunyi
Aku ingin mencintai
sekali lagi

Eros tertidur di musim ini
dan aku pun menunggu
dalam sunyi

(Ihwan Nugraha, 14 Februari 2025)

Paparan cinta dari masing-masing penyair tentu merupakan kata hati terdalam. Itu kenyataannya bahwa tak sekadar bisa memberi makan secara lahiriah namun memberikan kehidupan yang mampu menghidupi sang penyair, bahkan generasi berikutnya.

Tanpa puisi, adakah kita bisa menyimak karya besar para filsuf dunia? Atau bisakah kita menyibak jendela pengetahuan sastra milik dunia. Bukankah kenyataan itu tak bisa diperjual belikan dengan mata uang manapun.

Karya puisi adalah samudera yang kedalamannya tak bisa diukur, karena bait yang diisi dengan larik-larik harmoni meniscayakan refleksi filosofi atas karya puisi itu sendiri.







About Gatot Irawan

Check Also

Mengolah Kreasi dari Tanah Leluhur

Oleh Martha Sinaga Jakarta, NextID – Cinta dan ketertarikan sudah diakrabi insan sejak dahulu dengan segala …

Leave a Reply