Home / LifeStyle / Leisure / Art / Batik Menitik Kasih
Riana Kusuma Astuti rutin bersafari untuk lebih memperkenalkan batik di setiap kesempatan formal. Ist

Batik Menitik Kasih

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Berbahagialah orang yang diberi kesempatan melakukan sesuatu sekaligus menyukai pekerjaan maka terobosan dan inovasi terus bergulir. Apalagi jika apa yang ditekuni itu merenda benang merah yang sudah diwariskan pendahulunya. Itu yang dialami pengusaha batik Riana Kusuma Astuti. Riana, demikian ia akrab disapa, merupakan generasi ke-3 yang dipercayakan untuk melestarikan sekaligus melakukan pengembangan batik di ruang lingkup keluarganya. Klop sudah kebahagiaan itu.

Ia mengaku beruntung karena diberi waktu melestarikan sekaligus mengembangkan motif-motif batik para pendahulunya. Menurut Riana yang juga anggota Komunitas Cinta Berkain Indonesia itu, sepanjang usaha dijalankan batik-batik itu tidak hanya menjadi koleksi masyarakat dalam negeri, namun juga oleh Kekaisaran Jepang. Satu gebrakan seni budaya warisan non benda yang patut diacungan jempol. Walau ia mengaku belakangan ini pembelian pihak buyer di Jepang nilainya menurun, namun tetap memesan batik tulis dari Batik Riana Kusuma.

Karena keahliannya, kerap Riana menjadi pembicara terkait perbatikan. Ist

Seni Budaya yang Diwariskan

Menurut cerita Riana, dialah satu-satunya yang meneruskan usaha orangtua dan pendahulunya. Bermula dari masa kecilnya yang sering dibawa orangtuanya berjualan batik di pasar Klewer Solo. Ketika itu Riana berusia 10 tahun. Karena seringnya mengikuti sang ibu berjualan batik, maka otomatis ia sering berhadapan dengan banyak pembeli.

Keberadaan itu  terus membentuk pribadinya semakin luwes menghadapi calon pembeli. Dan ternyata perjalanan itu menjadi keuntungan tersendiri dalam ia memperkenalkan batik-batiknya setelah berkecimpung di bisnis batik.

”Karena saya berasal dari Solo, maka tempat usaha pertama ya di kota Solo. Hingga sekarang tempat usaha saya masih ada di sana, dan kami memperkerjakan banyak pengrajin batik. Pengrajin saya ada yang sudah bergabung sejak 20 tahun lalu. Mereka bisa membatik motif klasik hingga motif -motif yang disukai kalangan milineal. Sehingga batik Kusuma bisa dikenakan dengan nyaman dari usia muda hingga 60-an,” jelasnya.

Ada nilai plus yang mendorongnya untuk terus melestarikan sekaligus mengembangkan batik. Pasalnya, ia pahami bahwa motif-motif batik itu semula dihasilkan olah para raja-raja. Maka sebagai generasi penerus, ia tetap memegang pakem-pakem yang ada dalam pengembangannya, dan tidak meninggalkan nilai seni budaya yang bisa ditemukan dalam setiap motif.

”Misalnya motif parang, itu memberikan semangat. Truntum dan kawung juga mengandung nilai tersendiri, ada doa, ada nilai-nilai luhur dari seni budaya sehingga jika dikenakan memberi keteduhan,” sibak anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) itu.

Buah usahanya berbuah manis, batik Riana dikenal luas. Ist

Waktu bergulir, kerja keras dijalani maka pada tahun 1997 satu butik lagi dibuka di bilangan Bintaro hingga saat ini. Tak hanya itu, beberapa gerai Batik Riana Kusuma juga ada di pertokoan besar di Jakarta, antara lain di Pondok Indah Mall, Alun-Alun Grand Indonesia. Bahkan untuk terobosan pasar, maka penjualan tidak hanya offline namun juga online.

Kepekaan gerak bisnis Riana dalam menjaring konsumenpun mendorongnya untuk sering mengikuti pameran di berbagai tempat. ”Pada 1998 saya mengikuti pameran wastra di Departemen Perindustrian. Dari situ saya bertemu dengan penyuka wastra, yang hingga kini mereka loyal untuk mengenakan batik-batik tulis kami,” kenangnya.

Berfoto bersama dengan relasi dan sahabat pencinta batik. Ist

Usaha untuk menawarkan karya batik Riana Kusuma dilakukan tiada henti. Tentu di samping ia mencermati derasnya persaingan. Diakui bahwa kompetitor terus bermunculan, maka pengembangan  harus terus dilakukan dengan catatan pakem-pakem tidak ditinggalkan. Kenyataan kini, digital print juga tak dapat dihindari. “Saya sikapi dengan memperkerjakan penjahit untuk batik print, agar ketika  menembus pasar kami tawarkan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Menyibak Jendela Dunia

Masa kecil Riana dikelilingi orang-orang yang mengenal seni-budaya wastra dengan baik. Riana bertumbuh di tengah kehidupan demikian, namun ia tak terpikir untuk berkecimpung di dalamnya suatu hari nanti. “Saya hanya berpikir ingin menjadi seorang duta besar. Dengan begitu saya bisa keliling dunia, namun ternyata dengan usaha yang saya jalani ini saya bisa berkunjung dan menikmati alam beberapa negara,” akunya lagi.

Riana menjelaskan selendang bermotif klasik di suatu perhelatan. Ist

Jika Sydney J. Harris (jurnalis kondang Amerika) mengatakan, ancaman nyata sebenarnya bukan pada komputer melainkan ketika manusia berpikir seperti komputer. Teknologi berkembang luar biasa namun sisi-sisi kemanusia tetaplah terpenting. Pribadi yang dilengkapi hati nurani harus mampu memaknai perkembangan teknologi, agar tidak menghilangkan nilai-nilai yang luhur dari sebuah karya.

Ya, bisa dipahami jika Riana  berhasil terbang menyibak jendela dunia, karena jika dilihat dari harga kain batik yang ia jual kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 15 juta. Nilai yang mumpuni tentunya, dan itu menjadi pundi-pundi yang bisa memfasilitasi ke mana ia ingin melangkah.

Pengalaman hidup tentunya membuat orang lebih cerdas. Terkesan bahwa Riana, menyediakan waktu untuk mendengarkan dalam menjalankan usahanya itu, sehingga kualitas karya yang mengalir dari kecerdasannya itu mengharmoniskan antara aktivitas mendengar dan melahirkan karya terbaik.

About Gatot Irawan

Check Also

Mengolah Kreasi dari Tanah Leluhur

Oleh Martha Sinaga Jakarta, NextID – Cinta dan ketertarikan sudah diakrabi insan sejak dahulu dengan segala …

Leave a Reply