Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Wastra memiliki kekuatan yang melampaui indahnya kata karena di dalamnya mengandung perjalanan sebuah peradaban dan kearifan lokal yang sepatutnya dimaknai dari banyak sisi. Katakanlah dari sisi tradisi hingga arkeologi, dari sudut sosial hingga agama di mana kain itu dibuat atau ditenun. Tak kalah penting untuk dipahami dalam sehelai wastra itu dibutuhkan sebuah perjalanan seni dan kesabaran yang panjang.
Dengan semua itu maka bisa disimpulkan bahwa dari sehelai kain tertera rentang dan jalinan pendidikan yang sangat panjang untuk ditela’ah, dikaji dalam rentang waktu tertentu.
Kenyataan itu kini menarik perhatian para muda di negeri ini, kemudian ketertarikan itu diejawantahkan dengan cara yang mereka pilih. Baik itu secara berkelompok atau pribadi lepas pribadi. Membanggakan hati karena para muda bergerak dalam sebuah kesadaran yang mulai muncul bahwa wastra adalah bagian dari kekayaan negeri ini yang patut dipertahankan, plus dilestarikan sekaligus dikembangkan.

Kebesaran Sehelai Wastra
Mengingat wastra itu mengandung nilai budaya dan filosofi dari leluhur yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya maka bisa dicerna melalui tenun ikat, batik, songket dan tenun itu sendiri mencerminkan kekentalan kearifan lokal. So, itu tentu gudang pengetahuan.
Dewasa ini wastra diolah oleh tangan-tangan terampil. Setidaknya dari para desainer yang menarik ke permukaan. Antara lain membidik pangsa pasar para muda berupa outer, rompi dengan sentuhan aksesori yang lebih modern. Tak hanya itu, dalam proses pembuatan wastra, dijumpai tata kelola ramah lingkungan dan bisa dicatat mengisi ekonomi kreatif.
Kenyataan itu dijabarkan oleh para desainer fesyen sehingga didapati tampilan yang lebih menarik dan elegan. Satu di antara perancang busana tersebut adalah Kinto Wardani. Tampilan karyanya sering diperuntukan untuk kawula muda. Spesifik karya Kinto dibedah dengan menggunakan tenun ulos Batak dan tenun Badui. Sikap cerdasnya dilakukan dengan mendampingi pendidikan para muda untuk mengenal berbagai tenun dan kain dalam banyak kesempatan.
“Saya juga mencoba mengajarkan mereka bagaimana berkain dengan mudah. Padu padan motif seperti apa yang bisa mereka kenakan di banyak kesempatan. Ke kampus, bersantai atau harus menghadiri acara-acara yang sedikit resmi. Ternyata mereka tertarik dapat dilihat mereka tak beranjak hingga acara berakhir, “ jelas Kinto Wardani.
Suatu sikap yang harus didukung banyak elemen tentunya, karena dengan seringnya acara sejenis digelar. Setidaknya sapaan agar para muda semakin mencintai budaya dan seni tinggalan leluhur ini semakin mendalam. Itu baru di ukur dari tampilan luar atau gaya busana. Belum dicekoki dengan filosofi yang terkandung dalam sehelai kain.
Wastra dalam Sastra
Bukankah kemajuan budaya sebuah bangsa bisa dilihat dari helai-helai wastranya, bahkan budaya bertutur, baik itu tulisan atau pun verbal bisa direnda dari helai-helain tenun dan batik. Tindakan cerdas semacam itu ternyata juga sedang ditangkap oleh sebuab komunitas para muda yang mereka namai Pena Penulis (Penalis).

Penalis adalah komunitas yang dimotori dan didirikan oleh Jaxson Denrophile. Sarjana teknik yang satu ini mengaku merasa ”sreg” untuk mendalami sastra lama. Hatinya pun terpana dengan wastra yang memang pada akhirnya melengkapi panggung sastra mereka. Jadilah wastra di dalam sastra.
”Setiap helain tenun punya roh yang layak diperlakukan dengan penuh hormat. Kelompok kami memiliki perspektif baru di mana wastra bukan sekadar kain, lebih dari itu arsip budaya yang sedang mencari jalan pulang ke hati setiap insan. Kami akan membagi semangat ini kepada para muda khususnya, tentu kepada khalayak sosial yang lebih luas hingga menjadi bagian laku sehari hari,” tegasnya.
Pergulatan dalam menebar rasa cinta kepada sastra dan wastra, kelompok ini memiliki jenjang kerja di antara keanggotaan sehingga mereka berlari untuk menyatakan di berbagai layar medsos tujuannya, apalagi jika tidak untuk banyak lapisan para muda dan memberi wadah untuk para muda bisa berkarya. Bravo!

Jika batik indonesia resmi diakui oleh Unesco pada 2 Oktober 2009 sebagai warisan budaya tak benda pada sidang Unesco di Abu Dhabi, tentu ini sebuah perjalanan budaya seni yang mengaggumkan atas maha karya anak bangsa. Namun itu tak cukup berhenti hingga di situ karena wastra ini pun simbol persahabatan dan penunjuk tingkat empati dan media ekspresi bagi para muda.
”Betul saya setuju bahwa wastra itu simbol persahabat. Wastra dengan berbagai desain pada akhirnya menyatukan rasa keindahan dari si pemakai. Saya sangat berharap para muda sebagai generasi penerus mengenal dan mempelajari batik serta tenun lebih dalam lagi sebagai warisan kita sebelum kita mengemasnya sebagai unsur utama dalam dunia fesyen global. Sebagai warisan budaya bangsa, wastra bisa menjadi bagian ekosistem dan potensi karya anak bangsa, baik itu di altar fesyen mau pun literasi yang kokoh,”ungkap perancang busana senior Tuty Cholid.
Dia menyarankan kepada pemerintah harus punya langkah untuk melibatkan generasi muda di tiap ajang seni. “Juga di dalam R&D pun sudah disesuaikan dengan perkembangan industri saat ini, baik inovasi secara digitalisasi yang membangun produk berkelanjutan (sustainabel) maupun perkembangan tenun di setiap daerah yang potensial dengan hasil seni tenun atau batiknya. Libatkan para muda. Mereka itu generasi penerus,” tegas Tuty Cholid.
Sejalan
Apa yang dianjurkan Tuty itu juga yang diharapkan penulis dan pemain teater aktif, Ihwan Nugraha. Akuntan muda ini berpendapat bahwa komposisi antara pencerahan wastra dan alur berkesenian hendaknya sejalan. Dengan begitu para muda bisa memahami dengan baik warisan yang berupa wastra ini secara berkesinambungan.
Idealnya tentu dilakukan oleh banyak pihak yang berkompenten. Ihwan secara pribadi maupun berkelompok telah melakukan penyerapan pelajaran tentang wastra. Baik sifatnya berdiskusi, juga menelaah melalui literasi yang ada dan sekaligus menulis tentang wastra dan dikemas dalam sastra lama puisi.
Langkah hebat, karena penulis akan membuat dirinya penting jika ada kata-kata yang membuatnya bisa menciptakan rangkaian kalimat penuh makna dan pesan yang akan disampaikan tepat sasaran. Mengulik gerak pena para Penalis, itulah yang sedang mereka lakukan. Tentu setiap ajang yang digelar wastra berupa tenun atau kain batik juga yang melengkapi jatidiri mereka sebagai anak bangsa negeri ini.

Wastra Dulu dan Kini.
Jika berbicara tentang tenun rasanya tak luput dari pengalaman seorang kolektor, budayawan, desainer plus penulis Torang Sitorus. Memang kini banyak alat tenun dan alat penyangah sehingga helai tenun bisa muncul dalam waktu yang sudah diatur seturut agenda pekerjaan. “Tapi di kala dahulu tantangan dalam menghasilkan ulos itu penuh tantangan dan perjuangan. Dalam kondisi seperti itulah justru menyibak kecerdasan dan kepekaan sang penenun,” ujarnya.
Ia berkisah lagi, ketika itu penenun melakukan pekerjaannya di halaman yang tak beratap. Mereka duduk dengan alat tenun yang sederhana. Ketika setengah jalan menenun, hujan petir melanda. Mereka mengangkat peralatan sekaligus kain yang sudah setengah jadi. Tanpa ada catatan motif yang sudah diterapkan, keesokan hari penenunan itu meneruskan pekerjaannya.
“Dan mereka bisa menyusun motif itu simetris dan persis dangan motif terdahulu saling kait mengkait. Artinya apa, dalam menenun itu dibutuhkan rasa yang sangat halus, konsentrasi penuh, dan pembuatan tenun juga jelas. Terlihat dalam sehelai kain makna tradisi itu tidak hilang. Bahkan di ajaran agama, atau kepercayaan di mana kain itu ditenun, tertera,” ujar Torang Sitorus.
“Soal pewarnaan alam untuk tenun ulos, sejak dulu mereka sudah menerapkan itu. Dari jenis daun, kayu, batang, dan bunga tertentu yang mereka gunakan untuk mewarnai ulos. “Kurang hebat apa coba para pendahulu kita,” kisah kolektor kain yang sejak lama juga telah menggunakan pewarna alam untuk karyanya.
Peradaban Sebuah Bangsa
Tak berlebihan jika dikatakan sehelai kain penuh dengan literasi dan sastra yang bisa menunjukan peradaban sebuah bangsa. Dilengkapi pendapat kurator seni, Fajar Sidiq Sukirnanto bahwa wastra menjadi sarana ekspresi indentitas diri utama bagi generasi milenial dan gen Z.
“Wastra menjadi jembatan yang menyatukan nilai tradisional dengan selera moderen – kontemporer lewat kreatifitas yang tak putus, dengan ekplorasi menggunakan warna-warna baru, teknik daur ulang yang ramah lingkungan, misalkan mendaur ulang limbah tekstil. Langkah-langkah ini membuat wastra semakin dekat dengan kehidupan keseharian mereka dan menumbuhkan peluang ekonomi kreatif yang positif,” tegasnya.
Dia menambahkan, melalui media sosial dan jejak digital dari para konten kreatif yang memanfaatkan budaya fomo dan flexing itu kan sudah menjadi kecenderungan generasi muda kini. “Tapi keharusan untuk membaca literasi, mengunjungi museum, menulis wastra dan sastra harus seiring, sehingga kearifan lokal dapat dicerna dengan baik. Melestarikan budaya tradisi dan menjaga eksistensi di tengah arus zaman, mutlak dilakukan,” tegas Fajar Sidiq Sukirnanto.
Jika Woodrow T. Wilson (Presiden Amerika Serikat ke-28) mengatakan, kita bisa berkembang dengan impian, maka bermimpilah dengan enerji yang besar untuk menggerakan kemampuan terbaik. Itu akan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang memiliki kekuatan dalam menghargai kekayaan peninggalan leluhur. Antara lain yang berupa wastra dan selanjutnya lebih menyerahkan tongkat estafet kepada generasi penerus. Merekalah pewaris itu.

NextID What's Next ?
