Home / LifeStyle / Leisure / Art / Arti Cinta dan Warisan Bagi Torang Sitorus
Torang Sitorus berlatar belakang ulos yang dihibahkannya untuk Museum Tekstil Jakarta, baru-baru ini. (MS)

Arti Cinta dan Warisan Bagi Torang Sitorus

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Bicara tentang cinta dengan berbagai versi dan makna selalu menarik untuk disimak. Ketulusan cinta pada hakekatnya melambangkan anugerah Tuhan. Lantas apakah dengan begitu peran akal menjadi terpinggirkan? Pasalnya sering yang terjadi ketika mencintai perasaan subyektif dan emosi berada di urutan awal. Begitukah? Tidak juga! Karena setiap orang menghayati cinta dengan caranya sendiri. Tak lepas dari kondisi historis dan psikologis yang melingkupi hati seseorang.

Ihwal cinta itu lebih merupakan penghayatan dan pengalaman ketimbang urusan perumusan dan pendefinisian. Apalagi jika cinta itu diberikan oleh seorang ibu kepada putranya. Itu yang dialami oleh Torang MT Sitorus dalam perjalanan hidupnya menggengam profesi budayawan, kolektor, pekerja seni hingga penulis.

Kecintaannya terhadap tenun Batak, ulos khususnya dan kain klasik bermotif etnik Indonesia pada umumnya, tak luput dari langkah awal di mana Sang Ibu mencurahkan rasa cinta itu kepadanya. Kisahnya, ia ditenteng ke manapun ibundanya melangkah dalam usaha menghasilkan tenun ulos. Mulai dari mengunjungi desa sebagai wadah penenunan hingga ke hamparan kebun tanaman di mana pewarnaan alam yang diterapkan pada helai ulos akan dilakukan.

Torang Sitorus bersama ibunya. Ist

”Jadi sejak saya kecil, saya sudah melihat, merasakan dan bagian dari pengadaan ulos-ulos itu. Mama tuh selalu berbagi pengetahuan dan petuah apa saja yang harus saya lakukan untuk menghasilkan helai tenun Batak ini. Sampai mengapa harus menerapkan motif ini atau motif itu. Semua mamalah yang menjadi mentorku,” kenangnya.

Jadi jika pada akhirnya dalam rentang waktu sekian lama ia memiliki ribuan ulos, memperkerjakan ratusan penenun, memiliki galeri yang menampung tenun dan benda seni rasanya bukan hal yang mustahil, karena rintisan telah dilakukan sejak ia usia anak. Kasih dan cinta sang ibulah yang membentuk rasa memiliki Torang untuk melestarian sekaligus mengembangkan tenun dari leluhurnya ini.

Cinta ibu yang merambah ke sanubarinya mengalirkan sebuah sikap untuk terus berbagi dan memperkenalkan kain batak ini, tak hanya di dalam negeri namun sampai ke benua lain yang setiap tahunnya diikuti dengan pameran ulos yang dilakulkan. “Benar ya, untuk memberikan cinta maka seorang harus memiliki cinta. Untuk  menanamkan rasa cinta terhadap herirage Indonesia yang berupa kain maka sudah lebih dulu hidup dalam cinta,” kisahnya.

Bersama tokoh wastra dan petinggi Pemda DKI Jakarta saat peresmian pameran 50 Tahun Museum Tekstil Jakarta. Ist

Belum lama ini, dalam kaitan Ulang Tahun Museum Tekstil Jakarta ke-50, Torang Sitorus menghibahkan 114 helai tenun ulos. Tentu satu sikap yang bijak. Kecerdasan antara otak dan hati berjalan selaras.

Dengan menelaah berbagai konsep dan pandangan serta tanggungjawab putra bangsa pada umumnya dan manusia Batak khususnya, ia melakukan banyak perjalanan ke berbagai daerah penghasilkan tenun. Keindahan hasil tenun dari berbagai daerah yang dikunjungi diakui sebagai gerbang hidupnya untuk masuk dalam rasa memiliki dan mencintai.

“Saya ke Nusa Tenggara Timur, Bali, atau Palembang melihat masing-masing tenun itu punya kekuatan tersendiri. Itu yang menggerakan saya untuk terus meneliti motif dan fungsinya. Belum lama, saya membeli kain kuno songket Bali. Itu saya tunggu selama dua tahun. Terbayar rasanya rasa ingin memiliki yang dalam,” sibak Torang walau tak merinci mengapa harus menunggu demikian lama.

Persiapan Torang dengan tim akan menerbitkan buku mahakarya berikutnya tentang eksotisme songket Bali. Ist

Seperti yang dikatakan penyair terkenal dari Inggris (1795) – John Kets, “a thing of beauty is a joy forever” – itu juga yang dialami Torang. Keindahan dalam sebuah struktur seni budaya kain yang disimaknya dengan detil, dan kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul, “Identity In a Pieces of Cloth The Batak Ulos – The Torang Sitorus Collection”  (The Batak Ulos)

Yang menarik, karena buku itu ditangani sangat serius maka tampil paripurna dari sisi fotografi, tata letak, dan isi. Tentu dalam waktu yang tak terlalu lama buku selanjutnya yang mengupas tentang eksotis songket Bali akan muncul. “Selanjutnya saya berpikir untuk mengulik kain-kain mahakarya dari Palembang Sumatera Selatan.

Menulis dan Panggung Kampus

Karya yang indah adalah tuntutan hidup manusia yang berada selalu dalam keindahan karya. Walau menciptakan itu tidaklah mudah. Namun bagaimana pun hidup ini adalah pilihan, dan Torang memilih berkarya antara usaha keras di tengah keindahan ciptaannya. Bagaimana pun  keindahan bagi manusia tidak hanya menjadi suatu harapan namun sesuatu yang harus diusahakan.

Buku tentang sisik melik ulos dibahas lengkap di bukunya: The Batak Ulos. (MS)

”Di usia relatif muda 20 tahun saya sudah punya rumah yang artistik namun saya jual. Saya lanjutkan dengan tindakan mengumpulkan banyak penenun ulos di Toba, juga di Tarutung sekaligus meneruskan usaha kuliner orangtua. Kebun saya buka untuk pewarnaan alam dan melalui “Bagas ni Torang” penjualan karya saya disalurkan,”sibaknya lebih jauh.

“Para staf sering saya ikutkan di pameran wastra. Biaya operasional tentu tidak murah. Bersyukur saja, karena semua bisa berjalan hingga kini. Kalau untuk ke sana kemari ya memang harus begitu, dalam role usaha. Kembali lagi untuk sesuatu yang indah kita dituntut untuk kerja ekstra,” begitu penjelasannya ketika disinggung mobilitas yang sangat tinggi dalam pekerjaannya yang ditekuni puluhan tahun.

Mengintip gerak bisnisnya di masa mendatang, secara singkat Torang menjawab, “Ya, saya sekarang lebih sering tampil sebagai pembicara dan sesekali masuk ruang kampus.  masih tetap jadi agenda saya, dan saya memang sudah ingin konsen untuk menulis buku tenun dan sejenisnya ke depan,” sibaknya.

Kebebasan dalam berkarya tentunya melatih seseorang dalam memutuskan dan menentukan pilihan-pilihan dalam kehidupan secara mandiri. Sementara ketajaman dan kepekaan seseorang dalam rasa akan semakin kuat oleh didikan di awal tentang cinta dan keindahan. Kehidupan yang memperhatikan keindahan adalah media hidup untuk mengembalikan manusia ke kodratnya yaitu cinta kasih. Cinta orangtua yang berwujud helai ulos yang berkisah tentang kehidupan seni budaya Batak yang kemudian dikukus Torang, juga dengan cinta menjadi sebuah proses aktualitas diri dan membuatnya melahirkan tindakan-tindakan produktif dan kreatif. Bukankah demikian?

Sebagian kecil dari kemegahan dan keindahan ulos di Tanah Batak dalam bukunya Torang Sitorus: The Batak Ulos. (Ist)

About Gatot Irawan

Check Also

Nongkrong Bareng OtoCibubur “Berdaging”

Jakarta, NextID – Akhir pekan menjadi momen yang tepat untuk berkumpul bersama teman maupun keluarga. …

Leave a Reply