Home / LifeStyle / Leisure / Art / Para Muda Pemilik Warisan Negeri

Para Muda Pemilik Warisan Negeri

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Dari Sabang hingga Merauke memiliki warisan antara lain yang berbasis seni-budaya. Rasanya ketentuan itu tak bisa disanggah, walau belum semua daerah atau kawasan di bumi pertiwi ini berhasil memunculkan kekayaan yang mereka miliki. Bagaimana pun untuk dikenal atau muncul dipermukaan dibutuhkan kerjasama banyak pihak, hingga elemen-elemen yang kompeten untuk mengunggah hal tersebut dengan benar.

Rentang waktu puluhan tahun memang batik “berkibar” di dalam dan luar negeri. Mulai dari batik pedalaman hingga batik pesisir. Dari pekerjaan yang mengkemas antara rasa seni, hati, dan tradisi bahkan pemujaan hingga batik yang dalam waktu sekejap turun dari mesin raksasa, atau yang dikenal dengan batik print.

Ada lagi helai tenun bermotif etnik Indonesia. Yang dikerjakan membutuhkan proses panjang dalam menanam rasa kesabaran, menciptakan identitas berbangsa, ketahanan fisik hingga muncul simbol status di dalamnya. Atau dengan kata lain tenun itu adalah keindahan sebuah proses kerja dan nurani sebuah bangsa.

Andrian Wijaya (Foto MS)

Betapa tidak karena dalam sehelai kain tenun itu muncul usaha keras untuk menyatukan warisan budaya yang tak berujung nilainya. Mungkin lebih dalam lagi bisa dikatakan bahwa tenunan bukan sekadar kain tetapi lembaran seni budaya yang menyatukan jiwa Nusantara. Kain tenun adalah paduan pintalan benang yang membentuk cerita dan cinta. Nah, cerita yang ada pada helai-helai batik dan tenun itu jualah yang menimbulkan rasa cinta generasi muda, belakangan ini.

Agen Perubahan Untuk Negeri

”Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” begitu tandas Soekarno – Presiden RI pertama.

Setuju sih, karena menjadi pahlawan di era itu harus dipahami dan dilakukan para muda. Sebaliknya para muda bukan hanya sekadar menjadi penonton sejarah. Para mudalah yang akan menjadi pemimpin masa depan, harus menjadi terang bukan sekadar bagian dari abu perjuangan. Toh, banyak lini kehidupan yang bisa digarap, salah satunya bagaimana  mempertahankan kelestarian tenun dan batik sebagai warisan seni budaya bangsa sekaligus mengembangkannya.

Kemerdekaan dalam berkarya merupakan sebuah kesempatan emas yang harus disikapi dengan tepat dan benar. Prestasi dan inovasi dua hasil yang idealnya muncul seimbang. Inovasi tidak semata dilakukan karena peringkat akademik yang dimiliki mumpuni, atau lulusan dari Perguruan Tinggi yang aduhai, karena kekuatan paling kuat di dunia itu terwujud jika para mudanya mewujudkan sesuatu dengan positif. Kecerdasan otak dan hati yang selaras.

Hakim Himura merasakan ada sesuatu kekuatan wibawa dan kenyamanan ketika mengenakan ulos. (Foto MS)

Itu sebabnya Sydney Harris – jurnalis dan kartunis ternama Amerika mengatakan, ancaman nyata bukan sebenarnya saat komputer mulai bisa berpikir seperti manusia, melainkan ketika manusia berpikir seperti komputer. Dikatakannya juga bahwa sisi kemanusiaan tetaplah yang terpenting, pribadi seseorang yang dilengkapi dengan hati nurani haruslah mampu memaknai inovasi teknologi.

Nah, naluri dan kepekaan inilah yang muncul di kehidupan para muda dalam menyikapi karya penenun serta pembatik di negeri ini. Walau setiap pribadi memiliki cara dan sudut pandang untuk warisan seni budaya bangsa.

Andrian Wijaya misalnya. Tujuh tahun ia menetap di negara Tirai Bambu. Kembali ke negeri ini, dia mengolah sebuah usaha sambil terus-menerus meneliti tenun-tenun dari beberapa daerah. “Ketertarikan saya karena setiap helai tenun pasti punya cerita tentang daerah asal di mana kain itu di tenun. Setelah saya simak dan kaji, ternyata benar. Kreativitas penenun sangatlah erat hubungannya dengan lingkungan di mana kain itu ditenun,” ujarnya.

Lanjutnya, itu belum dikaitkan dengan peruntukannya, lho. So, tentu dong dengan pembatikan. Jika batik tulis itu untuk para kaum bangsawan, pasti ada tuh cerita sejarah dan adat istiadat yang tertera di batik itu. Duh, gimana gak kaya kain-kain kita ya.” Demikian pendapat jebolan Univ Xi’an Jiaotong – Liverpoll University, jurusan Biological Science.  

Pendapat senada muncul dari pekerja di perusahaan swasta di Jakarta, Hakim Himura. “Saya berharap banyak para muda yang difasilitasi negera untuk  menarik  lebih kepermukaan karya anak bangsa yang berupa tenun ini. Hasil karya itu seharusnya lebih sering lagi menembus dunia, karena nilainya bukan hanya tertera pada fisik tenun atau kain, namun juga tertera spirit para leluhur yang pada akhirnya turun temurun. Contoh ulos deh. Kancah international tentunya akan membuka peluang lebih luas lagi dari hasil kerja anak bangsa kita,” ujarnya.

Hascela Jivane Silalahi melihat ulos itu bukan hal yang remeh, namun maha penting. (Foto Dok. Pribadi)

Membangun Enerji Kreativitas dengan relasi yang tepat .

Jika rasa cinta dan perhatian itu telah muncul di tengah kehidupan generasi penerus, tentunya kenyataan ini harus ditangkap oleh para pemegang kebijakan negeri. Generasi berikut akan menjadi pemberani, mengubah apa yang sesungguhnya diubah menuju yang terbaik, dan itu tak luput dari rasa cinta yang muncul  dari keseharian yang dilihat, dicerna dan dinikmati.

Itu yang dialami oleh mahasiswi Universitas Brawijaya – Malang, Hascela Jivane Silalahi. Cinta terhadap Ulos, tenun Batak tersebut disebabkan antara lain melihat kedua orangtuanya yang kehidupan sosial sangat identik dengan menggunakan atau memakai ulos. Utamanya sang ibu yang juga seorang desainer dan hampir keseluruhan karyanya menggunakan ulos dan motif ulos.

”Saya melihat ulos itu bukan hal yang remeh, namun penting. Maha penting mungkin itu lebih tepat kalimatnya. Ulos tidak hanya disandang, namun maknanya dalam banget. Mempersatukan keluarga, kerabat, marga bahkan masyarakat sosial dalam dan luar negeri. Ini yang sedang saya pelajari, “ tuturnya.

Nilai mempersatukan itu juga yang dirasakan Hakim Himura,. “Ada sesuatu kekuatan wibawa dan kenyamanan ketika mengenakan ulos ya,” tandas ayah satu putri itu lagi. Mungkin apa yang mereka katakan adalah titik awal akan kepedulian mereka terhadap bagian dari warisan bangsa yang berupa tenun dan helai batik tulis, namun tidak ada yang terjadi secara kebetulan.

Chuck Knox (pelatih legendaris National Football League) mengatakan, “Memang tak ada yang kebetulan, namun kecerdasan yang akhirnya membuat rencana besar, menginginkan perubahan di kehidupan sendiri, berbangsa dan bernegara. Sementara Sidney A. Friedman – mentalist dan entertainer korporat terkemuka – menebar pendapatnya. Menurutnya, kecerdasan akan membuat rencana yang realistis dan melihat rencana itu hingga berhasil di masa kini dan masa depan.

Nah, nilai keberhasilan para muda untuk memertahankan dan mengembangkan warisan negeri tersebut tentu sangat membutuhkan peran negara, elemen yang berkompeten, komunitas, juga para pencinta kain dan tenun serta organisasi yang berkecimpung di bidang itu. Peran masing-masing harus bergulir, tidak bantat apalagi hanya jalan di tempat.

Ulos Bintang Maratur (Foto MS)

Setiap helai benang adalah bongkahan harapan, dan simpul-simpul doa. Hidup berbangsa layaknya seperti proses menenun yang butuh kesabaran, ada harapan juga keindahan. Maka mengenakan tenun motif etnik negeri adalah cara elegan menghargai warisan nenek moyang, sekaligus merawat identitas berbangsa dan bernegara. Bukankah hidup ini layaknya kain yang ditenun dari cahaya dan bayangan kasih sayang? Maka rawatlah itu.

Jangan takut gagal ketika merawat dan melestarikan warisan leluhur, namun takutlah karena tidak pernah mencoba.

About Gatot Irawan

Check Also

ZEEKR Hadirkan Dua Model Flagship di IIMS 2026

Jakarta, NextID – ZEEKR, brand mobilitas listrik premium dari Geely Group, secara resmi meluncurkan brand di ajang Indonesia International …

Leave a Reply