Jakarta, NextID – Pada mulanya adalah kata. Melalui susunan kata maka hidup menjadi kehidupan yang menyibak banyak hal. Tak ada kata, maka tak pernah muncul riak-riak kehidupan. Mengutip pendapat presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri, “Jangankan kata, bunyipun punya arti.” Setuju!
Kekuatan kata itu juga tampaknya yang disadari Ayu Yulia Djohan menulis karyanya lewat sastra lama, yaitu puisi. Dia bercerita, dalam kurun waktu sepuluh tahun ia berhasil menulis ratusan judul puisi. Lima puluh enam dari puisi pilihannya disusun menjadi sebuah buku “Rindu Beriak di Sungai Siak” setebal 79 halaman yang seyogyanya akan diluncurkan 7 September 2005 mendatang di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
” Dengan mencetak buku, saya berharap dapat menjangkau audien lebih luas dan beragam. Tentunya juga mereka yang suka membaca buku cetak ketimbang tulisan yang ada di media sosial,” sibaknya.

Riak Berindikasi Pergerakan Hidup
Judul buku menjadi salah satu cara memantik emosi orang untuk membuka buku yang disajikan. Ketika disinggung hal itu, Ibu dari dua putra (satu telah almarhum) dan seorang putri mencerminkan pergerakan dan ini menjelaskan bahwa kata riak mengandung makna pergerakan dalam hidup. Riak juga dapat diartikan perenungan nan dalam dengan apa yang dialami seseorang. Itu yang mendasari ia menetapkan judul bukunya kali ini.
Hidup memang puisi, sekaligus bangku sekolah yang tak berujung. Di situ muncul berbagai rasa. Sedih, sukacita, harapan, kegagalan dan tak luput rasa syukur pada Sang Khalik, karena dimampukan melihat riak-riak sebagai gelombang yang harus dihadapi dan diselesaikan.
Ketika memiliki hati yang bersyukur, Rudolf Otto – teolog terkemuka Jerman (1869 –1937) berpendapat, manusia akan memiliki perasaan numinous yang ditandai dengan rasa tremendum (menggetarkan) dan fascinans (mempesonakan). Dalam aspek fascinans inilah terletak keindahan.

Dari sebagian besar puisi di buku Yulia berbicara tentang keindahan. Keindahan kesannya menjadi gerbang warna dari larik-larik puisi prosanya kali ini. Gaya bahasa yang memakai parabel dan aforisma membuat orang lebih cepat paham. Kita simak penggalan beberapa karya puisi Ayu Yulia Djohan.
Yang Maharindu
Ada yang selalu dekat di leher
Senantiasa lekat di nadi
Dan kerap bergaung di jantung
Adalah irama rindu pada-Mu (halaman 5)
Pada Suatu Senja
…… di bawah senja menjelang
Waktu membawa ke masa lampau
Saat kau bertanya pelan
”Bukankah dunia ini hanya milik kita berdua”
Aku pun tertawa (halaman 21)
Puisi selanjutnya…
Raja Segala Rasa
Aku menjamu rindu
yang terus menderu
Di atas pinggang bunga
dan sepasang angsa
sekubal lemang kusaji
bersama secangkir kopi
Untukmu, bagian:
raja segala rasa (halaman 25)
Rasa yang ia burai diakuinya mendominasi larik-larik puisi yang singkat, dimaksudkan agar para pembaca bisa memahami dan mengingat pesan yang ingin disampaikan. Kenyataan seperti ini juga disampaikan oleh Harold Kushner dalam bukunya When All You’ve ever wanted isn’t enough.
Intinya, tatkala seseorang mencintai sesuatu dikarenakan obyek yang dicintainya itu selalu menyenangkan, sebaliknya tidak bisa dikatakan mencintai sesuatu namun hanyalah sebuah jalan yang melingkar mementingkan diri sendiri.”

Kolaborasi dalam Literasi
Manusia adalah mahluk sosial. Bekerjasama dengan pihak lain adalah manifestasi kodrat sebagai mahluk sosial. Berpijak pada asumsi ini maka menghargai kerjasama memiliki nilai penting. Untuk peluncuran bukunya kali ini, Yulia menggandeng para muda yang juga doyan bersastra. Beberapa kali mereka berkolaborasi menyajikan menu literasi dengan kemasan-kemasan tertentu. Mereka dari Teater Cakra di bawah payung Cakra Budaya Indonesia yang diketuai oleh Nuyang Jaimee.
Tim redaksi sekaligus merangkap MC pada acara tersebut, Ihwan Nugraha. Ihwan berharap agar berbagai kalangan dengan tingkat usia yang berbeda akan termotivasi untuk menulis setelah membaca larik -larik di buku tersebut. “Kami juga menyiapkan tritmen yang menarik sebagai bagian pelepasan rindu yang akan diungkap ketika acara berlangsung,“ begitu janji Ihwan Nugraha tanpa merinci apa yang dimaksud dengan tritmen itu. Penasaran dengan janji itu, silah ayun langkah ke Pusat Dokumentasi Sastera HB Jassin, TIM sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan.
Slogan yang mereka unggah adalah, “Layarkan rindu, sampaikan perasaanmu.” Menurut Ihwan, acara diharapkan akan menjadi ruang aman bagi siapapun dalam berliterasi. “Jadi, silahkan datang dan nikmati suguhan dengan rasa bahagia,“ tandasnya.
Semakin tua umur dunia, semakin kayalah manusia menata peradabannya salah satu cara penataan itu melalui kemampuannya berliterasi. Mungkin itu sebabnya Pramoedya Ananta Toer – sasterawan legendaris, berpendapat bahwa menulis itu adalah bekerja untuk keabadian. Begitu Ayu Yulia? (Martha Sinaga)
NextID What's Next ?
