Home / LifeStyle / Leisure / Art / Ide yang Dibisikkan-Nya
Dita menampilkan nuansa hitam putih dalam lukisannya. Ini warna kontra namun bisa harmoni. Ist

Ide yang Dibisikkan-Nya

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Seni itu tak berlimit, maka penggarapannya pun tak kenal batas. Betapa tidak, penciptaan sebuah karya seni dibutuhkan niat, konsentrasi, ketekunan, apresisasi dan imajinasi yang liar. Jika pendapat semacam ini masih harus dilanjutkan maka betapa hebatnya proses sebuah karya seni karena membutuhkan sebuah enerji besar.  Enerji itu akan dimiliki seseorang jika kekuatan doa menjadi garda kerjanya.

Rasanya “rumusan” itu disetujui perempuan pelukis Antaresa Hendita atau yang akrab disapa Dita. Rentang waktu 3 tahun Dita  berhasil menyelesaikan kurang lebih 700 lukisan. Wouww!  Apalagi  dan pasti membutuhkan konsentrasi yang tebal.

Obyek karya ibu dari seorang putra dan dua orang putri itu adalah bunga. Dalam perjalanan,  karya lukisannya tak semata bernuansa dekoratif namun juga abstrak. Mengapa? “Lukisan yang saya ciptakan itu adalah gambaran perjalanan hidup saya,  yang terus  bergerak dan berkembang, penuh warna, dan penuh melodi. Di saat saya melukis maka enerji hati pasti mengalir. Kenyataan itu yang terus menguatkan passion saya dalam berkarya,” tuturnya di suatu senja.

Bunga bicara kepada jiwa. (Foto Mario Ikada)

Dita melanjutkan, “Ketika melukis obyek bunga, ide saya terus berkembang. Hati saya mengatakan harus melukis seperti ini, atau melakukan goresan-goresan tertentu. Ya sudah, maka itu-lah yang saya terapkan. Obyek yang saya lukis itu tak harus pakem atau berhenti di satu titik, gak tuh! Saya ikuti saja kata hati saya. Mau menerapkan warna apa, mau bentuk bunga seperti apa. Ada lukisan bunga yang penuh warna, namun ada juga yang hanya putih hitam dengan sentuhan nuansa gold, saya lakukan. Semua lukisan itu saya lakukan dengan sukacita.”

Dia bercerita, putera sulungnya mengomentari lukisan hitam putihnya. Indah. “Setelah saya cermati, iya ya, beautiful. Bunga, dengan nuansa hitam putih itu lebih saya kuatkan, dan terus saya kuatkan,” jelasnya lagi.

Dita ini mumpuni. Selain melukis, Dita bisa bersastera. Maka di tahun 2022, dia berhasil membukukan karya lukisan bunga menjadi sebuah buku yang diberi judul “Philosophy of Flowers” setebal 128 halaman. Buku itu menarik, karena dua talenta yang saling berhubungan dan disajikan dalam alur seni dan dokumentasi literasi sastera.

Persenyawaan antara ide dan fakta dari kacamata Dita. (Foto Mario Ikada)

Ketika membaca lembaran demi lembaran di buku tersebut tersirat bahwa pelayanan kemanusiaan itu menjadi salah satu fokus hidupnya. Kita simak puisi prosanya halaman 36.

Bunga mawar punya kelopak yang halus dan indah
punya wangi yang membangkitkan rasa
walau ada duri yang dapat membuat kita terluka
kita tetap menginginkannya
karena duri adalah bagian dirinya seutuhnya.


Larik ini jelas mendedahkan sebuah gerak pelayanan kemanusiaan. Menerima dan memberi  nan seimbang. Bukankah keharuman mawar tersebar untuk siapapun, termasuk orang yang meremukan pohonnya. Apa yang tersirat pada larik-larik diksi itu maka rasanya tak meleset jika dikatakan demikianlah tujuan ritme kerja Dita terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Seni yang dilakukan, direngkuh kemudian keindahan dari bagian seni itu dimuntahkan melalui lukisan dan sastera. Tujuannya untuk memotivasi yang melihat, membaca dan menyimak dengan baik. Asyik kan?

Ke depan dari lukisan yang dihasilkan, telahpun diseleksi maka akan hadir 3 buku (trilogi) sebagai berikut:
Sekar, berisi berbagai ilustrasi bunga dengan menggunakan teknik line drawing, menggunakan media drawing pen, gel pen serta metallic paint maker.   

Puspita, berisi lukisan mixed media watercolor, acrylic link, Chinese ink, paint dengan finishing pen lining.  Di lembaran buku ini diikuti dengan larik-larik prosa yang terinspirasi oleh bunga.

Kesuma, yakni berbagai lukisan abstrak yang terinspirasi oleh bunga di atas kertas, menggunakan media mixed seperti water color, ink acrylic, dan paint marker and glitter.

Dita dan bukunya, “Philosophy of Flowers.” (Foto Mario Ikada)

Menanggapai ketiga bukunya ini kembali Dita menjelaskan, ”Ide untuk membukukan itu datang dari kakak saya, Lans Brahmantyo. Menurutnya, lukisan sudah terkumpul banyak , disusun saja menjadi sebuah buku. Ide itu kembali kami sepakati untuk tiga buku yang akan diterbitkan mendatang. Semoga September tahun ini bisa di-launching sekalian dengan pameran lukisannya.”

Bisa dibayangkan rona bunga bersemi di setiap sudut ruangan dalam goresan seorang perempuan yang juga aktif di jalur kemanusiaan. Bicara bunga memang tak berujung. Manusia lahir hingga memenuhi panggilan-Nya ditandai dengan bunga. Pertumbuhan berbagai jenis tanaman juga dikenal dari bunga yang dihasilkan. Nah, seniman lukis Aimee Tri melukis bunga karena menurutnya itu menimbulkan semangat positif.

Simbol Perlindungan dan Kekuasaan

Mekarnya sebuah kelopak bunga melambangkan kemenangan, keberagaman umat dan kekuatan. Diketahui juga bahwa Mesir kuno juga memakai bunga sebagai simbol perlindungan dan kekuasaan.

Bunga memiliki kekayaan akan sejarah dan khasiatnya bermanfaat melampaui budaya dan  peradaban. Gerard De Nerval berpendapat bahwa bunga seperti taman, karena tanaman itu membawa warna ke dunia. Lukisan bunga matahari karya Claude Monet, pelukis impresionisme utama pada di 1881, memberi kesan dalam.

Aksen bunga di nuansa hitam putih menyiratkan kekuatan karyanya. Ist

Jika bunga itu membawa warna ke dunia, maka warna-warna bunga yang dilukis Dita  merupakan curahan atau bisikan Sang Khalik. Itu sebabnya ide yang mengalir di enerji pikir dan hatinya tak berhenti. Pernyataan ini disambut dengan anggukkan kepala oleh Dita.  Flowers are happy things Dita?  “Yes! That’s true,” jawabnya.

Sejauh ini, Dita menambahkan dalam proses karya seni lukis ia selalu mempunyai enerji positif. “Saya harus katakan bahwa itu bisikkan Illahi. Dalam proses melukis, saya sering lupa waktu. Jelang subuh atau malah sudah pagi baru saya berhenti. Ide terus berkembang, dan saya sukacita melakukannya.” Berbahagialah orang yang bekerja dengan sukacita karena ia menyukai pekerjaan itu.

“Tentu ada aturan dalam menggunakan materi untuk melukis, namun untuk penerapan ide, saya bebas saja. Saya melukis ya melukis, tidak pernah terpikir dalam berkarya harus seperti siapa atau jadi siapa. Tidak, walau memang ada beberapa karya pelukis yang saya kagumi, dan itu bukan semata pelukis yang terkenal,” ungkap pendiri sekaligus pembina Yayasan Women of Faith Indonesia itu.

Ada Doa dalam Bunga

Banyak filsuf berpendapat senada bahwa bunga melambangkan harapan, simbol kebijaksanaan dan kekaguman akan cinta dan terapan kasih. Maka tidaklah meleset jika ada kalimat yang mengingatkan, jadilah seperti bunga yang memberikan keharuman pada tangan yang sudah merusaknya.

Pendapat senada ditulis oleh Helen Keller, cinta seperti bunga indah yang mungkin tak dapat dipegang, tapi harumnya membuat taman menjadi tempat yang membahagiakan. Mungkin itu juga yang mendorong Dita untuk meletakkan harum bunga melalui lukisannya di bukunya, “School for moms. Mom & Child’s Daily Devolution.”

Kontennya, penguatan sebuah sikap seorang ibu terhadap buah hati mereka yang dilandasi ajaran kasih sayang. Ilustrasi bunga-bunga dengan kelopak yang soft seakan ia ingin mengatakan kelembutan ibulah yang akan memagari hidup putra-putrinya. Sungguh ibu adalah tiang doa keluarga. Gitu-kan?

Nuansa warna kearifan sang ibulah yang akan meneguhkan langkah buah hati mereka di hari-hari mendatang. Walau diakui Dita sentuhan lukisan di buku ini merupakan pemanis yang tak berhubungan langsung makna dan paparan tulisan yang ada. Sungguh, katakan dengan bunga. Maka keharuman itu akan menjadi milik kita.

Polesan abstrak menjadi salah satu pilihan dan menjadi “nutrisi” mata. Ist

Komentar Positif

Lukisan Dita dikomentari Dr. Fajar Sidiq Sukirmanto – Kurator dan Sejarawan Seni Jakarta. Menurutnya lukisan Antaresa Hendita atau Dita adalah gambaran dari kreasi seni pelukis perempuan yang layak diperhitungkan, karena elemen estetis memiliki unsur kekuatan dunia imaji tempat bersemayam intuisi dan kedalaman.

Dita memiliki unsur keperempuannya yang kuat. Geksturnya, menandakan lukisan memiliki jiwa personal dan karakteristik yang tebal tentang kehidupan yang direkam dalam jejak ekspresinya. Kenyataan ada pergulatan dunia dalam dan pengamatan yang terus dihidupkan, kanvasnya senyata karakter pelukisnya.

Insight sebuah ruangan pribadi di mana ekspresi seni maupun menjadi dialog imaji pada penciptaan sebuah gagasan atau ide ditempatkan. Keindahan itu yang lantas  diabadikan dalam dimensi dan kanvas-kanvasnya.

Sementara itu Moelyoto – seniman lukis yang tepatnya Watercolorist dan bermukim di Bali, menanggapi dari kacamata sesama seniman lukis. Nah menarik nih. Cara pandang Antaresa Hendita (Dita) terhadap obyek bunga cukup baik. Nilai-nilai dari hasil penghayatannya telah membuahkan keberanian untuk menuangkan tata warna dan pembagian bidang yang tidak ragu.

“Kekuatan imajinasinya mampu mengungkapkan kembali dalam deformasi bentuk dan bentuk dekoratif dalam jalinan warna yang indah,” tandas Moelyoto.

About Gatot Irawan

Check Also

Biaya Operasional Harian JAECOO Lebih Murah Dari Harga Kopi Kekinian

Jakarta, NextID – Kondisi global saat ini, menjadikan biaya transportasi sebagai salah satu pertimbangan utama …

Leave a Reply