Oleh Martha Sinaga
Jakarta, NextID – Keindahan adalah sumber hidup yang menghidupi sebuah kehidupan. Pasalnya keindahan adalah taman yang ditumbuhi oleh beragam ide yang pada akhirnya melahirkan karya di tengah rotasi waktu yang terus bergulir.
Keindahan yang direngkuh fesyen desainer Elizabet Ayu Angelia (33) – pemilik dan pendiri Kokaind – merek asal Yogyakarta, berasal dari rumah. Melihat sang eyang dan ibunya yang menyusun batik dan tenun setiap hari, mengukuhkan ingatannya bahwa apa yang pernah dilihat dan dirasakan menjadi cikal bakal ia berkarya di dunia fesyen hingga saat ini.
Inovasi demi inovasi terus bisa dirasakan pada karya busananya. Tentu semua karena perpaduan adanya enerji cerdas, berpikir positif, dan tanggung jawab terhadap karya, sehingga karyanya bisa diterima dan dinikmati masyarakat luas, yang keberadaan intelektual dan ekonomi mereka bervariatif.

Yuk, kita simak apa yang ia kisahkan sehingga memutuskan untuk berkiprah di dunia fesyen negeri ini. Sudah ke mana saja karya Ayu – demikian ia lebih akrab disapa, apa kesulitan dan tantangan untuk terus berkutat di dunia busana ini.
Kecerdasan Hati dan Pikir
Tanya/T: Sejak mengenal tenun dan batik dari orangtua, selanjutnya apa yang Ayu lakukan?
Jawab/J: Secara pribadi saya riset dengan banyak membaca buku-buku di perpustakaan, di samping wawancara langsung dengan pedagang dan pengrajin.
T: Selama berkarya kesulitan apa saja yang ditemui?
J :Tantangannya antara lain saya harus belajar bisnis, agar usaha bisa berlanjut. Maka saya pelajari itu dari sosial media, website, keuangan dan pelajari budaya luar yang lebih populer ketimbang budaya kita sendiri.
Di samping itu saya mempelajari arsip-arsip pustaka yaitu mengenai referensi wastra nusantara dan pempelajari motif kain daerah. Sebab, keunikan tiap motif di kain tenun, utamanya tenun NTT membuat produk kita tak dapat dibuat massal, sehingga pada akhirnya mengarahkan Kokaind untuk menciptakan produk limited.

T: Menurut Ayu perkembangan fesyen di Yogya seperti apa saat ini?
J: Fesyen di Yogya itu unik. Fesyen etnik meningkat baik di dua tahun terakhir. Anak muda mulai bangga berkebaya dan bergaya etik dalam keseharian. Kenyataan ini memberi ruang untuk berekpresi melalui fesyen tanpa judgement, dengan begitu fesyen muncul dengan berbagai kiblat. Katakanlah itu mulai dari gaya Korea, modern style, harajuku, gothic, sampai etnik.
T: Ada pendapat bahwa orang Yogya tidak memakai karya fashion mereka, namun memproduksinya.
J: Betul, masyarakat Yogya pada umumnya crafter, seniman, maupun produsen karya fesyen. Namun ada juga sih yang konsumen karya fesyen. Warga Yogya pada umumnya didominasi anak muda dan pelajar yang memiliki karater fesyen masing-masing. Untuk karya dari Kokaind kebanyakan yang mengenakan pelaku seni, penari, pemusik, dan seniman teater. Saat ini karya saya banyak dikenakan orang di luar Yogya dan kota-kota besar lain, termasuk Jakarta.
Permintaan Meningkat
T: Dari tahun ke tahun bagaimana penjualan karya fesyen Kokaind?
J: Setiap tahun penjualan Kokaind meningkat. Tiga belas tahun terakhir permintaan pasar terus meningkat. Dari awal berdiri kami memang berbasis online. Namun barulah tiga tahun terakhir mengikuti event-event seperti bazar besar dalam negeri -salah satunya INACRAFT. Dan, di luar negeri di Filipina di ajang Manila Fame karena ada permintan costumer.
T: Bahan baku didapat dari mana?
J: Dari pengrajin, juga pedagang berbagai daerah di Indonesia sesuai asal kain.
Kami sudah putuskan mengambil kain dari pengrajin lokal untuk memperluas dampak ekonomi dan mempertahankan motif-motif pakem yang sudah ada.
T: Usaha apa yang dilakukan untuk memantau pasar dan pengembangan kreasi?
J: Pengembangan kreasi kami dilakukan dengan memiliki tolok ukur atau milestone pribadi, tidak berdasarkan fesyen yang sedang marak. Tujuan utama Kokaind adalah menggunakan dan menperkenalkan wastra yang sangat beragam dan adiluhung. Sampai saat ini kami terus berusaha untuk menjangkau kain kain etnik di seluruh Nusantara. Selain itu masukan dari pelanggan juga tetap kami perhatikan. Selain itu saya memilih referensi pengembangan kreasi dari kostum tradisi, dan hasil riset.

T: Desain yang digarap atas permintaan pasar atau pelanggan? Atau bagaimana?
J: Ada dua jenis produksi dalam Kokaind. Koleksi desain Kokaind dan atas pesanan sesuai permintaan pelanggan.
T: Usaha ini di bawah binaan BUMN?
J: Tidak, kami independen dengan 7 karyawan.
T: Latar belakang pendidikan di jurusan fesyenkah?
J: Saya tamatan Universitas Sanata Dharma – Jurusan Sastera Inggris. Kemudian melanjutkan ke Penciptaan Seni Kriya – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Sungguh kreatifitas membuat seseorang mampu meningkatkan kualitas karya sekaligus kepribadiannya. Ini sebuh kisah inspiratif di kalangan muda yang berhasil mengubah pendidikan dari rumah menjadi peluang sukses dan mampu membangun enerji kebersamaan dengan relasi yang tepat. Siapa relasi itu, antara lain yang mengenakan karya-karya yang telah dibentang selama 13 tahun. Ayu telah membangun enerji keberhasilan melalui impian terbaiknya, sebagaimana Woodrow T. Wilson – penerima Nobel Perdamaian di 1919 yang mengatakan, “Berkembanglah dengan impian!”
Bukan begitu Ayu?
NextID What's Next ?
