Home / LifeStyle / Leisure / Art / Cipta Kerja di Tengah Persaingan
Gereja Katedral, salah satru bangunan ikonik Jakarta, tak luput dari bidikan Marfio Ikada. (Foto Mario Ikada)

Cipta Kerja di Tengah Persaingan

Jakarta, NextID – Bekerja di rumah sama peliknya dengan pekerjaan rumah. Bahkan bekerja di rumah tak ada hentinya. Jika tidak diri sendiri menghentikannya maka pekerjaan itu akan  terus berlanjut. Layar monitor laptop, plus telpon genggam dilengkapi secangkir kopi menggiring seseorang enggan beranjak dari pekerjaan yang digelutinya. Kenyataan itu juga dialami  fotografer muda, Mario Ikada kurang lebih lima tahun terakhir.

Fotografer, sekaligus  melakukan visual melalui layar video.  Dua pekerjaan yang bisa dikatakan sama namun juga berbeda. Kedua pekerjaan itu ditekuninya lima tahun belakangan ini. Semula,  lelaki lahir di Jakarta 1 November 27 tahun lalu itu bekerja di sebuah bank ternama di negeri ini. Menyadari pasion tak di bidang perbankan, ia lantas melangkah pasti ke pekerjaan yang ditekuninya hingga saat ini. Pekerjaan yang penuh kreasi seni. Belum lagi, sarat tantangan. Pasalnya profesi ini juga digemari banyak kalangan, otomatis kompetiter pasar aduhai sifatnya.

Semua pekerjaan punya tantangan tersendiri, namun bagaimana menumbuhkembangkan pengetahuan di bidang pekerjaan yang dipilih itu yang harus mampu dilakukan. Dan sungguh itu tak mudah. Nah, namun mengapa anak bungsu dari dua bersaudara ini terus memantapkan langkah dipekerjaan yang ia ciptakan itu. Padahal jika bekerja di bawah sebuah payung besar, setidaknya fasilitas sudah digenggam. 

Mario banyak belajar dari fotografer senior, salah satunya Riza Marlon – fotografer wild life ternama Indonesia. Ini di kediamannya di Bogor. Ist

Suka tantangan? Generasi milenial dan generasi Z lebih memilih bidang pekerjaan yang disukai walau harus  mulai dari dasar lagi. Begitukah?  Inilah paparan Mario Ikada dalam usaha menciptakan pekerjaan di tengah peliknya ekonomi saat ini.

Kerja Keras dan Peran Sahabat.

Tak disangkal bahwa para muda dalam bekerja banyak yang “menyimpang” dari disiplin ilmu yang ditekuni di masa kuliah. Bahkan mungkin bertolak belakang. Tak disangkal  sungguhpun begitu banyak yang berhasil. Dunia di tengah hempasan Covid 19, tapi Mario Ikada mengambil keputusan untuk resain dari kantornya. Duh, pelik juga mendengarnya. Tapi mungkin saja  semua resiko sudah dihitung matang.

Ceritanya, penghasilan yang didapat selama bekerja di bank dikumpulkan. Lalu dibelikan kamera serta kelengkapannya. “Saya kok optimis. Bermodalkan alat-alat ini saya bisa kembali punya income. Memang sih gak mudah. Income akan kita kantongi tak sekadar hasil kerja yang baik, namun juga ada faktor X. Keberuntungan dalam langkah kerja itu ada sih. Saya sadari itu. Yang penting semua dilakukan dengan serius, konsisten dan terus membenahi diri dengan pengetahuan di bidang yang baru saya tekuni,” papar Mario yang semula mengantongi ilmu di bidang hukum itu.

Banyak hasil jepretannya tentang arsitektur bangunan megah di kota besar. (Foto Mario Ikada)

Selanjutnya, Mario yang punya hobi memelihara kura-kura itu menyibak pemikirannya dengan  mengatakan bahwa rekan dan sahabat adalah modal yang tak kalah penting ketika seseorang sudah megambil keputusan untuk bekerja secara single fighter.

“Sahabat itu aset. Iklan yang tercanggih ya mulut teman dan relasi. Jika iklan di layar monitor medsos itu dibaca banyak orang, dan dikerjakan juga banyak orang. Akan berbeda jika “iklan” orderan dari teman yang sifatnya face to face. Mengerjakannya pun gak serabutan. Gak ada sih karya foto yang dilakukan dengan gusrah gusruh. Karena memang kita menjual seni,” begitu pendapatnya.

Walau ia tak menyangkal jatuh bangun dalam menekuni usaha baru itu juga dialaminya. Tapi kesadaran akan pentingnya dan bergunanya layar media sosial untuk mengibarkan bendara bisnis perlu menjadi renungan yang perlu ditelaah dan disikapi dengan tepat. “Jika sudah begitu, maka saya bangkit lagi. Bersikap lagi. Pasar mana yang akan dituju. Itu juga penting membidik sasaran,“ lanjutnya.

Komunikasi Iklan

Diakui peran para sahabat untuk jalannya sebuah bisnis sangatlah penting. Itu sama pentingnya dengan komunikasi beriklan. Ia lantas memberi contoh tentang apa yang dilakukan oleh pakar iklan dunia, Leo Burnett melalui iklan besarnya Marlboro Man.

Memotret benda-benda seni, menurutnya juga tak kalah tantangannya. Ist

”Iklan rokok pasti menimbulkan kontroversi, namun bagaimana ia bisa menghidangkan ide kepada pemirsa. Citra seorang maskulin itu dia perkuat. Iklan itu diciptakan tahun 1955, namun hingga kini masih gress tuh.  Iklan itu sudah menjadi Living Market. Lelaki gagah, jantan gitu deh di tengah ngarai, bukit, gunung dan kuda-kuda liar. Bidikan foto dan video yang hebat, akan tetap diingat dan berkesan sepanjang abad,” urai Mario yang mengaku menyukai membidik bangunan-bangunan arsitektur.

Mengapa ia menyukai bangunan arsitektur itu untuk bidik lensanya. Ini alasannya lagi. ”Saya merasakan visualisaiku menjadi persuasive dan lebih tajam.”

Walah diakuinya foto-foto jurnalistikpun menjadi minat tersendiri. Mengapa?  ”Komunikasi foto jurnalistik itu juga meninggalkan kesan yang dalam. Dasar naluri bagi saya terasa banget ketika membidik foto-foto sejenis.  Di situ ada kejadian nyata. Mimik  manusia menghadapi berbagai kejadian yang tak bisa dibuat buat. Letupan-letupan emosi orang yang ada di situasi itu, dan pastilah bergerak terus. Contoh, ketika gempa bumi melanda, atau orang dipersidangan. Itu kan mimiknya tak bisa dibohongi, itu riil,” begitu alasan Mario Ikada mengapa sampai ia juga meminati foto-foto jurnalistik.

Ia percaya seperti yang dikatakan para psikologi bahwa 83%-87% segala sesuatu yang masuk di otak kita melalui mata, dan hanya 11 % yang datang melalui telinga. Itu sebabnya mimik atau ekspresi banyak orang di lensa kamera merupakan penerus pesan yang indah. Seperti yang dikatakan oleh  Prof. Ir Samuel H. Tirtamihardja, MSc, bahwa manusia diperkirakan  mampu membuat 20.000 ekspresi wajah. Sasaran seperti itu yang juga diminati Mario Ikada.

Peluang Pasar

Dalam bekerja atau membuka lapangan kerja yang tak kalah penting adalah peluang pasar. So, bagaimana Mario menyikapi semua itu? Setelah sejenak terdiam, dengan mimik serius ia  mengakui tak mudah menembus pasar. “Tapi gini deh ya, jika memang bisnis foto dan video ini teramat sulit, tapi nyatanya banyak generasi muda yang memilih lahan ini. Selagi dunia masih bergulir, ya visualisasi masih dibutuhkan. Optimis sajalah. Saya sih, mendengar dan belajar dari yang senior, dan bersahabat dengan yang junior. Ketika kita enjoy, membaca peluang pasar juga ok saja,” tegasnya.

Saat CFD di jalan protokol yang dibarengi dengan pawai “perempuan berkebaya.” (Foto Mario Ikada)

Ada waktu di mana ia berkisah tentang pengalaman di lapangan kepada seniornya. Sebut saja Riza Marlon, fotografer senior untuk satwa liar/langka. Hal itu dibenarkannya. Om Caca begitu Mario menyebut fotografer senior itu.

“Om Caca berkisah bagaimana awal mulanya ia menjadi fotografer, hingga ia mampu menjejakkan kaki ke banyak tempat karena karirnya itu. Kata Om Caca, untuk saat ini ia berjalan ke berbagai hutan di Indonesia disponsori beberapa pihak.  Kapan ia mau, sponsor sudah siap,” ungkap Mario lagi. 

Mario lantas berpendapat ketika pasarnya sudah jelas, maka pihak sponsorpun gak lagi ragu untuk bekerjasama. Terlebih dikatakan bahwa Riza Marlon  konsisten dengan obyek yang digelutinya selama puluhan tahun.  Maka, itu juga note untuk pihak sponsor
 untuk menjalin kerjasama.

Cerita dari banyak fotografer dengan pengalaman masing-masing tentu memicu semangat Mario Ikada untuk terus melempar hasil bidikan-bidikan lensanya ke pasar, dan ia merasa optimis ketika para seniornya memberikan wejangan dan semangat untuk terus berkarya dan menembus pasar dengan elegance.

Kata orang bijak, ceritakan kepada saya, maka saya akan lupa. Tunjukkan maka saya akan ingat sebagian, namun libatkanlah saya maka saya akan mengerti. Melibatkan diri dengan komunitas yang sama tentunya akan memberi warna tersendiri untuk karirnya. Dan Mario mengaku itulah yang sedang  dan akan terus dilakukan. (Patricia Sitorus)

About Gatot Irawan

Check Also

“Seksinya” Mobil Miniatur Peugeot 9×8

Jakarta, NextID – Siapa bilang mobil-mobil miniatur hanya sebatas hiasan mainan belaka? Justru dalam bentuk …

Leave a Reply