Home / LifeStyle / Leisure / Art / “Alam Menata Hidup”
Inilah sebagian karya-karya ecoprint Sri Maulani Bakri. Nuansa seni dan etnik terasa sekali. (Foto Mario Ikada)

“Alam Menata Hidup”

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Kehidupan adalah sebuah dunia di mana setiap orang memainkan peranan penting agar dapat menciptakan kesejahteraan dan kesuksesan bahkan nilai lebih, yang lantas dapat dibagikan kepada orang lain. Tentu saja kenyataan semacam ini membutuhkan  sebuah perjuangan cerdas dan kerja keras.

Nah, hal itu dilakukan oleh Sri Maulani Bakri.  Jelang setahun dari kerja keras itu usaha yang dijalaninya berbuah manis. Kain dan kulit  dengan teknik Ecoprint dihasilkan berbentuk helai kain, selendang hingga pelengkap fashion, seperti tas perempuan dengan beragam ukuran, ikat pinggang, topi hingga dompet. Bahan dasar yang digunakan semua dari dalam negeri.

Perempuan jebolan Ekonomi Universitas Bengkulu tersebut  hidup dan berkarya rasanya memang akrab dengan alam semesta. Itu kental tersirat dari desain, juga warna dari karyanya. Seluruhnya  bernuansa natural. Kedekatannnya dengan alam sama dekatnya dengan kehidupan sesama. Itu sebabnya ia mengambil keputusan untuk menerima jabatan sebagai Ketua Koperasi ABK/Anak Bina Karya, yang mewadahi anak berkebutuhan khusus (ABK). Salah satu tujuannya, menjembatani kebutuhan ABK untuk mencapai kemandirian atau kesejahteraan ekonomi.

Sukses tertinggi, memang bukan semata berhasil melengkapi kebutuhan dunia tetapi mengikuti sifat-sifat Sang Pencipta yang Maha Kasih. Ia menerima mandat untuk menjadi Ketua Koperasi 2021-2024, walau menyadari bahwa tantangan itu selalu ada dengan dua pekerjaan yang harus jalan beriring namun saling mengisi.

Sri Maulani Bakri bersama rekan Ist

Seperti yang dikatakan Gede Prama, “Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik dan saya menjadi orang yang baik.”

Berikut bincang-bincang inspiratif dengan ibu dua dengan anak tersebut.

Alam Menghasilkan Rupiah

Tanya/T: Ceritakan awalnya bagaimana kok bisa menggunakan bahan dari alam. Tanggapan pasar untuk produk yang dihasilkan?
Jawab/J:  Pertama saya melihat ecoprint dari FB. Kain-kain dengan tumpukan daun dibalut warna yang menarik. Menurut saya kok harmonis. Sejak itu pula  terbesit di benak ini jika saya bisa bikin  ecoprint dengan sentuhan motif  daun dan bunga yang memang saya minati, tentu akan sangat oke.

Segera setelah itu saya coba mencari informasi tentang hal itu, namun terkesan pihak yang saya tuju masih tertutup. Saya merasakan mungkin mereka enggan berbagi. Kalau pun ada yang mau berbagi yah hanya memberi sedikit info. Maka saya putuskan untuk melakukan sendiri.

Waktu itu dengan sistem ecopounding (ecoprint mengetok daun ke kain, tanpa pemanasan). Itu saya lakukan di helai jilbab yang lama. Nah, hasilnya kok bagus karena daun-daunnya tercetak, hanya saja memudar ketika dicuci. Saya berpikir pasti ada proses yang salah atau terlewatkan.

Akhirnya saya terpikir menggunakan tawas dan cuka. Menggunakan tawas itu info dari sahabat. Sementara ketika masa SMP saya pernah melihat teman mengunakan cuka untuk mewantek bajunya. Kemudian difaksi (agar tak luntur) dengan cuka. Tapi, saya kok kurang suka dengan hasilnya. Kenyataan itu akhirnya  mendorong saya untuk berhenti melakukan  dengan cara itu.

Saat pandemi saya coba lagi. Ketemu dengan dua mentor di Google. Dari mereka saya tahu sedikit teknik dan juga di mana saya bisa beli bahan untuk ecoprint.

Kebanggaan tersendiri ketika anak berhasil menyelesaikan studinya. Ist

Jika untuk pasar, saya merasakan masyarakat antusias terhadap ecoprint, apalagi pada tahun 2019 awal. Saat itu masih sedikit pengrajinnya. Ecoprint dianggap bisa menggantikan batik untuk digunakan di acara tertentu. Hanya saya masih jadi penonton, karena kurangnya informasi ke mana saya harus belajar.

T: Karya ibu sangat natural, apakah masyarakat atau konsumen sudah paham akan hal itu, atau memang ada sasaran pasar khusus?
J: Iya, sangat natural. Nuansa itu cocok di kulit saya. Memang ada yang tidak suka, karena ecoprint di kain katun lama kelamaan warnanya akan turun, terutama jika perawatan tak tepat. Maka harus dicelup warna lagi, seperti orang jaman dulu merawat kain kain mereka.

Saya sih gak punya target tertentu. Tapi saya yakin di luar sana juga ada orang-orang yang punya selera sama dengan saya.

T: Karya ibu itu untuk dunia fashion namun juga ada bagian dari stationary. Mengapa?
J: Karya saya di dunia fashion, karena saya ingin seseorang tampil dengan gaya yang sesuai dengan jiwa dan pribadinya. Yah, dan nyaman dengan itu. Walau saya sadari sebagian orang tak bisa demikian. Menurut saya seseorang yang nyaman dengan dirinya akan hadir dengan percaya diri yang tebal. Tak perlu khawatir dengan orang yang sama tampilannya di sebuah acara. Tampilan butuh kepribadian yang kuat.

Sesungguhnya, saya gak hanya bikin stationary namun juga bros dan topi. Saya kok selalu penasaran untuk melakukan sesuatu yang baru, jadi bisa saja suatu hari saya membuat sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan fashion seperti membuat minuman fermentasi dan eco enzyme.

T: Bagaimana menyikapi bisnis Ibu jika orderan sepi?
 J: Ini kesempatan untuk belajar dan mencoba teknik lain. Berbagi cerita dan pengalaman melalui pelatihan – ikut pelatihan atau melatih orang lain. Selalu saja ada hal yang baru yang bisa didiskusikan dengan sesama pengrajin.

Motif dedaunan menjadi ciri ecoprint yang lazim dan digemari. Ist

T: Apakah kesulitan yang ditemui ketika menemukan pihak lain melakukan bisnis dengan materi yang sama?
J: Peluang selalu ada selama kita mau keluar mendekatkan diri kepada konsumen. Konsumen terbagi dalam beberapa segmen sesuai dengan selera, di antaranya jenis bahan kain – ini berpengaruh terhadap harga, warna dan motif.

Ecoprint hanya menggunakan bahan kain dan serat alam, seperti katun, linen, sutera dan wool. Ada juga sih bahan campuran seperti katun satin.

Bagi saya pribadi, kesulitannya saat urusan pemasaran, karena saya tidak bergitu rajin upload produk di medsos. Padahal medsos adalah sarana iklan paling murah saat ini dan jangkauan yang luas. Ini PR terbesar saya.

T: Bagaimana dengan hak cipta, sudah dimilikikah?
J:  Saya memakai nama Maulani Indonesia, diambil dari nama saya. Nama leluhur dan nama negeri tercinta ini. Dulu saya memakai nama ini, karena saya berpikir jika produk saya di bawa keluar maka mereka akan tahu bahwa produk tersebut dibikin di Indonesia, karya anak bangsa ini. Waduh, saya belum mengurus hak cipta.

T: Bahan dasar yang digunakan apakah bahan lokal?
J: Semua bahan lokal, mulai dari kain, kulit domba dan aksesori tas. Juga daun-daun segar dan zwa (zat warna alam), namun inspirasinya bisa saja dari ecoprint luar.

T: Apa yang dibayangkan ketika dalam proses tejadi kesalahan. Dan apa yang menyebabkan demikian?
J: Ketika menyusun bunga dandan daun saya cenderung mengikuti apa yang ada di alam. Seperti apa yang ada di dahan yang menjalar dengan bunga-bunga, atau tumpukan daun yang berserak bebas. Nah, motif terbaik adalah ketika semuanya terlihat harmonis. Mungkin bukan salah ya, namun tidak sreg di hati. Biasa itu terjadi jika bekerja dengan mood yang kurang baik.

Seseorang pernah bertanya apakah bisa dibuat dengan motif yang sama untuk seragam? Saya jawab tidak bisa, karena besar dan kecilnya daun, warna tua dan muda di dahan. Terpapar matahari atau tidak saja sudah membedakan warnanya, walau daun dan bunga itu berasal di satu pohon.

Seperti di alam, perbedaan itu hal yang indah. Hanya saja nuansa warna dasarnya bisa sama.

Lagi, motif daun yang digemari pasar. (Foto Mario Ikada)

Koperasi yang Unik

T: Mengapa tertarik untuk menjdi Ketua Koperasi ABK, sementara usaha pun masih dijalankan sendiri. Tidak ruwet membagi waktu?
J: Di Koperasi ABK semua anggota berkebutuhan khusus, sementara spektrumnya sangat luas, di antaranya ada down syndrome, autis, tunarungu, dan tunagrahita. Semua mendapatkan manfaat dan fasilitas (bantuan sembako, pelatihan dan bantuan lainnya). Menyatukan untuk menjadi sesuatu kekuatan ekonomi yang sulit.

Rentang potensi yang luas untuk mencapai tingkat kemandirian kesejahteraan yang luas juga. Saat ini yang penting bisa membawa mereka ke tingkat mandiri atau semi mandiri.

Setiap pribadi memiliki nilai dalam hidupnya “existing value,” dan nilai itu tentunya dituntut untuk terus diperbarui melalui perubahan. Seperti perubahan, berpikir, bersikap, bertindak dengan positif. Jika berbisnis punya nilai ekonomi maka  di tengah kehidupan sosial memiliki nilai kemanusia dan nilai itu tak terhingga.

Hubungan Vertikal – Horizontal Selaras

Dalam kehidupan sosial ada nilai yang tak dapat ditakar dengan mata uang apapun, tapi bisa dirasakan ketika manusia itu punya empati dan tegang rasa terhadap sesama. Memang, itu tak mudah! Setiap menit persaingan dagang itu terjadi namun setiap jantung berdetak ada persaingan untuk  menaklukan diri sendiri, agar mampu melihat kepentingan sesama manusia.

Kenyataan itu mungkin yang dimaksudkan oleh sang motivator Eko Jalu Santoso dalam bukunya The Art of Life Revolution bahwa perspektif baru memberdayakan kecerdasan emosional dan spiritual dalam usaha mengubah hidup untuk keluar sebagai pemenang. 

About Gatot Irawan

Check Also

“Seksinya” Mobil Miniatur Peugeot 9×8

Jakarta, NextID – Siapa bilang mobil-mobil miniatur hanya sebatas hiasan mainan belaka? Justru dalam bentuk …

Leave a Reply