Home / LifeStyle / Leisure / Art / Kerja Cantik untuk Nusantara
Sany Repriandini dengan anak-anak saat beracara bertema budaya Nusantara. Ist

Kerja Cantik untuk Nusantara

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Cinta negeri. Banyak cara untuk mewujudkan hal itu. Kultur seseorang, nilai diri dan prinsip keyakinan tentu dapat menentukan langkah ketika seseorang atau kumpulan manusia siap untuk melayani dengan tujuan murni. Melayani orang lain dan berbagi waktu serta pemikiran adalah salah satu tindakan positif dalam usaha menciptakan “kemenangan” hidup.

Kesediaan melayani orang lain dan lingkungan dengan hati nurani merupakan mata uang positif dalam usaha meningkatkan kesuksesan dalam hidup dan pekerjaan. Pelayanan dengan sepenuh hati mendorong seseorang melakukan pekerjaan dengan berkualitas. Tentunya sama artinya dengan membuka peluang diri untuk belajar dan menjalani proses panjang. Soal hasil, tentu akan ditentukan oleh sebuah proses yang benar.

Proses panjang itu juga yang dialami dan dijajaki oleh Sany Repriandini. Bersama 8 personal lainnya ia mendirikan Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN) yang dideklerasikan pada tanggal 7 maret 2020 Di Yogyakarta. Tapi tunggu dulu, apa yang mendorong PBN ini di bentuk dan apa saja kegiatan mereka. Sejauh mana kelompok ini bisa bersinergi dengan masyarakat? Bagaimana perkembangan PBN untuk komunitas atau pengikutnya setelah kumpulan ini dibentuk?

Tentu saja masih sederet pertanyaan panjang yang membutuhkan jawaban pula agar diketahui masyarakat luas. Tujuannya pasti positif dan mulia sehingga para perempuan yang tergabung di dalamnya dalam usaha mempertahankan warisan leluhur tata kelola riasan dan busana nusantara ini, tetap lestari. Inilah bincang-bincang seputar masalah itu dengan ibu dari Benecdictus Bimo Sembodo dan Bernardine Bening Cahyani.  

Bersama para anggota Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN) di satu momen budaya. Ist


Tampilan Berkarakter

Tanya (T) : Dua tahun Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN) sudah terbentuk. Bagaimana dengan konsentrasi sikap dari para perempuan untuk hal ini? Anggota terus bertambah, atau bagaimana?
Jawab (J): Partisipan lebih dari 200 orang yang tersebar di beberapa kota, tapi yang aktif sekitar 100-an. Jika anggota lepas di Facebook (FB) sekitar 2800 orang.

T: Apa nih program jangka pendek dan juga jangka panjang?
J: Program jangka pendek tentu kami bersinergi dengan elemen-elemen masyarakat untuk sesering mungkin mengadakan acara sambil bersanggul, berkebaya dan berjarik (berkain panjang).

T: Apa yang spesifik dari sanggul? Mengingat jika cinta negeri banyak materi lain yang bisa dilestarikan atau dijaga keberadaannya? Toh juga sikap itu sama dengan menjaga warisan leluhur?
J: Secara spesifik sanggul adalah gulungan rambut yang dihias sedemikian rupa dengan banyak detail dan berbagai ornamen untut mempercantik kaum wanita, mengingat rambut memang adalah mahkota perempuan.

T: Sesungguhnya adakah perbedaan yang sangat signifikan setiap daerah untuk sanggul-sanggul ini?
J: Tentu ada. Dari detil ornamennya.

T: Tapi  bagaimana dengan visi dan misi dalam upaya mempertahankan dan melestarikan sanggul sebagai bagian dari kekayaan seni tata rias negeri?
J: Visi kami melestraikan sanggul dan busana kebaya sebagai jatidiri perempuan Indonesia. Dan, misi  mengajak kembali para perempuan Indonesia untuk mencintai busana kebaya dan tata rias sanggul.
Karena saya tinggal di kota Malang, maka saya berkiprah dan lebih aktif di kota Malang, bersama teman-teman PBN Malang Raya, namun tetap berkoordinasi dengan PBN yang ada di kota lain. Saya kebetulan terpilih menjadi Ketua Umum PBN yang mempunyai 18 Korwil.

PBN adalah komunitas non profit sehingga yang kami pikirkan sama sekali bukan kesejahteraan pribadi. Karena kami bergerak mjurni untuk Nusantara dalam usaha melestarikan budaya, spesifiknya sanggul, kebaya dan jarik. Di sini saya bisa tegaskan tidak ada agenda untuk kesejahteraan anggota dalam bentuk materi. Hanya saja dalam kegiatan PBN biaya operasional diperhatikan. Pendanaan untuk kegiatan kami, murni dari para anggota. Kami tetap mandiri dalam artian menutupi kebutuhan operasional ya dari anggota PBN.

Indahnya kebersamaan dengan orang-orang seide dan sepemahaman. Ist

T: Sejauh ini apa kendala dalam sosialisasi karena di Jawa Timur dan sekitarnya banyak juga perempuan yang memakai kerudung atau berjilbab?
J: Kami meng-influence masyarakat untuk kembali bersanggul dengan cara kami sendiri. Semua anggota kami memakai sanggul di keseharian sehingga ini pun sebagai contoh konkrit. Dengan begitu diharapkan mereka bisa melihat atau menjadikan kami contoh bagaimana tampilan wanita Indonesia yang lebih elegan. Jadi untuk hal ini tidak ada paksaan, dan kami tak menganggap hal ini sebagai kendala. Perjuangan tetap harus berjalan sesuai visi dan misi. Yang penting konsisiten.

T: Sejak berdiri apakah jangkauan atau target kerja sudah tercapai?
J: Program jangka pendek yang kami sepakati rata-rata sudah tercapai. Program janga pendek bersinergi dengan elemen-elemen masyarakat untuk sesering mungkin mengadakan acara dengan menetapkan tata rias sanggul, kebaya dan jarik.

Banyak yang Tertarik

T: Apa dampak positif langsung untuk masyarakat?
J: Sejak kami mengikuti upacara-upacara adat sambil bersanggul dan berkebaya mulai banyak yang tertarik untuk kembali ke pakem budaya semula, baik dalam kaitan ritualnya maupun cara berbusana. Sudah terlihat mereka lengkap berbusana dengan ornamen tampilannya yang kuat ke gaya tradisional, walau belum semua.

Selain itu kami membantu museum dengan mengajak anak-anak dari masyarakat untuk kembali mendatangi museum, agar mereka bisa mempelajari sejarah, dan menjaga kelestarian barang yang mereka lihat. Di samping itu didirikan bank busana PBN, masyarakat yang membutuhkan sanggul, kebaya dan jarik bisa kami penuhi, dengan catatan asal ready stok.

Kami memang memberikan kebaya ke beberapa tempat, di samping itu ada juga digelar pelatihan membuat sanggul, cara berkain kepada para anggota.

Yang membanggakan adalah sekolah yang kami kunjungi merasa senang dan secara resmi dan rutin mereka menginginkan kunjungan-kunjugan berikutnya agar didapat suntikan pengetahuan tentang budaya.

Juga mengajak generasi muda mengunjungi situs bersejarah. Misalnya ke candi-candi, atau mengajak anak-anak sekolah untuk berlatih angklung bersama anggota PBN Malang Raya, dan juga menari bersama. Juga menghadiri undangan-undangan yang berkenaan dengan budaya.

Di samping itu juga mengunjungi sekolah-sekolah yang bersedia untuk mengajak para muridnya mengenakan busana tradisional di hari-hari tertentu dan mengenal lebih dekat permainan tradisional. Memang pada akhirnya cukup padat acara kebudayaan yang kami ikuti.

Sany Repriandini bersantai sejenak dengan busana tradisional dan tentu saja bersanggul. Ist

T: Berarti perkembangan dari kinerja PBN sudah baik ya?
J: Ya, sangat baik, keberadaan PBN sudah dikenal masyarakat luas. Anggota kami masuk ke sekolah-sekolah, di samping itu bersinergi dengan para penggiat seni. Contohnya dengan Aliansi Malang Bersatu dan pihak pemerintah, juga masyarakat luas.

Tentu diharapkan akan lebih banyak kaum hawa yang care terhadap kekayaan leluhur, dengan demikian  generasi  penerus mendapat asupan yang semustinya untuk menjaga sekaligus mengembangkan kearifan lokal. Tak meleset jika Thomas Chandler mengatakan, kebahagiaan setiap negara lebih tergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahaannya.

Nah, jika watak penduduknya welas asih dalam hidup bergotong-royong dan melepaskan kepentingan pribadi untuk membangun negeri, niscaya tatanan budaya negeri semakin kuat. Tak hanya seni budaya, namun budaya kerukunan, budaya kerjasama, budaya saling isi untuk mewujudkan kedamaian dan cinta kasih dalam penanganan warisan negeri, apapun bentuknya. Bukankah begitu Mbak Sany? Semoga! 

About Gatot Irawan

Check Also

“Seksinya” Mobil Miniatur Peugeot 9×8

Jakarta, NextID – Siapa bilang mobil-mobil miniatur hanya sebatas hiasan mainan belaka? Justru dalam bentuk …

Leave a Reply