Home / Business / Christine Wijaya, Membangun Bisnis dengan Enerji Kecerdasan
Christine Wijaya (kedua kanan) bersama suami tercinta dan kedua anaknya. Ist

Christine Wijaya, Membangun Bisnis dengan Enerji Kecerdasan

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Ingatkah dengan pameo (peribahasa), “Cinta bersemi dari meja makan?” Dulu kalimat ini sering diperdengarkan, tetapi kini dalam perjalanan waktu – karena menu yang muncul di bisnis kuliner lebih bervariasi – maka tak hanya memiliki cita rasa yang baik namun juga kemasan yang indah sehingga daya tarik semakin tebal. Kenyataan sejenis tentu pada akhirnya punya nilai ekonomi yang patut disimak.

Kenapa sampai bisa demikian, pastinya kenyataan tersebut tak lepas dari keberhasilan seseorang dalam usaha memadukan antara kecerdasan, daya kreatif, titik fokus dan sasaran  pasar. Tak menutup mata bahwa saat ini menu makanan, spesifiknya jenis snack banyak pilihan. Tapi kenyataan itu justru tidak untuk mengecilkan peran kita berkompetisi bisnis. Pribadi yang cerdas akan mampu mengembangkan kualitas kehidupan yang digeluti sehari-hari dengan hasil kerjanya.

Adalah nama pengusaha makanan, Christine Wijaya. Semula pekerjaan yang ditekuninya adalah tak jauh-jauh dari putaran keuangan. Wajar saja karena memang Christine jebolan Accounting dan Finance di sebuah perguruan tinggi maka beberapa tahun ia berkutat dengan angka. Ehm namun siapa yang bisa menebak jalan hidup seseorang, jika dari tahun 2017 hingga kini ia terus berkibar di bisnis kue sus dengan label Dalvin.

Christine sedang mempersiapkan kue sus pesanan konsumen. Ist

Pilihan Bisnis dari Rumah

Cerita Christine, setelah ia punya anak maka sang suami menganjurkan agar ia berhenti bekerja. “Duh, gimana ya, dari biasa bekerja dengan income sendiri, tiba-tiba no income, rasanya gimana gitu. Dari itulah saya mulai mencoba usaha ini. Saya memang gak bisa masak, namun ada keluarga yang memang punya usaha kue. Saya mulai belajar dari dia. Akhirnya saya kok merasa enjoy juga.”

Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Pepatah ini rasanya pas buat Christine. Ia tak hanya belajar membuat kue, namun sekaligus memantau soal packaging, dan mengolah kebutuhan pasar. “Saya mulai membolak-balik layar medsos untuk materi yang akan saya kembangkan dan ketahui. Tentunya yang berkenaan dengan kue yang akan saya pasarkan. Pastinya, saya menggunakan bahan bahan dengan kualitas prima, memperhatikan banget proses produksi. Saya hanya berpikir jika soal kecil saya perhatikan maka Tuhan akan memberikan yang lebih besar lagi,” begitu Christine menyibak langkah awalnya.

Kenyataan ini bisa dirasakan antara kecerdasan pikir dan hatinya sejalan. Waktu berjalan dapat dirasakan orderpun terus berdatangan. Peran Christine dalam membantu ekonomi keluarga mulai dirasakan. Seperti yang dikatakan Aristoteles bahwa belajar tentang pikiran dan ilmu pengetahuan tanpa belajar untuk memperkaya hati, sama dengan tak belajar apa-apa.

Pendapat senada juga dilontarkan oleh Cicero, hati yang penuh rasa syukur bukan saja merupakan kebajikan terbesar, namun induk dari segala kebajikan yang lain. Kebajikan itu juga yang digenggam olehnya, yang memang terkesan bahwa ia menggarisbawahi karunia yang diperolehnya. Karena Christine menyadari penuh untuk keberhasilan usaha seseorang tak hanya ditentukan oleh sebuah bendera perusahaan besar. Tapi akhirnya dia berhasil menetaskan idenitas sebagai pengusaha kuliner dan itu dilakukan sembari mengayomi putra-putrinya.  

Setelah dirasakan, kue sus ini mantap. (Foto Mario Ikada)

“Jujur saja, saya memang introvert. Mau tampil di medsos dengan produk, atau bertiktok rasanya kok gak bisa ya, walau saya sadari untuk menjadi pelaku bisnis itu perlu,” aku Christine. Padahal jika diteliti dari cita rasa dan kemasan keseluruhan dari sajian kue sus yang keluar dari dapur Dalvin sangat layak untuk berada di cita rasa tertentu.

Iklan Melalui Kualitas

Berbagai cara dilakukan para pebisnis untuk menerobos pasar yang dituju. Mulai dari iklan murni hingga membayar editorial atau yang tak kalah canggih adalah iklan yang menggunakan mulut ke mulut.  Sedikit beda yang dilakukan Christine, padahal salah satu mengapa ia bertekun di usaha ini, selain untuk mengayomi buah hati mereka  ia juga beritikad membuka lapangan kerja.  Wuih ini yang sedap didengar. Ia yakin sesuatu yang dikerjakan dengan keputihan hati dan sangat memperhatikan kualitas maka order itu akan mengalir dengan sendirinya.

Bisa dipahami karena order yang mengalir membuktikan bahwa pada akhirnya keterampilan apik membuat kue yang kini ditekuninya itu membuat pribadinya menjadi penting. Image “penting” itu dipertahankan, salah satunya melalui cita rasa. Sus rasa vanila,rasa coklat dan bagi yang menyukai aroma rum atau durian, itupun siap disajikan.

Barang dagangan sangat penting bagi pembisnis kan? Ketika barang yang disajikan itu prima maka akan didapat pribadi yang penting pula dalam mengolah usaha tersebut. Merekalah bagian dari penggerak roda bisnis, walau diakui Christine usahanya itu masih tergolong kecil. “Awalnya saya ingat benar, saya ikut pameran di sekolah anak saya. Ternyata berkelanjutan,” kenang ibu dari Devan Solim dan Charise Davlyn Solim itu.

Bisnis kue susnya sudah berjalan 5 tahun, namun ia belum terpikir untuk membuka kursus atau pelatihan membuat kue-kue sejenis. Alasannya, ingin fokus dulu dengan produksi dan penjualan. “Saya kok masih merasa struggling dalam hal itu. Jadi belum merasa layak untuk mengajar,” ujarnya polos.

Hidup memang pilihan. Diketahui bersama bahwa maju dengan fokus terhadap pekerjaan adalah salah satu kunci keberhasilan. Untuk menjadi pembisnis berhasil tentu pula harus berani untuk maju, dengan materi yang akan dijajakan. Pepatah Cina mengatakan, jangan takut bila harus maju perlahan, takutlah jika tidak fokus dan tidak ada kemajuan.

Bersantai sejenak bersama keluarga. Ist


Mengenal Diri Sendiri

Dari yang semula tidak bisa masak, kini bisnis kue sus Christine menunjuk pada kenyataan semua hal yang ditekuni akan berbuah manis. Benar adanya apa yang dikatakan Confucius bahwa orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan.

Kini Christine bisa merasakan nikmatnya  dari hasil kerja tekun dan fokus. Setiap hari mempunyai waktu yang sama 24 jam. Dalam rentang waktu itu ada yang tidak sama yaitu di kala bisa mengambil waktu dengan cermat untuk hal-hal yang produktif. Tentu itu bisa dilakukan oleh pribadi yang cerdas, peka dan mau mencabuk diri dengan berbagai ilmu. Bukankah hidup ini bangku sekolah. Begitu kan Mbak Christine Wijaya?

About Gatot Irawan

Check Also

“Seksinya” Mobil Miniatur Peugeot 9×8

Jakarta, NextID – Siapa bilang mobil-mobil miniatur hanya sebatas hiasan mainan belaka? Justru dalam bentuk …

Leave a Reply