Home / LifeStyle / Leisure / Art / Batik Toket yang Eksotis dari Madura
Marjanahtul A’la dengan cucunya sedang memperlihatkan batik-batik yang aduhai dari Desa Toket. Ist

Batik Toket yang Eksotis dari Madura

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID –  Garam… Begitulah dulu orang lebih mengenal Bumi Madura. Garam tentunya multi fungsi bagi kehidupan manusia. Bayangkan jika masakan tanpa garam, pastilah hambar. Kekuatan garam itu pula dicerminkan untuk karya para pengrajin, khususnya pembatik di Madura. Tanpa batik Madura rasanya batik di Nusantara ini akan “sepi.” Warna-warna cerah dan isen khas batik Madura muncul sebagai karya lukis di atas helai kain yang eksotis.

Batik Madura memang keren dan luar biasa. Selembar kain itu bukan berkisah tentang kain saja. Tetapi di dalamnya banyak cerita, harapan, dan seni. Ini secara khusus dijumpai – sebut saja Desa Toket di Kecamatan Proppo, Pamekasan. Hampir 90% dari penduduknya membatik dengan baik.

Salah satu motor yang menonjol dari pembatik setempat, siapa yang tak kenal dengan Marjanahtul A’la. Dari gerak tangan bak orkestrasi itu muncullah seniman-seniman batik yang hadir dengan beragam corak khas batik tulis Toket.

Berbagai motif yang menarik dari batik Toket di Madura. Ist

Dari batik yang digarap bersama pembatik-pembatiknya di sana, hadir corak dan motif khas antara lain sekar jagat, sessek mata, rawan rekerreh, mokramok, berebbhe, beng jeruk, sabut engsek, kesmis, padi kemak dan masih sederet nama motif lagi. Bahkan dari karya-karya itu, masuk kategori batik premium dan telah go internasional.

Menurut ibu dua putri dan seorang putra itu, yang juga khas dari batik-batik di sini adalah, batik gurik dan sogan klasik yang digarap dengan proses kerregen kuno. Sejauh ini, dia mengaku masih terus bertahan dengan batik tulisnya, walau di sisi lain merasa tak mudah untuk terus menghasilkan batik-batik pilihan.

Mengapa demikian? Dan, mengapa pula ia harus terus bertahan di peliknya perekonomian di sana? Apa yang diharapkan eyang putri dari Muhammad Azmi Jauhari Azmi ini ke depan dari karya-karya seni leluhur ini? Seperti apa harapannya ke depan agar bumi Madura, khususnya Desa Toket bisa menjadi sebuah desa unggulan lewat karya batik?

Marjanahtul A’la sedang membatik bersama pembatik lainnya. Ist

Yuk, Simak bincang-bincang dengan perempuan pekerja keras  ini.

Semangat Melahirkan Motif

Tanya (T): Kok tertarik dengan usaha batik, apa alasannya?
Jawab (J): Membatik adalah seni budaya kami, sekaligus menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat di Desa Toket. Jadi Batik itu memang sudah mendarah daging warga Toket pada umumnya. Selain masyarakatnya juga ada yang bertani. Sementara ibu rumah tangga membantu perekonomian dengan cara membatik. Saya haru merekalah yang menjadi pekerja seni bangsa ini.

T: Berarti turun temurun ya.

J:  Iya. Membatik di desa kami memang turun-temurun. Alhamdulillah itu sebagai anugerah bagi kami. Ibarat kami mendapatkan warisan yang harus dijaga, dilestarikan sekaligus dikembangkan. Tentu kami semua harus terus berjuang serta meneruskan cara kerja para leluhur pendahulu kami, dan usaha keras untuk menyampaikan kepada generasi penerus.

T: Kesulitan apa yang ditemui dan yang paling mendasar dalam memproduksi batik?

J: Di pemasaran atau penjualan kami sangat kebingungan. Tentu kenyataan itu menambah rasa prihatin yang dalam. Ketika batik sudah siap dijual tapi tidak sesuai dengan keinginan pasar, maka harus sabar dan menunggu. Itu kenyataan yang tak sesuai dengan budget yang sudah dikeluarkan. Terkadang terpaksa dijual di bawah harga agar asap dapur tetap mengebul, karena yang diharapkan income pembatik ya dari jasa membatik itu.

Berbagai batik unik olahan perajin dari Desa Toket. Ist

T: Sudah mencoba diekspor ke luar negeri?

J: Sudah, ke Amerika Serikat, dan saya juga ikut sebagai UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

T: Bagaimana persaingan di Madura untuk batik ini? Mengingat banyak desa dan kabupaten yang juga menggarap batik?

J: Kami para pembatik bersatu padu, karena batik itu perlu dikembangkan terus menerus, dan harus bersikap positip dalam usaha membuka pasar, meskipun terkadang harus jatuh bangun.

T: Jadi jika ditelusuri semua Kabupaten di Madura menghasilkan batik?

 J: Tidak juga. Tapi yang paling banyak menghasilkan batik adalah Pamekasan, termasuk juga order-ordernya.

Mengharapkan Campur Tangan Pemerintah

T: Terkesan Mbak ingin sekali memajukan batik di desa ini. Apa usaha yang sudah dicoba untuk hal itu.

J:  Tentu kami di Desa Toket ini mengharapkan adanya terobosan yang dapat melancarkan omset penjualan batik, baik dari segi pemasaran, dan berlanjut terus mungkin sampai jenjang tertinggi. Kami ini sudah tertatih-tatih. Diharapkan sekali adalah dorongan moril dan materiil dari pemerintah Kabupaten setempat agar masyarakat Desa Toket dapat mengembangkan usaha batiknya yang memang sudah menjadi mata pencaharian kami semua. Serta ada branding berkelanjutan atas produk batik untuk labelisasi serta hak paten motif yang sudah ada sejak leluhur kami dulu.

Mengecek komposisi dan kualitas batik kerap dilakukan Marjanahtul A’la. Ist

T: Bagaimana dengan promosi yang dilakukan pemerintah setempat agar menaikkan omset para pembatik?

J: Ya, memang batik-batik Madura pada umumnya sudah hadir ke pasar atau ajang lebih besar lagi, namun yang dibawa oleh instansi pemerintah Pamekasan adalah orang-orang yang sudah mapan. Kalau orang-orang kecil seperti kami mana mau mereka mengajak.

T: Terdengar ada rasa kekuatiran bahwa generasi penerus kurang tertarik jadi seniman pembatik. Jika itu terjadi berarti seni yang satu ini akan terus memudar digerus waktu. Bagaimana di Pamekasan pada umumnya?

J: Ah, tidak kok. Penerus kami sangat tekun untuk berkarya. Hasil karya mereka juga bagus-bagus. Hanya itu tadi, dibutuhkan sarana dan prasarana untuk bisa terus berkarya dengan baik. Bagaimana dengan pasar dari hasil kerja baik mereka ini belum terakomodasi dengan baik. Untuk penembus pasar kan peran dari pemerintah juga penting. Itu yang diharapkan kami.

T: Bagaimana dengan pewarnaan, pengadaan bahan. Mudah didapatkah? Apakah batik yang Mbak hasilkan ini juga sudah menggunakan pewarna alami?

J: Untuk bahan-bahan keperluan batik bisa didapatkan dari penyedia bahan dasarnya. Untuk batik dengan pewarnaan alam itu akan dikerjakan setelah ada order pasti dari konsumen. Sejauh ini untuk kepraktisan, kami lebih ke warna kimia karena itu bisa dengan mudah didapat dari toko-toko yang menyediakan.

T: Apa ciri khas batik Madura dari satu kabupaten dengan kabupaten lainnya?

J: Itu sulit, sebab hampir di semua kabupaten ada pembatiknya. Maka, bisa saja ia membatik di kabupaten yang satu namun jasanya juga dipakai ke kabupaten lain. Nah, karya yang sama akan terbawa walau mungkin lukisannya hanya sedikit. Tapi itu sering terjadi.

Keseriusan salah seorang pembatik di Desa Toket. Ist

Lihatlah Karya Saya

Jangan lihat saya, namun lihatlah karya saya. Begitulah sering terdengar kalimat yang meluncur dari sosok yang bekerja dengan totalitas. Pengalaman panjang seseorang di bidang pekerjaan yang ditekuni pada akhirnya membuat ia memiliki penuh pekerjaan itu.

Seperti yang dikatakan oleh Marjanatul A’la bahwa ia hanya akan menjalankan perannya sebagai putri yang lahir dan besar di desa yang penduduknya mayoritas pembatik. Yaitu, salah satunya melestarikan sekaligus mengembangkan apa yang sudah diturunkan dari leluhurnya. Yaitu seni membatik.

Aura semangat yang terpancar dari komunikasinya menyiratkan ia memiliki stamina untuk terus membangun desanya. Membangun perekonomian masyarakat pembatik di Kabupaten Pamekasan khususnya dan Madura pada umumnya.

Baginya, belajar, bekerja merupakan proses panjang yang tak bertitik walau tantangan demi tantangan bermunculan. Bagaimana pun alam di ujung Timur Pulau Jawa itu sudah memiliki mekanisme sendiri dalam tumbuh kembang karya seni mereka, yaitu seni membatik. 

Setidaknya orang yang sudah dibesarkan di tengah seni membatik akan terus berusaha untuk membalas budi dengan cara melestarikan dan mengembangkan kekayaan seni yang indah dari para pendahulunya. Sehingga, batik menjadi sumber ekonomi masyarakat yang mengakar dari tingkat bawah. Begitu kan Ibu Marjanahtul A’la?

About Gatot Irawan

Check Also

Cipta Kerja di Tengah Persaingan

Jakarta, NextID – Bekerja di rumah sama peliknya dengan pekerjaan rumah. Bahkan bekerja di rumah …

Leave a Reply