Thursday , 11 August 2022
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Hidup Sarat Makna
Yvonne Imelda Hubner, perempuan kreatif. Payung yang dilukisnya menjadi unik dan bernilai. Ist

Hidup Sarat Makna

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Berbahagialah jika hobi seseorang pada akhirnya bisa mendatangkan nilai ekonomi yang baik. Di tengah kondisi dunia umumnya dan negeri ini khususnya memang membutuhkan orang-orang yang kreatif, yang berdaya kerja apik, plus mampu menata waktu dengan jitu.

Keberadaan seperti itu tentu diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja, di masa pelik ini. Yah, setidaknya bagi diri sendiri dan orang-orang terdekat. Kita tengok perempuan cerdas yang satu ini. Dia beraktivitas dengan lebih efektif. Ia mampu menggunakan waktu dengan baik.

Fokus diri dengan pekerjaannya. Sementara dalam kesibukkannya, hadir tetap mempesona. Pasalnya, hobi tersalurkan, daya cipta terasah, dan kantong terisi. Setuju? Yuk, intip yang satu ini.

Aksesori yang didesainnya, menarik. ist

 Adalah Yvonne Imelda Hubner, antara lain. Ia tampil ayu dengan pernak-pernik mungilnya. Tepatnya, aksesori pelengkap penampilan. Mulai dari penghias telinga, leher, jemari, batang lengan, hingga untaian perhiasan yang dilekatkan di busana, berupa bros.

Improvisasi karyanya tentu disesuaikan dengan perjalanan rotasi fashion. Bahan dasar aksesorinya antara lain perak, perak bakar, emas, juga mutiara. Kemilau aksesori semakin elegan ketika Yvonne memberi sentuhan akses dari rona bebatuan. “Semua karya saya itu bisa dilihat di IG dan Facebook dengan nama Gian.accessories,” sebutnya.

Eh, tunggu dulu. Ia tak hanya menggarap jenis aksesori yang berupa perhiasan. Ibu dari 4 putra itu juga melukis di atas payung dan kipas yang terbuat dari kertas. Lukisan untuk  dua benda ini identik dengan rupa bunga. Mumpuni kan?

Yvonne dengan hasil karyanya. Ist

“Saya suka mendesain aksesori, nanti pengrajin yang membuatkannya,” jelasnya. Karya sejenis bisa muncul, antara lain jika memiliki kecerdasan rasa dan kepekaan yang menyatu.  Tentu saja Yvonne  tak menutup mata bahwa di luar sana, beragam aksesori ditawarkan. Mulai dari harga yang terjangkau sampai tarif mahal. Namanya juga fashion, tak akan pernah berujung. Rotasi waktu terus bergulir maka desain aksesoripun demikian, bagaikan garis lazuardi.

Perempuan Sumber Inspirasi
Rasanya tak ada yang menyangkal bahwa perempuan itu sumber inspirasi bagi seniman. Lihat saja, mulai dari rambut, kuping, leher, kuku tangan kaki, pakaian yang dikenakan seluruhnya bisa dicantolin produk atau karya yang berupa pernak-pernik. Bahkan bagi seniman lukis dan grafis, tubuh perempuan dijadikan sumber karyanya di atas kanvas.

Apakah  Yvonne itu juga demikian. Yang pasti dari karya pernak-perniknya itu terkesan bahwa ia sudah lebih dulu mengolah hati, imajinasi, dan rasa dengan baik. “Ya sih. Memang harus sabar. Untuk  memulai bisnis aksesori ini saya harus tinggal beberapa waktu di Bali. Belajar dan menekuni pembuatan aksesori yang terbuat dari emas,” jelas ibu dari grup musik The Overtunes.

Seluruh aksesorinya memang untuk mempermanis agar tampil elok. Ist

Mungkin saja dewasa ini,  cara membuat aksesori bisa dilihat dari layar monitor medsos, Youtube dan media beriklan. “Yah sejenis itulah. Apa sih yang tak disuguhkan oleh dunia tehnologi saat ini?” celotehnya.

Tapi Kembali lagi bahwa kepekaan dan rasa dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya seni. Itu tak dapat digadai semata dengan kecanggihan teknologi. Bukankah hasil akhir dari sebuah karya itu ditentukan dari sebuah proses? Tak keliru jika Sydney Harris mengatakan bahwa ancaman nyata sebenarnya bukannya pada saat komputer mulai bisa berpikir seperti manusia, namun ketika manusia bisa berpikir seperti komputer.

Nah, mengerjakan pernak- pernik kecil itu tentu membutuhkan rasa yang “besar.” Untuk teknik pekerjaan seperti itu maka Yvonne pernah berkisah. Suatu hari, dalam usaha menyelesaikan sebuah orderan yang berupa payung dan kipas maka ia harus bekerja hingga jelang subuh. Tentu itulah bentuk sebuah profesionalisme kerja.

Salah satu karya Yvonne yang unik. Ist

Bicara keindahan tentu tak luput dari nilai pribadi yang punya nurani. Walau teknologi terus berkembang, tapi sentuhan kelembutan jiwa untuk sebuah karya seni, tak bisa diabaikan begitu saja.

Mungkin itulah  salah satu penyebab karya seni itu mahal. Nilai yang muncul dari sebuah karya berkesinambungan dengan pemahaman menjalankan kehidupan berkesenian.  Keseimbangan enerji dan fokus dalam bekerja juga akan memberi lompatan besar dan tak terduga untuk sebuah keberhasilan. Apakah karya Yvonne punya nilai ekonomi? Tentu! Walau ia tak menyebutkan berapa nilai jual yang dapat diraih dari karya seni yang dihasilkan itu.

Sejauh ini, puan berdarah Manado tersebut dalam usaha penjualan aksesorinya ia  rajin mengikuti berbagai pameran, bazar dan tentu orderan langsung dari relasi kerja. “Untuk saat ini, masih cara itu yang saya pilih, karena juga masih harus mendampingi kegiatan anak anak. Suatu hari nanti mungkin saja akan berada di sebuah tempat khusus untuk menjual aksesori ini, karena saya juga bekerjasama dengan beberapa UKM,” sibaknya optimistis.

Yvonne belajar ke Bali untuk memperdalam pembuatan aksesori. Ist

Menyimak pernak-pernik yang dihasilkan oleh ibu dari Mikha Angelo Brahmantyo ini, menyiratkan makna bahwa kecil itu indah. Yang kecil itu penting, sama pentingnya ketika kaum hawa melakukan sebuah pekerjaan yang dapat menginspirasi banyak orang. Dari pekerjaan, dan aktivitas itu muncul kenyataan bahwa perempuan adalah pribadi yang penting. 100% penting.

About Gatot Irawan

Check Also

Adelaida Koraag: Melayani Membutuhkan Hati

Jakarta, NextID – Rasanya tidak ada yang bisa menyangkal, pengalaman hidup membuat kita lebih menyerap …

Leave a Reply