Thursday , 11 August 2022
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Dari Karunia untuk Kemanusiaan
Antaresa Hendita dan bukunya, “Philosophy of Flowers.," berisi karya lukisan dan puisinya. (Foto Mario Ikada)

Dari Karunia untuk Kemanusiaan

Oleh Edwin Yezz

Jakarta, NextID – Sembilan puluh dua juta rupiah terkumpul dari lelang lukisan karya Antaresa Hendita. Hasil yang diraih diperuntukan pelayanan masyarakat di 3 daerah di kota Tarutung, di Tapanuli Utara. Gelar 55 lukisan dan peluncuran buku :Philosophy itu berlangsung di Aula Pangudi Luhur di bilangan Jakarta Selatan pada 23 Juli 2022.

Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam tersebut dibuka dengan ibadah syukur. Di ruang tertata apik dengan sentuhan bunga di beberapa sudut. Tampak hadir beberapa kalangan antara lain, para rohaniwan, pengusaha, pendidik, musisi, juga dari kalangan para muda. 

Dita, begitu  sapaan dari pendiri sekaligus pembina Yayasan  Women of Faith Indonesia, menjelaskan buah pikirannya seputar berdirinya yayasan tersebut. Dia juga memaparkan visi kinerja kelompoknya yang berpusat pada pemulihan yang disertai edukasi, sentuhan jiwa, motivasi hidup perempuan Kristiani, tentu dalam menapak kehidupan. Di samping, mendampingi mereka untuk memahami apa yang menjadi hak dan kewajiban di tengah hidup berkeluarga, plus hidup bermasyarakat .

Pameran lukisan Dita baru-baru ini di Jakarta bersamaan peluncuran bukunya. Ist

Mengapa Dita  berkonsentrasi pada keberadaan perempuan sebagai ibu dan istri dalam bahtera rumahtangga. “Karena ibulah pendidik awal untuk putra-putrinya dalam pertumbuhan iman, karakter dan sikap. Jadi, pembenahan awalnya mental,  itu sasaran kami. Jika mental dan jiwa sudah tertata maka ibu-ibu ini tahu bagaimana mereka harus mendidik putra-putrinya. Ini sangat mendasar,” bebernya.

Dalam kesempatan terpisah, Dita menjelaskan dasar yayasan ini dibentuk. “Wanita di zaman sekarang ini tidak bisa dianggap seperti era dahulu. Wanita sekarang itu haus akan pengetahuan. Itu sebabnya wanita sekarang memiliki pengetahuan yang sangat luas,” tegas Dita.

“Wanita bukanlah makhluk yang lemah. Sebaliknya, dia sosok tangguh dan bisa diandalkan ketika berposisi  menjadi partner yang sepadan untuk pria.  Maka kebijakan dan sudut pandang seperti itu yang pada akhirnya mendorong kami untuk lebih memperhatikan kehidupan para perempuan di kota Tarutung,” lanjutnya.

Menurut sudut pandang Dita,  perempuan-perempuan di Tarutung juga harus memiliki daya pikir yang lebih baik, sebab mereka sudah punya bekal,yaitu pinter menenun, bisa memasak, berkebun dan sederet anugerah lain yang Tuhan sudah berikan. Walau diakui ia belum merengkuh lebih banyak daerah dengan kinerjanya bersama tim pelayanannya. Tapi setidaknya ia sudah melangkah dan berbuat untuk kaum di daerah asal sang suami.

Dita saat bincang bersama kelompoknya seputar peluncuran buku dan yayasan yang dimotori. Ist

“Menjadi wanita hebat tidak melulu dengan paras yang cantik, wanita hebat tidak dilihat dari dandanan yang modis dan punya rumah yang bagus. Yang terpenting dan mendasar, jiwa mereka harus tenang, kuat, sehingga mereka mampu untuk mendidik putra-putri dengan baik. Jiwa dan mentalnya dulu yang dibenahi. Pasti itu penuh tantangan,” begitu Dita menjelaskan pemikiran dalam tim kerjanya.

Lebih jauh dikatakan, wanita di Tarutung memiliki pribadi yang kuat dan tangguh menghadapi persoalan hidup dan berbagi dengan sesama. Namun sering didapati lingkungan dan pasangan hidup mereka tidak menunjang, bahkan tidak menghargai jerih payah itu. “Mereka harus paham bahwa  mereka punya nilai dalam dirinya. Dan itu bentuk kasih sayang dan anuegrah dari Tuhan untuk mereka yang kemudian harus dikembangkan. Jadi pembenahan yang kami lakukan adalah jiwanya dulu, rohnya dulu agar lebih tenang dan paham bagaimana harus bersikap demi kelanjutan hidup yang lebih baik,” papar Dita.

Wanita magister artium dari Sekolah Tinggi Teologia Jaffray di bidang Konseling itu terkesan figur wanita tangguh. Dia founder dan pembina dalam Yayasan of Faith Indonesia. Dia sudah melahirkan sebuah karya tulis dalam bentuk buku berjudul “Philosophy of Flowers.”  Ini unik, karena “perkawinan” karya seni lukis yang bersanding dengan karya sastra dan dituangkan di dalam buku setebal 130 halaman. Masing-masing pesan punya intepretasi yang saling melengkapi. Buku apik ini diterbitkan Afterhours Books dan ditata secara profesional oleh Lans Brahmantyo.

Dita sempat berkisah asal muasalnya menulis kumpulan puisinya. Pasalnya, muncul keresahannya sebagai seorang wanita dan ibu, lalu dia menuangkan aspirasi dan dedikasinya teruntuk perempuan di Indonesia umumnya, khususnya untuk wanita di Tarutung. Yang tersirat setiap makna yang tertuang dalam buku “Philosphy of Flowers” merupakan hasil pemikiran dan rasa syukur Antaresa Hendita atas hidup yang menghidupi sebuah kehidupan. Bravo.

Suasana saat lelang lukisan Dita di acara peluncuran bukunya itu. Ist

About Gatot Irawan

Check Also

Adelaida Koraag: Melayani Membutuhkan Hati

Jakarta, NextID – Rasanya tidak ada yang bisa menyangkal, pengalaman hidup membuat kita lebih menyerap …

Leave a Reply