Home / Business / Memadu Bisnis Madu “Down to Earth” agar Eksis
Agar para bocah tertarik dipilihlah kemasan berbentuk beruang,.sekaligus mengenalkan madu itu sehat dan sangat dibutuhkan tubuh manusia. (Foto Martha Sinaga)

Memadu Bisnis Madu “Down to Earth” agar Eksis

Jakarta, NextID – Dewasa ini  berbagai kebutuhan bisa tersedia melalui online. Percepatan waktu untuk mendapatkan apa yang dipesan, katakan itu makanan atau minuman menjadi prioritas. Sama pentingnya dengan komposisi sehat yang terkandung di dalam materi yang dikonsumsi.

Ehm, tak hanya itu jika makanan atau minuman maka kemasan yang ditawarkanpun harus memikat, higenis dan setelahnya kemasan tersebut bisa digunakan. Keseimbangan antara keindahan kemasan dan sehatnya komposisi materi yang akan dikonsumsi, akan menjadi lompatan keberhasilan sebuah bisnis.

Adrian Wahyudi mengecek madu di peternakannya di Citeurep. Ist

Keberhasilan berbisnis seperti  itu digenggam oleh pasangan Adrian Wahyudi dan Vonny Tjoe – keduanya lulusan Curtin University, Perth, Australia. Kita simak pemikiran dan kiat bisnis mereka hingga berhasil berbisnis madu sehat dengan kemasan yang unik.

Mereka membuka lahan luas di bilangan Citereup untuk berternak lebah jenis Trigona. Nah, pasangan ini memang punya taste bisnis yang mumpuni. Madu tidak hanya ditampung dalam kemasan botol pada umumnya namun disajikan di dalam botol berdesain beruang. Pokoknya tampil beda.

“Beruang Madu”

Mengapa memilih beruang sebagai kemasan madu? Menurut Adrian, selain beruang itu binatang yang lucu, juga suka makan madu. Anak-anak pasti tertarik. Sekaligus mengenalkan bahwa madu itu sehat dan sangat dibutuhkan tubuh manusia. Agar para bocah tertarik dipilihlah kemasan berbentuk beruang. 

Memang menarik perhatian anak-anak dan keluarga, kemasan botol beruang ini. (Foto Martha Sinaga)

Tak hanya soal kemasan agar bisnis madu bisa mencapai pasar yang lebih luas maka dibutuhkan kiat berbisnis yang cerdas dan elegan.  Mengingat di negeri ini telah bertebaran bisnis sejenis. So, apa yang membedakan madu garapan Adrian dan Vonny dengan madu yang sudah beredar lama di pasaran?  Simak yuk, bincang-bincang dengan mereka di kebun di mana lebah jenis Trigona berseliweran.

Tanya (T): Siapa yang mendesain kemasan madu berupa beruang? Mengapa memilih beruang? Apa ada filosofinya di balik itu?
Jawab (J):  Awalnya kami ingin menjangkau segmentasi pasar anak-anak dan keluarga. Tentu setelah melihat kurang adanya ketertarikan mereka untuk mengkonsumsi madu, maka dicarilah kemasan yang menarik perhatian anak. Agar mereka mau mencoba madu, maka botol beruanglah dipakai untuk kemasan.

T: Kemasan menarik apakah tidak menambah cost pada harga jual?
J : Tentu saja cost menjadi lebih tinggi, namun tujuan perusahaan untuk edukasi dan pengenalan lebih baik kepada masyarakat tentang madu. Maka kami tidak mengubah harga madu menjadi lebih mahal, melainkan menyerap cost kemasan tambahan.

Pada sebuah pameran, banyak konsumen bertanya soal permaduan dan dijelaskan oleh Adrian Wahyudi (kanan). (Foto Martha Sinaga)

T: Kelihatannya sasaran pembeli adalah keluarga, atau masyarakat sosial lebih luas. Siapa nih yang punya ide dan apakah sudah dilegalkan?
J: Untuk kemasan beruang memang kita bertujuan untuk segmentasi pasar anak-anak dan keluarga. Ide untuk desain label AVA & Co berasal dari owner,  Vonny. Logo sudah dilegalkan dan terdaftar di Indonesia.

T: Apakah dalam pengenalan akan kerja lebah dan khasiat madu sudah pernah dilakukan untuk kerjasama dengan para pendidik, siswa atau murid untuk mensosialisaikan alam dan lingkungan yang dapat dioptimalkan seperti pemeliharaan lebah?

J: Kita sudah melakukan terobosan antara lain dengan menerima tamu atau kunjungan dengan tujuan pembelajaran budidaya lebah dari beberapa instansi.  Kami harapkan ke depan bisa bertambah berkembang luas dalam hal edukasi ke masyarakat.

T: Pernahkah lingkungan di kawasan penangkaran lebah mengeluh atau berkomentar terhadap binatang yang punya sengat ini?
J: Belum pernah ada warga setempat yang  mengajukan keberatan dengan adanya tempat budidaya lebah ini. Bahkan beberapa kepala desa setempat banyak yang menyampaikan ketertarikan untuk bisa bekerja sama dengan warga-warga sekitar.

T: Apa yang semula terpikirkan kok pilihan jatuh kepada bisnis madu?
J: Dengan berkembangnya pemikiran masyarakat dengan healthy lifestyle, maka dapat dilihat adanya market opportunity di pasar madu. Apalagi dengan maraknya brand-brand madu impor yang memiliiki harga tinggi, sehingga kami tergerak untuk memasyarakatkan madu asli tidak berarti harus membayar mahal.

Adrian Wahyudi memegang hasil madu dari peternakan lebah AVA&CO di Citeurep. Ist

Madu Terstandar

T: Siapa yang melakukan uji klinik lebah ini sehingga dinyatakan higenis atau madu higenis.
J: Kita selalu mengirim contoh madu untuk diuji kepada laboratorium eksternal yang sudah terakreditasi ISO/IEC 17025: 2015 dan terstandar SNI (SNI 8664:2018).

T: Untuk botol beruang ada berapa varian? Memasarkannya bagaimana?
J:  Botol beruang memiliki 3 varian. Ukuran 120 gr, 200 gr dan paling besar 400 gr. Saat ini kita memang melakukan bisnis secara online tapi tidak menutup kemungkinan akan buka toko juga.

T: Resep bisnisnya apa nih, sehingga cuan deras mengalir?
J: Segala bisnis pasti ada hari baik atau buruknya. Kita hanya terus berpikir pada saat hari buruk jangan ikut jatuh, dan mengingat bahwa ini adalah pembelajaran yang berguna di kemudian hari. Begitu juga dengan hari yang baik, kita harus selalu ingat tidak setiap hari adalah hari baik, maka harus tetap “down to earth.”

Percaya saja bahwa selama kita membantu teman dan rekan di saat mereka membutuhkan maka mereka pun juga akan membantu kita pada saat kita membutuhkan bantuan. Rasanya  pemikiran Adrian tak meleset, hati yang dipenuhi perhatian terhadap setiap kejadian akan mempertebal enerji dalam hidup.

Membangun enerji kebersamaan dengan relasi yang tepat dibutuhkan untuk membentuk lebih luas jejaring. Oleh karena itu membangun enerji  kebersamaan itu perlu dilakukan, karena itu dapat menginspirasi untuk langkah bisnis yg sukses ke depan.

Aristoteles mengatakan, belajar tentang ilmu pengetahuan tanpa belajar untuk berbagi atas nama kebersamaan dan memperkaya hati, sama artinya tak belajar apa-apa.  (Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

Salah Satu Prioritas Diplomasi Ekonomi Indonesia: Kopi Spesialti Indonesia

Bali, NextID – Kementerian Luar Negeri RI pada tanggal 21 dan 22 Juni 2022 telah …

Leave a Reply