Home / LifeStyle / Fashion / Life & Love / “Memberi itu Hidup”
Memberi itu yang penting ikhlas. Dengan begitu hubungan pertemanan itu terpilin terus. (Foto Mario Ikada)

“Memberi itu Hidup”

Oleh Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Jika tangan kanan memberi maka tangan kiri tak perlu tahu. Dalam hal tertentu mungkin ungkapan ini pas jika diterapkan, namun ada kalanya tindakan memberipun perlu diketahui orang lain agar menjadi contoh yang positif.

Toh memberi tak harus berupa materi segunung, atau duit setumpuk. Memberi disertai ketulusan dengan sebuah empati tentunya jauh lebih punya arti. Memberi dengan ucapan syukur tentunya akan menciptakan suasana damai, sukacita dan menimbulkan inspirasi kepada pihak lain untuk melakukan hal yang sama.

Memberi itu makna terdalamnya adalah sentuhan. Rasanya memberi dengan ketulusan ini yang terus menerus harus digarisbawahi dan dilakukan, mengingat saat ini kesenjangan silaturahmi menguak lebar walau tak dapat dikatakan bahwa sikap memberi sudah kandas.

Kesenjangan sosial yang menjadi fenomena masyarakat saat ini, akhirnya menimbulkan rasa enggan untuk memberi. Atau, mau memberi jika nanti sudah kaya. Bisa juga anggapan yang muncul ketika hidup dalam kekurangan maka mana mungkin bisa memberi.

Orang yang selalu merasakan tidak punya kemampuan apa-apa tentu akan menimbulkan dampak buruk bagi dirinya. Bahkan tak berlebihan jika orang tersebut akan mempercepat kisah hidupnya untuk tamat, tanpa hasil apapun. Maka tak ada salahnya memberi kesempatan bagi diri untuk selalu berpikir positif tentang hidup dan aktivitas agar tak lupa bahwa kita pun merupakan pribadi yang penting.

Sentuhan yang dikirim untuk  menimbulkan rasa kekeluargaan. (Foto Mario Ikada)

Dari terbentuknya pikiran bahwa kita adalah pribadi yang penting maka setidaknya kita pun sudah memberi waktu dan kesempatan bagi diri sendiri untuk berbagi atau memberi hal yang positif kepada orang lain.

Pendapat seperti itu dibenarkan oleh perempuan pengusaha di Lampung, Novi Yuliani. “Mungkin apa yang saya berikan kepada rekan-rekan bukan makanan yang wah, namun membuat mereka senangpun itu sudah sebuah kebajikan. Memberi itu yang penting, ikhlas. Dengan begitu hubungan pertemanan itu terpilin terus.

Nggak kita pungkiri kok, belakangan ini kesenjangan hubungan silaturahmi itu tak seharmonis dulu. Lihat saja di jagad medsos, saling debat, saling sindir hingga menghujat. Tapi jika kita punya hubungan yang terus ditumbuhi saling menghargai, setidaknya hal itu bisa dikurangi.”

Novi lantas mengurai, gift makanan sederhana yang dilayangkan ke alamat para sahabatnya. Mulai dari kopi, kerupuk, terasi, soun, bihun sampai keripik singkong. “Nah, sederhana kan. Tapi itulah bentuk simpati saya. Wujud antara lain pemberian dari bagian usaha saya. Mereka yang menerimapun, senang. Saya juga dihinggapi rasa lebih senang lagi karena bisa memberi dan berbagi,” begitu ibu dari dua putra itu menyibak sikap dan tindaknya dalam hal memberi.

Memberi itu tentu bagian dari sikap yang positif, maka jangan hanya terfokus membangun enerji tubuh atau fisik, namun juga ada pikiran yang harus dibangun setiap hari agar kecerdasan itu tetap berdaya guna bagi diri sendiri dan orang lain. Bukankah  tindakan memberi itu juga merupakan kesatuan dari estetika, moral dan karakter? Dan itu dapat digunakan untuk membangun enerji pikiran yang akan sangat menunjang keberhasilan untuk hidup ke depan.

Jangan melihat fisik tapi perhatian. (Foto Mario Ikada)

Siram Tiap Hari
Kebersamaan itu penting karena kita memang masyarakat sosial yang saling membutuhkan. Kebahagiaanpun otomatis muncul ketika dalam kebersamaan dapat mengunjungi para sahabat melalui buah tangan.

Dalam bukunya, J.Donald Walters mengatakan, “Kebahagian Anda akan tumbuh berkembang manakala Anda turut memperhatikan orang lain. Namun, bilamana Anda tidak membantu sesama, kebahagian akan layu dan mengering. Kebahagian bagaikan tanaman yang harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi.”

Oleh karena itu membangun enerji kebersamaan itu perlu dilakukan, salah satunya dengan memberikan perhatian. Tujuannya, menemukan relasi yang tepat yang selanjutnya mampu menginspirasi  untuk hidup lebih baik dalam derap napas saling menghargai.

Yang pasti kita hidup bukanlah sebagai individu yang “mandiri,” tapi kita harus saling berhubungan satu dengan yang lain, dengan saudara, anggota keluarga, rekan sejawat, teman kantor hingga lingkaran tim kerja.

Bentuk perhatian mampu membentuk sentuhan yang membekas. (Foto Mario Ikada)

Sepaket makanan dari rekan kerja di Daihatsu, Mitsubishi Motors,Peugoet Indonesia, V-Kool, atau Honda Indonesia, juga sentuhan yang dikirim untuk  menimbulkan rasa kekeluargaan. Dan itu bisa bentuknya vocer belanja atau makanan. Bukankah cinta itu tumbuh juga dari meja makan? Tidakkah sentuhan itu lebih menimbulkan enerji ketimbang harga dari bingkisan yang diterima?

Sekrup itu kecil namun mampu memperkokoh berdirinya sebuah bangunan yang megah. Apa bedanya dengan kerupuk dan mie yang dikirimkan Novi untuk para sahabatnya. Tentu tak berbeda, karena benang merahnya memperkuat tali kemitraan dan rasa kekeluargaan.

Pemilik usaha kuliner Dapur Moci’S – Bali, Hilda Safitri, punya pendapat menarik. Menurut ibu tiga putra itu, jangan tunggu kaya baru memberi. Hilda  melihat ke dirinya. Dalam keberadaan apapun ia tetap menenteng makanan, minyak kayu putih, pakaian untuk anak anak penderita kanker di salah satu rumah singgah di Denpasar, Bali.  “Saya bisa bawa 5 ekor ayam yang sudah dimasak dan minyak kayu putih beberapa dus, rasanya hati ini sudah lega banget,”  tegas Hilda.

Bicara soal memberi dengan Hilda tak ada bosan dan putusnya. Ketika tubuhnya sedang kurang sehatpun, ia masih berpikir keras untuk memberi santunan kepada tukang sampah atau petugas kebersihan. Dengan napas yang naik turun, Hilda menurunkan sumbangan pakaian dan makanan untuk para pekerja kebersihan itu.

Memberi itu makna terdalamnya adalah sentuhan. (Foto Mario Ikada)

Sikap memberi itu  sama artinya dengan menciptakan banyak karya untuk sesama, karena itu berbagi tak hanya untuk relasi. Yang pasti memberi adalah sentuhan kepada sesama yang paling mendasar. Nah, sikap baik terhadap sesama  manusia ini, tentunya akan menebar inspirasi ke banyak kalangan. Memberi itu tak luput dari nilai cinta kasih dan menghargai diri sendiri.  Begitu kan? Mari perpanjang jam terbang dari sikap memberi, apalagi di hari dan bulan baik ini.

About Gatot Irawan

Check Also

Honda Kembangkan Mesin Pesawat dan Bahan Bakar yang Ramah Lingkungan

Tokyo, NextID – Honda Motor Co., Ltd mengumumkan pengembangan mesin serta bahan bakar pesawat yang …

Leave a Reply