Tuesday , 19 October 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Mengintip “Ruang Pengabdian yang Sangat Pribadi” Wayan Redika
Buku kumpulan puisi berjudul “Ayat-ayat Sesat Kaum Kiri” karya Wayan Redika. (Foto: Martha Sinaga)

Mengintip “Ruang Pengabdian yang Sangat Pribadi” Wayan Redika

Jakarta, NextID – Beberapa hari lalu buku kumpulan puisi berjudul “Ayat-ayat Sesat Kaum Kiri” tiba di alamatku. Kubaca, lanjut kusimak maka kudapatkan sebuah pemikiran bahwa buku ini ditulis, dirangkum dan ditata dengan budaya niat apik oleh Wayan Redika.

Menariknya, sampul buku itu dihias dari karya lukisannya. Lalu komentar disajikan di lembaran awal sampul buku dengan bahasa yang mudah dicerna, mengapa kumpulan puisi ini sampai ada. Kata Pengantar disampaikan oleh Mas Triadnyani dalam 5 halaman.

Uniknya, masih bicara fisik, di sampul belakangpun hanya menampilan satu pendapat dari seorang yang dianggapnya memang pas untuk hadir di kumpulan bahasa batin yang terangkum dalam 137 halaman, dengan penerbit Prasasti, Maret 2021.

Mendengar dan Merasakan
Bicara karya puisi bagaikan garis lazuardi yang maha panjang. Tak ada kekuatan apapun yang bisa mematahkan makna susunan kata. Pada mulanya adalah kata, di kitab sucipun itulah yang tertulis, maka begitu kuatnya makna kata dalam sebuah literasi. Bukankah tanpa kata penyair tak bisa berkarya? Atau, bahkan penulispun tak bakal dikenal orang. Memantik komentar “Presiden Penyair” Sutardji Calzoum Bachri, ”Jangankan kata, bunyi saja punya arti, dan itu puisi.”

Pendapat senada disampaikan oleh Wayan Redika yang juga seorang pelukis itu. “Puisi dan lukisan sama-sama membentuk ruang pengabdian yang sangat pribadi. Saya mengunduh makna bahagia di keduanya,” sibaknya di satu siang.

Dalam kumpulan puisi – prosanya, kental dirasakan penuangan berbagai rasa dari aliran sukmanya. Rasa kagum, rindu, juga penyesalan, sekaligus harapan. Rasa ini yang menciptakan panggung kejadian yang dialami Redika, menyusup ke benak pengertian yang membaca.

Kemudi Jiwa

Bagi, mendiang ats, sebelum berkabar pulang, kau lukiskan rahasia garis di awan, tersenyum seperti  bibir bayi berserah, ikhlas setulus bening mata telanjang, meminta kepada kuasa angkasa, dalam doa sebelum sandi dimulai.. (penggalan, dari halaman 29)

Rasa kehilangan yang besar, diikhlaskan namun sekaligus diberikan tanda selamat jalan yang sakral lewat kata, kau lukiskan rahasia garis di awan. Tentu di tempat tertinggi, di ruang yang tak tergapai manusia secara lahiriah. Penghormatan terakhir yang abadi itu dilakukan Redika melalui sebuah karya yang ia sukai yaitu puisi. Ini mungkin yang juga dikatakan Khalil Gibran dalam Cinta Sepotong Anggur bahwa menjaga harmoni tali persahabatan atau persaudaraan itu tidak dibatasi oleh kepentingan sempit, suku, ras dan profesi. Penghargaan itu utuh sifatnya. Redika menyampaikan hal itu.

Penyampaian hasrat dan kata hati itu terkesan memang tidak direpotkan dengan pemilihan diksi yang ribet, atau menerapkan tekuk-lekuk bahasa yang terkadang hanya penyairnya yang paham, walau memang puisi itu bisa dikatakan larik kalimat yang multi tafsir. “Saya tidak repot dengan pemilihan diksi, apa yang saya rasakan itu yang saya tulis. Nah, kumpulan puisi dalam buku ini adalah perjalanan bagian hidup yang saya alami,” kisahnya lagi.

Memang, aktivitas hidup pun itu puisi. Kesenyapan itu pun puisi, karena dalam senyap tetap ada komunikasi.  Sebab dalam kesenyapan itu akan muncul pemecahan-pemecahan dari apa yang dialami. Kenyataannya, banyak orang bicara, pintar menyibukkan diri, pintar mengritik orang lain namun tidak piawai dalam mendengar dirinya dan bertumbuh dari sesi mendengar itu.

Ya, Radika mendengar… Itu kentara dan tertuang pada salah satu puisinya yang berjudul “Catatan Bangsa” (dari halaman 40-41). Baitnya menarik, dan menjadi istimewa ketika ungkapan batin Redika menyoal:

bung karno! di ujung keningmu kucipta, tagar tali kasih anak negeri, di mana suaramu terngiang, lebih tinggi dari gelombang, peneduh jiwamu…

bung karno! di tanganmu adalah garuda, bersayap mimpi kebebasan,terbang dari nusa terindah, menyulut unggun kesadaran,  jiwa bangsamu


Suaramu terngiang. Kembali lelaki kelahiran 1961 itu memasukkan dirinya dalam sesi mendengar, dan ia bertumbuh berkembang lewat hasrat sastra lamanya ini. Tutur kata, susunan alam pikir Wayan Redika yang kini menetap dan berkarya di studionya di Karangasem, Bali itu tertuang di semua judul yang ia sajikan.

“Mata Air Lempuyang” (halaman 2) misalnya, di paragraf ke empat, Redika menulis,

; aku merasa semakin larut dalam,  dahaga, asa terseret untuk meneguk,  setetes benih mata air pelebur mala,  dari remah tanah pura lempuyang

Setiap orang menghayati akal dan rasa yang berbeda. Ungkapan di larik ini berpola pikir eksistensi atau inti dari pemikiran sang penyair ditekankan pada keberlangsungan eksistensi kehidupan manusia di bumi ini, baik jasmani maupun rohani dan spiritual. Rasa dan perhatian terhadap lingkungannya erat terasa. Rasa tulus itu adalah potensi paling luhur yang dimiliki manusia sebagai anugerah Tuhan, karena keluhuran itu sendiri adalah bagian ”diri” Tuhan.

Keluhuran itu rasanya tak diterapkan Redika hanya dalam larik-larik puisinya namun di seberang telpon ia menjelaskan  bahwa untuk bukunya kali ini ia berharap ada kritikan membangun. Diapun berharap akan muncul tanggapan tanggapan yang nantinya dapat digunakan untuk ia berbenah diri dalam berkarya, baik di dunia sastra ataupun di dunia perupa. “Ada beberapa pihak yang ingin membedah buku ini di Bali, namun yang saya butuhkan adalah masukan yang bisa digunakan untuk saya berbenah dalam karya.”

Menciptakan Puisi itu Sulit
Setelah menyimak napas dari puisi Wayan Redika, maka terlontar pertanyaan dan ini jawabannya. .

Tanya (T): Dua seni yang dilakoni, apa perbedaan dan persamaannya?
Jawab (J): Keduanya adalah karya seni yang memerlukan enerji penciptaan sama besar. Menciptakan puisi bagi saya memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari seni rupa. Garapannya bisa lebih spontan karena tak terikat banyak dengan teknik mencipta. Sementara dalam seni rupa, teknik menjadi bagian yang amat penting dalam menyelesaikan karya.

Wayan Redika Ist

Saya merasakan puisi adalah seni meditasi mendalam. Sirkulasi kata-kata yang muncul dalam pikiran tidak serta merta kemudian bisa ditulis sebagai puisi tetapi akan diolah kembali dalam wadah intuisi dan harus mendapat persetujuan estetik dari gerakan batin kita. Karena itu puisi bagian dari kesenian maha tinggi. Berbeda dengan senirupa yang bergantung pada kemampuan kita dalam penguasaan teknik dan kecerdasan membangun gagasan dalam mencipta.

T: Apa yang ingin dicapai dari penerbitan buku kumpulan puisi ini?
J: Buku ini adalah  dokumentasi proses perjalanan saya menulis puisi sejak 1980, termuat 70 puisi lintas tema. Hampir 5 tahun saya kumpulkan dari arsip para sahabat yang rajin bikin klipingan sastra. Akhirnya terkumpul belasan judul walau itu tidak lengkap. Digabung dengan pasca 1995 dan saya gabungan dalam satu buku.

Tidak ada pretensi macam-macam. Komersial misalnya atau ingin mendapat julukan sastrawan atau penyair. Ini murni perjuangan diri dan dokumentasi. Saya akan bahagia jika buku ini jadi olah pikir bagi yang membaca. Saya persembahkan bagi orang yang bisa menghargai literasi. Setidaknya bisa jadi catatan anak cucu. Mereka akan turut mewarnai perkembangan jagad puisi Bali dan Indonesia.

T: Kenapa tidak menyantumkan puisi dalam lukisan?
J: Saya merasa  belum perlu memasukkan larik larik puisi ke dalam karya lukis. Justru saya ingin menguatkan keduanya menjadi identitas seni yang saling memberi manfaat dalam penciptaan.

Dalam melukis kehadiran puisi cukup pada fase konstruksi ide dan gagasan, selanjutnya melalui warna, cahaya dan komposisi kadang sebuah karya mempu menvisualisasuikan sebuah puisi walau tanpa ditulis bait-bait puisi di antara lukisan tersebut. Di samping itu, karya saya banyak dipengaruhi ikon-ikon peradaban Bali yang sarat dengan dialog puitis.

Pendapat dari Redika rasanya tidak meleset, karena lukisan sendiri sudah merupakan puisi dalam warna. Ketika meleset menerapkan larik puisi pada sebuah karya lukis bukannya tidak mungkin akan menimbulkan persepsi yang abu-abu. Kecerdasan dalam berkomunikasi tentu dibutuhkan untuk menyanggah sebuah karya. Memantik pendapat T.S Matthews, “Komunikasi adalah sesuatu yang mudah, susahnya adalah ketika kita menerapkan dengan kata atau tulisan yang tidak benar.”

Redika telah berkomunikasi lewat dua karya seninya. Komunikasi yang ia sampaikan salah satunya lewat karya puisi dan itu diartikan sebagai interaksi batinnya dengan batin orang yang membaca karyanya. Kumpulan puisi – prosa Redika jika ditarik benang merah dari rasa dan pengalaman batin maka akan muncul sebuah esai atau akan menjadi lebih kaya jika pengalaman batin meluas,  kemudian menuangkannya  dalam sebuah renungan puisi.

Bagaimanapun keindahan itu memiliki berbagai tingkatan. Mulai dari keindahan batin, tubuh, pikiran, ilmu dan akhirnya keindahan mutlak. Keindahan, menurut filsuf Plato adalah jembatan antara dua dimensi, yaitu dimensi material dan dimensi ideal, atau dimensi partikular dan dimensi universal. Wayan Redika sudah membagi keindahan dalam balutan kecerdasan makna itu di tengah himpitan Covid 19.

Lanjut Bli, hadirlah lewat kebebasan batin untuk hidup berkesenian. Kita lebih besar dari masalah yang dihadapi dan gak boleh kalah dengan masalah yang menunggu kita. Hadirlah lagi lewat “ayat-ayat sucimu.”
(Martha Sinaga)


About Gatot Irawan

Check Also

Dari Tiada Menjadi Ada

Jakarta, NextID – Sepanjang masa pendemi kurang lebih dua tahun banyak pertanyaan yang dilontarkan seputar …

Leave a Reply