Tuesday , 19 October 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Dari Tiada Menjadi Ada
Sarunn bantal dari ulos dengan teknik patcwork. (Foto; Martha Sinaga)

Dari Tiada Menjadi Ada

Jakarta, NextID – Sepanjang masa pendemi kurang lebih dua tahun banyak pertanyaan yang dilontarkan seputar masalah ekonomi. “Mau usaha apa ya?” dan “Jualan apa ya, apakah nanti laku gak ya?” Kalau-pun sudah memutuskan materi yang akan dijual, masih ada buntut pertanyaan, apakah nanti setelah dijajakan itu ada yang membeli?

Tidaklah salah jika pertanyaan seperti itu berjibun muncul, karena semua masyarakat melihat kondisi yang ada. Memang tidak mudah menghadapi masa-masa seperti ini. Tidak hanya di negeri ini, namun di seluruh dunia. Hanya saja bagaimanapun hidup harus jalan terus karena itu dibutuhkan sebuah keberanian untuk menerobos peluang pekerjaan, yang mungkin semula tak terpikir justru harus dijalani dengan benar.

“Bantal Kasih” menjadi koleksi “The 2INS” – Mario dan Marco. Ist

Mengutip pendapat dari Michael Faraday, bahwa lima dasar usahawan untuk bisa menerobos pasar dalam kondisi apapun adalah konsentrasi, diskriminasi (kemampuan diri untuk membedakan produk yang bakal ditekuni atau dihasilkan), inovasi dan komunikasi. Komunikasi menjadi sangat penting karena merupakan salah satu modal untuk meraih keberhasilan. Bukankah proses interaksi dalam kehidupan sehari-hari juga tidak lepas dari komunikasi.

Berangkat dari komunikasi yang benar dan tepat maka usaha bisa dijalankan. Semula, komunikasi dilakukan dengan para sahabat kerabat dan lingkungan terdekat. Langkah lanjut saling memberikan informasi, apa produk yang paling dibutuhkan dalam masa sulit seperti ini.

Beberapa waktu lalu tanaman menjadi incaran konsumen yang luar biasa. Beberapa jenis tanaman menjadi primadona dan dijajakan dengan harga selangit, dan itu banyak peminatnya. Mungkin semula tanaman itu hanya tumbuh liar di hutan belantara. Ramai-ramai orang berkebun. Terlihat kios-kios yang menawarkan tumbuhan hias penuh sesak oleh calon pembeli. Mulai dari nursery besar hingga lapak-lapak pinggir jalan dipenuhi tanaman hias.

Bantal dengan nuansa etnik. (Foto: Martha Sinaga)

Jika berpikir mau melihat secara positif, fenomena ini oke saja. Bararti ada usaha menjaga lingkungan dan cari jalan keluar atas kebosanan yang mulai hinggap karena gerak aktivitas terbatasi disebabkan covid-19 melanda. Ironisnya, enerji besar itu hanya terserap pada hal-hal yang sifatnya sementara. Sebab kini kegiatan pasar tanaman itu kembali menyurut jika tak dapat dikatakan hilang sama sekali. Enerji berdagang atau berusaha itu hanya terfokus pada enerji tubuh dan fisik, padahal ada anugerah pikiran  yang harus dibangun setiap hari agar semakin cerdas dan berdaya guna.

Karya dan Karakter

Bukankah dari santapan medsos, buku seni misalnya, jenis seni yang disukai menentukan besar kecilnya enerji pikiran kita. Belajar dari itu maka pengetahuan yang diserap tak hanya ilmu hitung namun juga ilmu estetika, moral dan karakter yang dapat diserap lalu dibangun enerji pikiran yang akan membangun enerji pikiran, selanjutnya menelurkan karya-karya yang disukai pasar.

Dalam usaha menghasilkan sesuatu utamanya dibutuhkan membangun enerji hati dengan asam manisnya pengalaman hidup. Demikian yang dikatakan oleh Aldous Huxley. Misalnya untuk menghasilkan karya seni dan selanjutnya mampu memantik pasar, tentu dibutuhkan selera yang baik. Tidak neko-neko namun bisa memahami selera pasar sesuai dengan daya beli pasar itu di tengah berkecamuknya Covid-19. Sesuai di sini tentu diartikan bukan hanya dari desain yang ditawarkan namun juga sentuhan-sentuhan hati yang terkesan, atau tertuang pada hasil karyanya.

Sedang membuat “Bantal Kasih” dengan teknik patchwork. Ist

Inovasi dibutuhkan dalam menerobos pasar. Misalnya saja, bantal-bantal cantik untuk ruangan, mobil atau teras rumah  yang bernuansa kental Indonesia, atau motif tenun etnik Indonesia. Jangankan warga Indonesia, orang asingpun akan tergelitik hatinya melihat cantik atau eloknya kekayaan motif tenun etnik negeri ini.

Bantal-bantal dijahit dengan teknik patchwork, sekilas orang melihat itu semua hanyalah limbah, namun justru di situlah letak keindahan itu. Perpaduan antara kecerdasan rasa dan kesabaran diri dalam menciptakan sebuah karya seni. Mungkin semula kain itu tak lebih  sebagai gombal. Ada sebuah ketelatenan jiwa dibutuhkan untuk itu, maka tak heran jika harga satu sarung bantal ukuran standar mencapai ratusan ribu rupiah. Ini berbeda dengan sarung bantal yang bisa dicetak secara masal, karena pekerjaan mesin yang bicara.

Dalam hitungan menit sarung bantal akan selesai ratusan pieces. Mungkin itu yang ditekankan oleh Syndey Harris, “Ancaman nyata bukan pada saat computer mulai bisa berpikir seperti manusia, namun ketika manusia mulai berpikir seperti komputer.”

Inovasi tidak berarti menciptakan manusia seperti robot yang tak berhati nurani, justru nurani dan kepekaan rasa dibutuhkan untuk melahirkan karya seni di tengah tekanan keadaan ekonomi saat ini. Dengan keindahan maka aura yang melihat menjadi lebih nyaman. Kenyamanan itu akhirnya menuntun calon pembeli untuk memiliki sebuah karya yang mumpuni.

Seni Mendengarkan dari Ketidaksempurnaan

Untuk memahani ketidak sempurnaan kita manusia hendaknya tidak malas mendengarkan, terutama mendengarkan kata hati dan lingkungan apa dan bagaimana yang harus dilakukan, sekaligus pemecahannya. Melatih diri untuk menciptakan sama artinya kita mau bertumbuh dan terus berkembang dari ketidaksempurnaan. tak hanya mengeluh dan berujung pada keadaan jiwa yang frustasi.

“Bantal Kasih” dari ulos yang siap dikoleksi. (Foto: Martha Sinaga)

Semisal saja, potongan-potongan kain yang disatukan tentu ada terapan selera dan ketelitian yang baik. Semua disatukan dan dijahit dengan rapi, ukuran disesuaikan dengan kebutuhan bantal dan taplak meja.

Keuntungan yang didapat dengan menggunakan tenun motif etnik adalah karakter setiap kain sudah kuat, maka memadukan satu dengan yang lain bagaikan meronce mutiara dengan kilau masing masing yang menawan. Hargapun masih terbilang baik, walau saat ini mungkin sebagian besar masyarakat masih bicara soal perut dan kebutuhan primer lainnya. Namun tidak ada yang tak mungkin bagi orang kreatif yang punya  kecerdasan dalam menghasilkan sebuah karya, selanjutnya membelah hari dengan cara memenuhi permintaan pasar dengan cerdas.

Memang seringkali kreasi datang dari ketidaksepurnaan karena dalam situasi seperti itu kita tertantang untuk terus hidup. Ketidakbiasaan akan menjadi kesanggupan justru ketika seseorang dalam keberadaan tertekan, sulit dan kecewa. Rahmat Illahi akan menjadi kunci kuat dalam mengalirkan inspirasi.

Pada masa yang kepepet pun akan memunculkan inspirasi yang semula tak terpikir yang pada akhirnya mampu menciptakan bahan-bahan yang semula dibuang sayang menjadi pilihan pasar tersayang. (F. Dahlia)

Martha Sinaga menyukai busana tradisional, kebaya. Ist


About Gatot Irawan

Check Also

Semi Final Wonderful Indonesia Srikandi Championship 2021, Menarik!

Jakarta, NextID – Perkembangan dunia digital yang sangat pesat menggeser aktivitas fisik menjadi kegiatan digital. …

Leave a Reply