Thursday , 5 August 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Corp / Kayu Jati Lestari Indonesia “Diburu” di Jerman
Kayu jati siap diolah lebih lanjut. Ist

Kayu Jati Lestari Indonesia “Diburu” di Jerman

Jakarta, NextID – Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu penghasil kayu jati terbesar. Jenis kayu keras ini menjadi komoditas yang dihargai mahal karena tampilan dan sifat kayunya yang unik. Industri furnitur kayu jati berkembang pesat di Indonesia dan didominasi oleh pelaku usaha kecil dan menengah.

Kayu jati Indonesia adalah kayu yang sustainable, legal dan socially responsible karena Indonesia sudah menerapkan “Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)” yang diakui oleh Uni Eropa. Ini adalah kelebihan kayu jati Indonesia dibandingkan dengan kayu jati dari negara Asia Tenggara lainnya yang beberapa tahun belakangan ini ditengarai mengalami kemerosotan reputasi karena tuduhan over-eksploitasi lahan hutan dan kerusakan lingkungan karena pembukaan perkebunan kayu jati.

Kayu jati banyak dicari di Asia umumnya untuk kayu konstruksi bangunan, pintu, jendela dan bahkan sebagai materi pembuatan kapal. Tapi di Jerman, kayu jati banyak ditemui di pekarangan dan taman, baik untuk bahan lantai parquet atau furnitur luar ruang. Namun perlahan masyarakat Jerman dan Eropa lainnya mulai sadar mengenai banyaknya kayu hasil penebangan liar yang merusak lingkungan, dan mereka mulai memperhatikan informasi dari mana kayu yang mereka beli berasal dan apakah ditebang dari perkebunan kayu yang ramah lingkungan.

“Dan itu bagus dan hal yang baik. Hal ini membuat industri kayu Indonesia tidak hanya memperhatikan kayu yang mereka produksi berasal dari perkebunan kayu, tapi juga kayunya diproduksi secara berkelanjutan dan ramah lingkungan,” respon Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, kepada Majalah Mobelmarkt edisi Juli 2021.

“Industri kayu sudah ada di Indonesia sejak abad ke-18, dan saat ini Pemerintah melalui SVLK mengontrol dan mendokumentasikan kepatahuan pelaku industri kayu terhadap aspek keberlanjutan dan kelestarian lingkungan. Label “Indonesian Legal Wood” akan diberikan untuk produk kayu yang telah lolos uji SVLK,” bebernya.

Indonesia juga adalah negara pertama yang diberi wewenang untuk menerbitkan izin FLEGT (Forest Law Enforcement, Governance and Trade) untuk kayu yang dijual di pasar Uni Eropa. Dengan bergabungnya Indonesia didalam sistem kontrol FLEGT, konsumen kayu tropis Uni Eropa bakal yakin bahwa kayu Indonesia yang dibelinya diproduksi secara legal dan ramah lingkungan. Perusahaan importir di Eropa pun diuntungkan karena kayu-kayu berizin FLEGT dapat dengan mudah didistribusikan di seluruh wilayah Uni Eropa tanpa membutuhkan perizinan tambahan.

Indonesia tidak hanya memperhatikan kayu yang mereka produksi berasal dari perkebunan kayu, tapi juga kayunya diproduksi secara berkelanjutan. Ist

“Dengan bergabungnya Indonesia di sistem kontrol FLEGT, kita dapat membuktikan bahwa kayu jati Indonesia tidak berasal dari pembalakan liar, dan bahwa jumlah pohon yang ditebang akan sama dengan jumlah bibit pohon yang ditanam kembali” jelas Dubes Oegroseno.

“Sistem sertifikasi FLEGT yang akan diperkenalkan secara global ini bahkan jauh lebih baik dibanding FSC. FLEGT menekankan pada legalitas kayu, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan. Sistem ini memperhatikan sungguh-sungguh aspek sustainability yang ditargetkan oleh Uni Eropa”, jelas Arif Havas Oegroseno lagi.

Pohon jati di perkebunan umumnya baru layak tebang setelah berumur 15-25 tahun. Namun pohon jati hutan memerlukan waktu setidaknya dua kali lebih lama untuk mencapai ukuran dan kualitas yang ukuran yang setara. “Tapi kualitas kayu tidak hanya bergantung pada umur pohon, namun juga terkait teknologi pengolahan selanjutnya” ujar Nurlisa Arfani, Atase Perdagangan KBRI Berlin.

Teknologi pengolahan kayu jati Indonesia sekarang ini semakin baik sehingga konsumen bisa mendapatkan kayu yang lebih berkualitas dan tahan lama serta tahan cuaca apapun. Di 2020, produk kayu Indonesia sudah terjual di Eropa dengan nilai 660 juta Euro, umumnya sudah dalam bentuk furnitur. Perputaran uang global dari jual beli kayu adalah senilai 2,4 milyar Euro. Jadi sektor kehutanan memegang peran penting dalam menghidupkan perekonomian di daerah terpencil, mengingat pelaku usaha kayu adalah kalangan UKM. 

Selain kayu jati dan produk rotan, industri furnitur Indonesia juga mulai merambah ke kayu trembesi sebagai alternatif yang lebih sustainable. Produk kayu trembesi juga disukai di Eropa, dikenal dengan “rain tree“, karena tampilannya yang sangat cantik. Urat kayu trembesi dengan warna coklat emas dan kelir hitam membuatnya cocok dibuat menjadi furnitur meja yang menghiasi rumah-rumah di Jerman dan negara Eropa lainnya.

(Artikel ini dimuat di Majalah Möbelmarkt, satu majalah bertemakan desain interior dan furnitur yang dipublikasikan tidak hanya di Jerman, tapi juga di beberapa negara lain yang berbahasa Jerman, seperti Swiss dan Austria. Majalah ini meliput semua aktivitas bisnis di sektor furnitur dan  merekomendasikan pameran dagang internasional di seluruh dunia, termasuk IFEX dan JIFFINA) – KBRI Berlin

About Gatot Irawan

Check Also

Sekretariat Presiden Resmi Luncurkan Pendaftaran Upacara Virtual HUT ke-76 RI

Jakarta, NextID – Sekretariat Presiden kembali mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi memeriahkan pesta …

Leave a Reply