Home / LifeStyle / Leisure / Art / Di Tangan Orang Kreatif, Sampah Jadi Bernilai!
Komunitas "Malu Dong" yang aktif tanpa henti mengumandangkan bersih lingkungan di Bali. Ist

Di Tangan Orang Kreatif, Sampah Jadi Bernilai!

Jakarta, NextID – Jika di tengah lawatan Covid-19 ada acara yang  menggelitik untuk disimak tentu punya nilai tersendiri. Contoh soal, ketika pameran lukisan karya 9 pelukis yang materi karya digarap dari sampah, digelar pada 15 Mei hingga 15 Juni 2021 yang diprakarsai oleh “Malu Dong Space” di Bali.

Duh, bicara soal agenda kerja “Malu Dong” tentu tak jauh dari kerja keras nan konsisten Komang Sudiarta, yang tak lain juga pendiri gerakan penanggulangan sampah yang ia sosialisasikan dengan dua kata yang sangat menohok, “Malu Dong!”

Pada tahun 2009 ia mulai merintis pergerakan ini. Mengapa? Ini penjelasan Komang. ”Pertama saya asli orang Bali, dan Bali daerah pariwisata. Nah, yang dijual budaya dan alamnya. Jika alam penuh sampah, sudah pasti turis lambat laun tidak akan ke Bali. Keberadaan kami di sini setidaknya sedikit membantu menyelesaikan persoalan ini. Ehm, istilahnya itu ngayah, atau bakti sosial, begitu,” sibak Komang ketika dihubungi lewat telpon genggamnya, Rabu (19/5).

Soal sampah gak perlu dipermasalahkan karena sudah menjadi masalah, yang seharusnya bagaimana memecahkan soal yang satu ini antara lain dari kesadaran semua pihak bahwa lingkungan sehat itu butuh dijaga, diciptakan dan dilestarikan. Rasanya gak perlu banyak bicara lagi untuk usaha Komang dengan komunitasnya dalam menanggulangi sampah, yang tak kenal lelah.

Duh,  itu bisa dilihat dari dokumentasi yang berhasil dilakukan. Edukasi itu telah dilakukan dari jenjang kanak-kanak hingga orang dewasa. Terlihat  hampir di semua lini kehidupan sosial gerakan “Malu Dong” hadir. Disadari penuh oleh Komang bahwa persoalan sampah ini sangatlah serius. Itu sebabnya bagaimana menjaga lingkungan agar tetap bersih itu sudah ditanamkan sedini mungkin. Itu yang mendorongnya dengan komunitas masuk di tingkat terdini, yaitu para murid SD bahkan TK.

Komang Sudiarta (kiri) – motor komunitas “Malu Dong” tengah berdiskusi. Ist

“Persoalan sampah ini sangat serius, namun pasti selesai jika dilakukan dengan konsisten dan bersama-sama tanpa ada kepentingan, dan kami di Bali merangkul semua komunitas besar, banjar termasuk sekolah dan perguruan tinggi,” tegasnya.

Dalam kaitan merangkul berbagai kalangan untuk Bali bersih sampah itulah maka baru-baru ini (15 Mei), 9 pelukis ambil peran dan menggantungkan karya mereka di ruang pamer lukis yang terletak di jalan Sahadewa No 20, Denpasar. Salah satu pelukis, I Nyoman Loka Suara mengetengahkan karyanya yang menyematkan unsur puntung rokok.

“Saya terinspirasi menggarap bahan dari puntung rokok karena selalu melihat puntung rokok yang memenuhi pantai-pantai di Bali. Mungkin lewat karya ini, orang akan semakin peduli, plus sadar penuh tidak membuang puntung rokok di mana-mana. Kan ada tempatnya,” sibak Loka ketika disinggung tentang karya lukis puntung rokoknya.

Lukisan I Nyoman Loka Suara mengetengahkan unsur puntung rokok. Ist

Loka yang mengaku menyelesaikan karya lukisnya dalam seminggu itu lantas menambahkan, keikutsertaannya dalam pameran ini setidaknya mengingatkan berbagai kalangan untuk lebih memiliki kesadaran agar membuang sampah dengan benar. Komang juga  menekankan bahwa pameran sejenis akan lebih banyak digelar walau sebelumnya sudah digelar Festival Art, tentu juga oleh Komunitas “Malu Dong.”

Pendapat senada dilontarkan oleh perempuan pelukis Ni Wayan Adnyana bahwa diharapkan seniman pun ikut dalam kepedulian terhadap bersih lingkungan melalui pengelolahan limbah, dan tentu hasil akhir akan menjadi sebuah karya seni yang dapat dinikmati bahkan menjadi berkat bagi banyak kalangan. “Bijak dengan sampah, atau bersahabat dengan sampah tentunya akan menghasilkan sesuatu yang positif,” begitu pendapatnya.

Sebagaimana yang dikatakan Komang bahwa sampah menjadi tanggungjawab bersama. Itu sebabnya maka ia seakan tak lelah untuk ngider memberikan edukasi, penyuluhan, motivasi agar masalah sampah bisa dipecahkan bersama. “Bali menjadi Bali yang asri, apik dan menyandang pulau pariwisata yang mumpuni,” impiannya.

Lukisan karya Ni Wayan Adnyana berjudul Now or Never, memperlihatkan keprihatinan atas situasi lingkungan. Ist

Melihat data, sedih jika mengingat memang negeri ini adalah negeri penghasil limbah plastik terbesar di dunia. Lagi diberitakan bahwa Indonesia dikenal sebagi negara penghasil sampah terbanyak nomor 2 di dunia. Konon saat ini pemerintah berkomitmen untuk memaksimalkan banyak cara untuk menangani hal itu, bahkan dikatakan tahun 2025, 70% dari sampah di negeri ini akan dikurangi. Caranya? Nah, itu yang harus diperjelas agar masyarakat luas tidak hanya tahu namun ikut berpartisipasi di dalamnya.

Antara Seni dan Sampah
Seni bukanlah apa yang kamu lihat, tetapi apa yang membuat orang lain melihatnya begitu menurut Edgar Degas. Nah, oke-oke saja jika sebuah karya seni menggunakan limbah atau sampah, apapun jenis sampah itu. Bukankah gerakan seni itu tak ada ujungnya, selalu tumbuh berkembang, bersemi dan indah. Selalu baru bagaikan kisah yang tak  berlimit.

Semua gerak tangan dan alam pikir akan menguak kata batin para seniman itu sendiri. Semakin “dalam” kadar limbah maka semakin terlihat kepekaan sang seniman dalam mengangkat limbah tersebut menjadi sebuah karya seni. Sembilan pelukis hadir dengan menggunakan limbah kertas, plastik, tembakau (rokok), perca, kardus, dan kaca. Bukankah semua akan bernilai di tangan manusia-manusia kreatif. Bukankah salah satu jurus komunikasi yang jitu itu melalui karya yang “berbicara.”

Tinggal lagi di era yang sulit akibat Covid 19 yang terus menari-nari tak berarti menghentikan langkah bekerja, atau membatasi karya. Berkarya? Lanjut…

Jika ada manusia yang menyukai sampah, karena membuang sampah seenaknya, maka tentu ada manusia yang menyukai karya seni, sehingga manusia yang menjadikan dirinya “sampah” akan teredukasi dengan karya itu sendiri. Maka tidak akan lagi muncul istilah bahwa negeri ini adalah kampung sampah terbesar, atau gunung sampah plastik, ada di Indonesia. Wui, horror banget ya.

Ironisnya ada juga tulisan yang muncul bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Ehm, namun masih banyak yang membuang sampah seenak perutnya. Jika sudah demikian maka akan muncul dua kriteria sampah. Sampah dari limbah, atau manusia yang menjadi sampah karena mengumbar kebodohannya mengotori alam semesta.

So, bagi manusia yang melihat sampah membuat gumpalan kegelisahan tentu mencari jalan keluarnya. Komang dan Loka contohnya. Bertemu, berembuk dan terkemaslah pameran lukisan yang  menggunakan bahan limbah tersebut. Kegelisahan itu juga menghampiri  A. A. Putu Oka Astika, pelukis yang juga ambil bagian di ajang pameran itu.

Barong karya A. A. Putu Oka Astika di atas tikar. Ada unsur limbah plastik dan cat akrilik untuk finishing. Ist

”Pada dasarnya dari merespon tema yang pernah dibahas dari beberapa kali pertemuan, gak sengaja saya  menemukan tikar di pinggir jalan, saya olah tentu melalui ide, lalu gagasan dan  saya tuangkan di atas media. Nah,  akhirnya terbesit untuk melukis barong di atas tikar tersebut. Saya coba untuk mengkolaborasi media plastik dalam karya saya kali ini dengan menggunakan cat akrilik sebagai finishing,” beber Astika – alumni STSI Denpasar 2003 itu.

Astika melihat  bahwa pameran tersebut adalah gerakan kecil seniman yang mendukung gerakan peduli lingkungan. Seperti yang diupayakan  komunitas “Malu Dong Buang Sampah Sembarangan” yang dimotori Komang Sudiarta. Ia berharap dari riak kecil ini akan menjadi  gelombang besar yang peduli terhadap lingkungan.

Masyarakat dunia berkunjung ke Bali tentu tak hanya melihat kekayaan seninya namun juga keragaman alamnya yang tertata apik dan resik, lagi sehat.  Nah, sehingga mereka yang “hinggap” di Pulau Dewata dengan sendirinya akan “Malu Dong” jika buang sampah sembarangan. Dengan begitu para pendatang pun punya kesadaran bahwa alam masih menjadi pelukis terbaik, sebagaimana yang dikatakan Arsene Houssaye. Betul kan?! (Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

Inilah Deretan Merek Mobil Baru yang Siap “Goyang” GIIAS 2024

Jakarta, NextID –  GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024, pameran tahunan yang dinanti-nantikan oleh …

Leave a Reply