Sunday , 1 August 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Wayan Benang, Apa itu?
I Wayan Arnata, pelukis unik dan satu-satunya di Bali yang menggunakan benang daan akrilik. Ist

Wayan Benang, Apa itu?

Jakarta, NextID – Wayan Benang, apa itu? Nama atau julukan yang telah menjadi ciri jatidiri seseorang jika kebiasaan itu dilakukan konsisten dan itu dilakukan seniman unik asal Bali, I Wayan Arnata. Alumnus FSR ISI Yogyakarta 1993 itu adalah pelukis namun dalam media lukisannya terdapat unsur benang yang menjadi ciri khasnya dalam setiap lukisannya. Di Bali, hanya Wayan Arnata satu-satunya yang menggeluti lukisan dengan media benang. Maka tak heran seniman lukis itu dijuluki “Wayan Benang.”

Ceritanya mengapa memilih itu? Begini tuturnya, cinta tumbuh karena kebiasaan. Kalimat ini sering dilontarkan terhadap sebuah kenyataan yang dialami seseorang. Ia mencintai seseorang atau sesuatu karena kehidupannya akrab dengan obyek yang selalu ditemui. Cinta itu lantas tumbuh. Terus bersemi dan berakhir pada tumpukan karya yang punya nilai jual. Nah, kenyataan itu yang dialami pelukis benang (yan) akrilik di atas kanvas itu.

So, tunggu dulu sebelum melongok apa dan bagaimana karya I Wayan Arnata, rasanya bicara benang selalu menarik. Saking menariknya benang sering muncul di peribahasa, pada istilah komunikasi, sampai pada larik-larik sastra lama. Jadi, bisa dirasakan betapa solidnya fungsi dan filosofi untaian atau helai benang itu. Sangat akrab di telinga peribahasa, “bagai menegakkan benang basah.” Dan, Buya Hamka dalam lembaran salah satu bukunya menulis, “emas tak setara loyang, sutra tak sebanyak dengan benang.”

Lukisan “Footprint” pemenang Bronze Award dalam kompetisi Painting of the Year 2017 UOB di Jakarta Ist

Jauh sebelum itu, Voltaire menulis , “Cinta adalah selembar kanvas dihiasi keindahan panorama alam dan bersulam benang-benang imajinasi.” Juga, Robert Burton sang penulis itu mengatakan, “Tak ada dawai, tak juga kawat yang bisa menarik begitu kuat, atau mengikat begitu ketat seperti dilakukan karena cinta, kekuatan itu muncul hanya dengan seutas benang.”

Menangkap filosofi yang mampu diterapkan dari benang memang membutuhkan waktu untuk menyimak, dan merenungkan betapa pentingnya fungsi benang, walau mungkin saja ketika mulai melukis dengan menggunakan materi benang tak sejauh itu memiliki filosofi. Hanya saja, usai menamatkan studinya dari Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, pemikiran dan ide untuk berkonsentrasi menghasilkan lukisan benang mencuat di diri Arnata.

“Pada 2008 saya mulai intens melukis dengan benang. Semakin ditekuni semakin ribet. Rumit dan itu tantangan bagi saya,” aku ayah dari Anak Putu Sagara Budhi Caytra dan Made Yoni Dara Chandani.
Rumit baginya namun ia juga mengakui jati diri dalam berkarya itu ia temukan ketika ia menekuni lukisan benang tersebut.

Ketika ekspresi dan emosi I Wayan Arnata dituangkan ke dalam kanvas. Ist

Lagi dan lagi rasa suka terhadap apa yang dilakukan Wayan Arnata ini bermula karena seringnya melihat sang kakek yang membuat kelengkapan untuk sembayang di pura. Wayan kecil memperhatikan sang kakek yang tak pernah sepi berkreasi. “Kakek memang luar biasa, seni apapun bisa ia kerjakan dan lakukan. Melukis, mengukir dan memahat kayu, memintal berbagai benang, dan apa yang dilakukan kakek turun ke bapak saya. Bapak pengukir kayu, dan saya pun sebelum ke Yogya masih di SMSR selalu mengukir kayu. Dari perjalanan itu saya tertarik untuk melukis, namun belum menggunakan benang,” kenangnya.

Ia mengaku,  semula memang menemukan beberapa kesulitan melukis dengan menggunakan benang. ”Rumit tapi kok menantang dalam metafora. Di jurusan seni murni hal ini kan tidak diajarkan, hanya tugas-tugas dari jurusan masing-masing.  Yah, ada konsep melukis, dan teknik melukis. Setelah tamat dari ISI, saya kembali ke Bali, mulailah saya kembangkan dan konsen dengan benang ini.”

Kerja keras menghasilkan madu. Selain beberapa penghargaan ia raih, di antaranya, UOB Painting of the Year Bronze Established Artist Category (2017), dan Pemenang I “Adhi Aji Sewaka Nugraha” Competion International Baligraffhi di Museum Nyoman Gunarsa Klungkung Bali (2013), karya lukisnya sontak diminati kolektor.

Lain lukisan bercerita tentang alam semesta dalam imajinasi I Wayan Arnata. Ist

Diakuinya, walau Covid menghadang Bali, ia tetap melukis hingga malam di studionya  yang  berukuran 6×4 yang terletak di bilangan Sukawati. “Hidup dan tanggungjawab terhadap keluarga kan harus terus berjalan. Sangat terasa turunnya penjualan lukisan di tengah Covid ini, namun penjualan masih tetap berjalan, dan itu yang menyemangati saya.”

Marah Jadi Inspirasi
Bekerja dengan hati dan pikiran yang lebih bening tentu akan mendorong seseorang mengenal dirinya secara tunak walau setiap pribadi punya cara tersendiri dalam bekerja dan berkarya. Konon banyak pendapat mengatakan, suasana hening seorang seniman bisa menjaring ide lebih banyak. Bahkan pendapat lain, ide yang meluncur dalam keheningan para seniman akan lebih mampu mengolah fokusnya.

Sah-sah saja sih berpendapat, namun ini cerita dari I Wayan Arnata, kehidupan kesehariannya justru memunculkan banyak ide dalam ia menuntaskan karyanya. Ini penuturannya, suatu ketika dia marah, geram dan emosi terhadap beberapa orang. Ia tidak membuat gaduh, namun luapan emosi itu dituangkan di karyanya.

“Maka muncullah lukisan telapak kaki. Dan lukisan itu kini menjadi koleksi UOB 2020. Tidak hanya rasa marah ya, namun juga sebaliknya. Ketika saya merasakan damai sejahtera, atau simpati terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar, itu menjadi ide untuk melukis,” tuturnya.

Ketika disinggung soal tarif yang tertera di karya lukisan benang, lelaki yang hobinya ke laut dan ke gunung  itu dengan nada santai mengungkapkan, semua ia terapkan dengan harga standar. Bagaimanapun nilai ekonomi yang tertera tentu ditentukan dari hasil  akhir sebuah proses. Ia pun mengaku untuk benang wol yang digunakan tidaklah sulit untuk didapatkan di Bali, namun sejauh ini ia belum melihat munculnya pelukis lain yang menggunakan benang sebagai karyanya.

Lukisan benang karya I Wayan Arnata. Ist

“Di Yogya ada satu pelukis benang, aslinya orang Padang. Tetapi jika di Bali, saya belum menemukan. Yang kini mulai berkembang dan diminati para muda di Bali adalah lukisan tradisi. Tentu kenyataan ini menyenangkan hati,” pendapatnya.

Bergulirnya waktu, ia sudah memikirkan inovasi untuk karyanya, di samping mencermati perkembangan jaman. Tentu kenyataan itu tak bisa lepas dari semangat dan kecerdasan. Apapun yang dilakukan seseorang, hari ini tentu akan menentukan kehidupan di masa depan. Tentu tak lepas kehidupan berkesenian. Bukankah nilai sebuah karya itu dihasilkan dari impian, kerja keras dan visi.

Maka, untuk memantau perkembangan seni lukis, ia mengaku selalu bergabung dengan sesama seniman lukis, perupa dan seni yang lain. Plus, memantau secara online. “Saya juga melakukan pembuatan video untuk lukisan, dan tentu itu menghasilkan nilai ekonomi juga,” sibak Arnata lagi yang tak pernah putus mengikuti pameran, baik itu di dalam dan luar Bali.

Benang Silaturahmi

Arnata bersemangat jika bicara benang. Menurutnya, benang silaturahmi berjalan apik antara kakek dan cucu; antara  anak dan ayah; juga antara istri dan suami yang mendorongnya deras berkarya. “Saya bersyukur, ketika akan kuliah ke Yogya benar benar mendapat restu dari bapak dan keluarga besar saya. Saya kembali ke Bali, berkesenian juga mendapat restu dari istri dan anak- anak. Itu kekuatan saya  untuk terus menapak di jalan hidup berkesenian, hingga mungkin jemari ini tak lagi dapat digerakan, barulah saya berhenti berkarya. Benang merah keluarga itu terpilin kuat,” ungkap pria kelahiran 1973 itu terbata-bata.

Benang yang menyatukan menjadi karya indah I Wayan Arnata. Ist

Rasanya memang benar bahwa karakter lebih penting ketimbang intelegensi. Karakter yang kuat membuat seseorang memiliki kepribadian dan tetap berjalan tegak walau di jalan berbatu atau lumpur sekalipun. Orang yang berkarakter kuat tentu akan mampu menghasilkan karya yang juga memiliki karakter. Philips Brooks mengatakan, karakter tidak dapat dibentuk selain dengan proses yang tetap, panjang dan terus-menerus. Bukankah begitu, Bli?  (Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

I Gede Sukana Kariana: Berkreasi dari Sudut Bali

Jakarta, NextID – Bali, salah satu provinsi yang terpuruk jika tak dapat dikatakan tiarap  akibat …

Leave a Reply