Wednesday , 4 August 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Nadira Puspa Dewi, Menembus Hambatan untuk Bangun Enerji
Nadira di waktu luangnya bersama tanaman. Ist

Nadira Puspa Dewi, Menembus Hambatan untuk Bangun Enerji

Jakarta, NextID – Cerita terus bergulir di tengah lawatan pandemic Covid-19 ini. Suka-duka, tawa dan tangis mewarnai hari-hari. Kenyataan itu tentu tak hanya dirasakan oleh bangsa ini namun seluruh umat di bawah kolong langit.

Banyak cerita duka yang bisa disaksikan, juga dilihat. Gak usah jauh jauh, di sekeliling kita misalnya kisah demi kisah terus berlanjut, tinggal lagi bagaimana menyikapinya. Seperti yang dikatakan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo, kita hidup bersama virus Corona. Mau tak mau harus mau mengakui hal itu, karena memang begitulah keadaannya.

Ehm, tunggu dulu. Mari kita simak kejadian ini dari sisi positifnya. Bukankah hidup ini selalu berlawanan. Ada siang ada malam, ada hitam juga ada putih, bahkan ada sakit, juga tak jarang yang hidup sehat. Nah, hidup sehat itulah yang terus dijaga dan diciptakan oleh Nadira Puspa Dewi. Keseharian Nadira begitu sapaan akrabnya tercatat sebagai pegawai sebuah bank ternama di Jakarta. Tentu  jatah jam kerja 8 jam mutlak ia jalani, bahkan hitungan 8 jam itu bisa naik di hari-hari tertentu. Capek, dan menguras tenaga so pasti karena bagaimanapun ada rasa was-was bekerja di tengah berkecamuknya virus yang gak tahu kapan datang, muncul dan perginya.

Mengimbangi itu perempuan jebolan Universitas Indonesia di jenjang magister itu  menciptakan “rasa piknik” tubuh dan jiwanya. Caranya? “Saya berkebun, tanaman hias dan tanaman obat. Memang sejak lama ibu saya sudah menyukai anggrek. Cukup banyak jenis bunga ini. Kesibukkannya membuat tanaman kurang diurus. Kini saya ambil alih, sekaligus merambah ke jenis tanaman lain. Jadi biar lingkungan cepat hijau, bagaimanapun kita butuh oksigen lebih banyak. Semula saya hanya berpikir itu,” cerita perempuan yang memang sudah lama ingin punya bisnis sendiri.

Kesehariannya di sebuah bank swasta terbesar. Ist

Berjalannya waktu, Covid-19 melawat sudah lebih dari setahun. Otomatis kiprah di luar rumah dibatasi, anjangsana dikurangi. Tapi tunggu dulu, kenyataannya Nadira mengaku bisa lebih fokus mengurusi tanamannya. “Memang jika kita mau lebih serius menekuni sebuah pekerjaan, maka jalan Tuhan selalu terbuka. Kok ya, ibu saya melengkapi tanaman-tanaman ini dengan pot-pot yang ia dapatkan dari relasinya. Saya menjadi lebih semangat. Selain bekerja hasilnya lebih oke, juga sentuhan estetik itu nyata. Otomatis, orang yang melihat juga senang, imun pun naik,” begitu bungsu dari tiga bersaudara itu membanyol.

Kenyataan ini bicara,  di mana ada kemauan di situ ada jalan keluar. Aktivitas keseharian di kantor sudah menjadi sebuah persoalan hidup, dan tekanan Covid persoalan lagi.  Namun jika tidak dikendalikan maka bukan hanya konsentrasi yang rusak, manusia juga tidak bisa membangun enerji kesuksesan. Dengan halaman kurang lebih 150 meter persegi, plus lahan gantung tanaman, Nadira menyulap hutan kecil hijau. Ia punya impian berbisnis dari satu pintu, maka ia kembangkan dengan impian yang diakuinya sebagai bisnis kecil. Kesinambungan menciptakan pemahaman terbaik mengenai tanaman dan lingkungan.

“Semakin saya pelajari, semakin menarik. Baik itu bagaimana soal tanam-menanam sampai mengapa bisnis tanaman tiba tiba marak. Harga yang tertera untuk satu jenis tanaman menjulang tinggi, beberapa jenis tanaman hilang dengan cepat di pasaran. Ada lagi tanaman yang dihargai bukan per-pot namun per helai daun. Ini bisnis apa ya?” tanyanya sambal kembali tersenyum.  Mungkin karena ia bekerja tahunan di perbankan, maka nilai ekonomis tanaman menjadi faktor yang  menggelitiknya. Walau diakui perempuan kelahiran 17 November di Surabaya itu ia tidak ikut-ikutan harga “horror” yang mewabah di negeri ini.

“Saya masih melihat apa yang saya lakukan adalah membuat terobosan bisnis kecil di tengah Covid yang tak kita ketahui kapan berahirnya. Jika berkebun, gak perlu banyak wira-wiri dan kontak dengan banyak orang. Berjualan bisa di online, dan memang saya suka tanaman. Jika kita suka mengerjakannya, otomatis inovasi itu akan berlaku. Wajar sajalah harganya, dan itu membuat saya semangat terus,” paparnya lagi.

Melongok kebun Nadira, ehm, cukup mumpuni. Beberapa  jenis tanaman yang kini diburu seperti philodendrum, berbagai jenis Aglonema, berbagai warna Sansivera, berbagai jenis anggrek spesies, Plumeria, Michelia alba sampai Jasminus sambac. Ia pun tetap peka dengan tanaman yang kini lagi naik daun monstera makai ia menanam Monstera deliciosa variegate, Monstera obliqua sampai juga berbagai jenis tanaman bunga lili. Melihat isi kebunnya, terpikir menanyakan omset per-bulan  atau per-termin pengiriman.

Dengan tenang ia menjawab sambal berbenah pot-pot bunga yang siap kirim. “Saya belum bisa bicara omset, tapi ke arah sana tentu sudah saya pikirkan. Bisnis tentu harus ada target, walau ini semula dari hobi namun disambut baik oleh pasar, sekalian saya jadikan peluang bisnis. Tapi ya, cukup baik omsetnya. Bisnis harus tegel-tegelan, karena semula saya hanya berpikir apa yang saya kerjakan adalah bagian dari hobi dan mengusahakan agar lingkungan hijau, kaya dengan oksigen. Terlebih di tengah Covid ini,” tegasnya.

Memang kenyataan sering bicara bahwa dalam keseharian banyak hal yang dapat dilakukan secara bersamaan, kenyataan ini menuntun sebuah kecerdasan, kesigapan, dan prioritas terbaik. Jika itu mengarah kepada sebuah kesuksesan maka tinggal mengatur waktu dan tempat yang tepat. Agenda tentunya mencatat bahwa nilai fokus ada pada agenda prioritas, dan gak berhenti sebelum mencapai mimpi sukses itu.

Kreativitas membuat sesorang mampu menciptakan suatu karya. Para pebisnis juga mampu menciptakan kesuksesan karena kreaktivitas mereka dalam menyiasati peluang. Nah, peluang yang ditangkap Nadira adalah berkebun sekalian menjual hasilnya di tengah  merebaknya Covid. Alhasil, kini tanaman yang dihasilkan sudah sampai ke Indonesia bagian Timur, Bali, Jawa Tengah, Batam, Jabodetabek sudah tentu. Sebuah terobosan yang menggunakan enerji besar itu pada hal hal yang menuju kepada sebuah kesuksesan.

Karunia Persahabatan

“Hidup tidak berarti apa apa tanpa persahabatan,” begitu tulis Quintus Ennius. Dengan nilai dari persahabat hidup semakin berarti. Kenyataan itu  belajar menghargai sesama, bahkan alam semesta.  Karunia persahabatan membuat pribadi seseorang menjadi penting. Dari nilai persahabatan itu akan terwujud banyak hal untuk menuju hidup lebih baik lagi.

Di tengah kebun ada rasa damai. Ist

“Persahabatan itu juga yang menguak pasar saya di awal. Teman-teman yang beli tanamanku. Dan justru karena sahabat saling menghargai , tanaman dijaga baik, harga tanamanpun lebih diberi yang terbaik. Setelah beberapa lama mereka kembali kasih kabar, tanaman sudah subur bahkan ada yang sudah  berkembang. Lebih asyiek lagi, mereka juga yang beri info, di beberapa tempat ada jual bibit dll. Jadi bukan malah bersaing, justru sebaliknya. Kenyataan ini membuat saya semakin terpicu untuk mengembangkan tanaman dalam beberapa jenis lagi,” beber Nadira.

Wuih, ini kenyataan yang bicara bahwa karunia itu muncul kapan pun dan di manapun. Persahabatan itu sebuah karunia yang tak dapat dinilai dengan mata uang apapun. Cerita Nadira lagi, karena karunia itu juga akhirnya ia sangat merasakan apa yang ia lakukan menjadi penting. ”Itu menjadi penguat saya ketika lelah dengan keadaan di tengah Covid ini,” ujarnya.

Mungkin itu sebabnya, Thomas Fuller berkata bahwa persahabatan bisa melipatgandakan kebahagian dan mengurangi kesedihan.

Bagi seorang perempuan pekerja, tentu bukan hal yang mudah membagi waktu. Makanya keseimbangan energi dan fokus bekerja haruslah seimbang. Maka, untuk Sabtu dan Minggu ia berkutat di kebun menyelesaikan soal tanaman sampai melakukan pengiriman.  Sementara lima hari yang lain fokus pada main job.

“Waktu saya habis. Malam hari saya masih harus mengecek tanaman dan penjualannya. Semula agak kaget juga nih fisik,  namun kini justru jadi penyemangat. Satu hal saya gak lagi fokus dengan berita Covid yang kadang meresahkan. Saya ikuti aturan kesehatan dengan baik, asupan buat tubuh yang oke. Tapi udah gak sempat dengar-dengar berita yang membuat tulang ngilu seputar Covid itu,” sibaknya.

Nadira tidak meleset, jangan sampai enerji besar itu hanya terserap pada hal hal yang kurang bermanfaat, yang hanya menjauhkan dari nilai kesuksesan. Keadaan seperti ini sudah barang tentu  harus membangun enerji pikiran dengan asupan gizi ilmu dan kecerdasan yang mumpuni. Tak semata hanya membangun enerji tubuh atau fisik, pikiran yang dianugerahkan-Nya ini haruslah dibangun setiap hari agar kecerdasan itu milik kita dan berdaya guna bagi sesame, juga lingkungan.
Hidup ini anugerah bukan?
(Martha Sinaga)

About Gatot Irawan

Check Also

Florentia Krisantya Krisnandi: “Antara Edukasi dan Bisnis”

Jakarta, NextID – Bertaburan pendapat yang mengatakan untuk saat ini hanya ingin membaca dan melihat …

Leave a Reply