Tuesday , 3 August 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Art / “Dalam Ketidakpastian ada Kepastian”
Masker ulos produksi Rumah Kalpataru. (Foto Rumah Kalpataru)

“Dalam Ketidakpastian ada Kepastian”

Jakarta, NextID – Siapa yang tidak takut dan cemas terhadap wabah Covid-19. Rasanya tidak ada. Setiap hari berita seputar Covid-19 dan vaksin terus muncul. Bahkan tak disangkal berita itu menjadi momok di siang hari. Betapa tidak, Covid-19 itu sama dengan malaikat pencabut nyawa tanpa amun.  Hanya saja kita pun perlu berhenti sejenak dari rasa itu dan belajar dari pengalaman yang telah kita lewati, yang kita hadapi saat ini. Untuk perbaikan ekonomi, kesehatan diri dan keluarga tentu juga dibutuhkan perbaikan diri dalam menerapkan kiat-kiat terbaik dalam apa pun yang kita lakukan.itu

Setiap kejadian pasti ada hikmatnya. Dunia modern yang penuh hiruk pikuk teknologi mengharuskan manusia untuk terus menerus beraktivitas, seakan tak punya waktu untuk diam dan mendengar. Padahal dari sesi mendengar itu muncul semangat dan daya kreativitas yang lebih besar. Kesuksesan itu terjadi adanya komunikasi, tanpa komunikasi mana mungkin ada nilai sukses yang muncul. Nah, di era lawatan Covid ini komunikasi intens di tengah keluarga merupakan motor penggerak dan daya upaya untuk melakukan banyak hal bersama. Penggunaan alat komunikasi nan modern itu sangat bermanfaat digunakan untuk menggapai masyarakat luas dalam usaha yang mungkin akan atau sudah dirintis.

Marco dan Mario yang dikenal sebagai “The 2ins” – putra kembar almarhum Eddy Silitonga, merespon positif produksi Rumah Kalpataru: Bantal Kasih dan Masker Ulos. (Foto Rumah Kalpataru)

Kita akan mengalami keseimbangan hidup dan tidak mudah terseret arus ketakutan atas Covid-19 jika memang mau berfikir dan bersikap kritis dengan positif, tak perlu menunggu lawatan Covid ini berakhir, dan kapan waktunya akan berakhir.  Sementara tidak ada manusia yang makan sehari namun kenyang setahun.

Tenun Ulos

Mengintip apa yang diproduksi Rumah Kalpataru menarik juga. Bisnis kecil yang maknanya tidaklah mungil.  Di masa sulit ini tim kerja Kalpataru menggarap apa yang menjadi kebutuhkan kesehatan. Tetap dengan kriteria yang diterapkan pemerintah, plus dengan sentuhan estetika yang mumpuni. Lebih jauh dari itu bahu membahu sesama teman dalam memproduksi sama artinya membuka lahan ”makan” jika belum bisa dikatakan membuka lapangan kerja.

Contoh, membuat masker dari tenun ulos atau pelengkap interior. Nah, mengapa tenun ulos? Setidaknya para penenun bisa melempar lembaran kain mereka ke pasar. Mengapa juga harus  masker, karena itulah yang dibutuhkan masyarakat luas. Lalu, mengapa harus menggunakan motif Batak, karena bukankah menggunakan  kekayaan tenun Indonesia lebih arif, ketimbang pilihan jatuh pada kain hasil keluaran mesin. Rasanya bekerja dengan hati dan pikiran yang selaras akan lebih bisa memaknai apa yang positif di balik gempuran Covid-19.  Banyak hal yang positif tumbuh bahkan bisa digunakan sebagai lahan baru peluang pekerjaan, sementara di sisi lain bekerja di rumah itu  nilai save untuk kesehatan bisa lebih dikawal.  Toh, semua hasil kerja bisa dipertontonkan lewat layar medsos.

Memang untuk mencapai nilai jual yang lebih baik maka dibutuhkan tindakan yang jitu. Mengingat saat ini masyarakat sosial menjual produknya, belum lagi bisnis-bisnis besar yang siap melempar produknya dengan harga yang diturunkan secara drastis. Namun jawaban dari semua persoalan  itu adalah dari diri sendiri. Eileen Canddy mengingatkan, ”Senantiasa carilah jawaban dari dalam diri Anda. Jangan terpengaruh mereka yang berada di sekeliling  Anda, juga oleh pikiran ataupun kata-kata mereka.”

Tak hanya ulos yang menjadi bahan utama masker, namun juga berbagai tenun Nusantara. (Foto Rumah Kalpataru)

Pemikiran yang sama mendorong tim kerja dari Rumah Kalpataru terus berproduksi, bahu membahu antar  anggota keluarga, menggunakan media online dalam berbisnis, plus apresiasi dari berbagai kalangan sahabat dan teman bahkan narasumber menjadi  api yang harus terus menyala walau jelaga terkadang muncul bersamaan.

Membagi waktu dengan lebih cermat adalah salah satu kunci menjaring ide, dan memuntahkannya dalam karya itu, mutlak adanya. So, pertanyaannya setahun dilanda Covid-19 ini, bagaimana hasil dari usaha kecil ini. Puji Tuhan semua ditumpahkan dengan cukup. Bahkan dikatakan oleh pemilik produksi Martha Sinaga, permintaan masker dan bantal-bantal etnik tak menyurut dari hari ke hari.  Alhasil apa yang diproduksi  berupa masker dan bantal-bantal cantik itu sudah sampai di Bali, Jabodetabek, Lampung, Kepulauan Riau, Yogyakarta, dan Purworedjo.

Masker ulos jika dikenakan bisa menambah wibawa seseorang, begitu kesan Nadira Puspa Dewi, (Foto Rumah Kalpataru)

Para pembeli pada umumnya mereka yang bekerja atau memiliki rutinitas di luar rumah. “Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka. Saya hanya berpikir tidak mau terjebak pada rasa takut karena Covid-19, justru di masa seperti ini permintaan pasar bagus. Kenyataan ini tentu  membuat imun tubuh menjadi lebih baik. Penting memang pengadaan permintaan pasar tepat waktu. Nah kenyataan itu mendorong kami untuk lebih cermat menggunakan waktu kerja. Kualitas terjaga,  barangpun tepat waktu selesa,” beber Martha.

Beda dan Unik

Terbesit kabar yang menggunakan karya dari Rumah Kalpataru yakni orang- orang yang punya apresiasi baik terhadap karya karena di antara materi yang disodorkan juga dibuat tidak dengan mesin jahit alias hand made. Ini yang unik.  “Saya memilih produk dari Rumah Kalpataru, karena mereka konsen dengan tenun Indonesia. Mereka hadir beda dan unik,” begitu komentar Hendra Noor Saleh, Pimpinan PT Dyandra Promosindo sambil mengenakan masker ulos dari Rumah Kalpataru.  Pendapat senada juga dilempar oleh vokalis kembar Marco dan Mario Silitonga yang tak lain adalah putra kembar Maestro Eddy Silitonga (alm). “Kami suka karena karya tante Martha Sinaga unik, melahirkan karya di tekanan Covid kan gak gampang, namun dilakukan dengan cinta kasih, maka yang nerima juga plong.”

Menarik dan unik Bantal Kasih dari bahan bahan katun lembut bermotif bunga. (Foto Rumah Kalpataru)

Martha Sinaga  pun mengiyakan bahwa ide-idenya semakin deras muncul di tengah Covid yang melanda. ”Jika dikatakan takut virus itu ya pasti, namun kita tidak akan hidup dengan baik tanpa ide. Ide terbaik akan membuat kehadiran kita menjadi penting. Siapapun pasti terkena dampaknya. Namun saya coba membalik pikiran. Kreativitas kerja saya dan ide itu menjadi sesuatu yang nyata, dan bisa digunakan banyak orang. Simpel saja saya berpikir dalam memproduksi apa yang kami kerjakan saat ini. Banyak langkah dimulai dari satu langkah. Dan kami melangkah di tengah balada Covid ini,” ujarnya.

Sentuhan Patchwork

Kalpataru tak hanya memproduksi masker di kala Covid muncul Beberapa tahun sebelumnya pun sudah hadir karya-karya yang berupa pelengkap interior. Contohnya taplak meja, perangkat tempat tidur yang digarap dengan style patchwork. Walau tak deras hasil penjualan namun karya jenis ini justru diminati kalangan tertentu, dan kolektor penyuka patchwork.

Mengapa dia bertahan memproduksi kerajinan etnis? Karena menurut Martha, ia menyiasati dunia bisnis, kerja, atau karir dengan memperhatikan hasil akhir dari apa yang diproduksi. “Dalam berbisnis itu pasti ada konflik. Umpamanya karena kualitas barang tak sesuai dengan apa yang diinginkan pembeli. Nah saya mencoba menghindari konflik seperti itu, maka barang keluar dari dapur produksi harus yang terbaik, sampai dengan kemasannya. Dengan mengenal baik produk sendiri, kita bisa mengolah kelemahan dalam memproduksi. Nah, jika itu sudah kita terapkan dalam bekerja maka otomatis juga bisa menjaga atau mempertahankan kualitas barang yang diproduksi.”

Patchwork juga menjadi garapan Rumah Kalpataru, meski lebih butuh konsentrasi tinggi dalam memadupadankan motif batik. (Foto: Rumah Kalpataru)

Ketika menghubungi para pengguna atau pemakai produk dari rumah Kalpataru komentarnya hampir senada. ”Ada yang beda yang saya dapatkan ketika membeli produk dari Rumah Kalpataru. Mereka melampirkan cara perawatan masker, atau bantal, atau apalah yang dijual. Jadi bukan hanya estetik yang ditonjolkan namun disertai nilai edukasinya. Misalnya, bagaimana merawat tenun ulos, atau tenun ikat, karena saya juga membeli gaun simpel tenun ikat. Kalpataru punya cita rasa tersendiri. Simpel dan praktis namun sentuhan etniknya kuat,” begitu Nadira Puspa Dewi yang berkerja di sebuah bank ternama di negeri ini.

Nadira mengaku juga sudah  hampir dua tahun menggunakan karya dari rumah produksi yang satu ini. “ Di suasana Covid, pilihannya semakin beragam, misalnya untuk desain masker ada yang terbuat dari ulos, brokat, batik, dan songket. Namun uniknya itu dibuat tidak banyak, ragam dari bahannya yang banyak. Nah itu juga yang membuat saya dan teman-teman suka. Mereka tidak massal dalam memproduksi,” ungkapnya dalam kesempatan yang berbeda.

Martha tak mau mengungkap berapa omset yang diraupnya di periode tertentu. ”Yah, gini deh. Berapapun itu patut disyukuri. Dengan rasa syukur di tengah tekanan Covid ini berkerja terasa lebih wise. Saya kira bekerja dengan hati dan pikiran yang jernih akan menggiring kita lebih mengenal baik produk yang kita hasilkan. Suasana sudah hiruk pikuk, jangan dengan pikiran kita yang kisruh, kita masuk dalam kubangan itu lagi. Itu akan berakibat fatal,” tegasnya.

Imelda Sirait diapit The 2ins, dan Bantal Kasih. (Foto Rumah Kalpataru)

Pandemi ini tidak tahu kapan berakhir, hilang atau tidak, tak seorangpun akan tahu. Martha Sinaga dan tim kerjanya berjanji akan tetap terus berkarya, bahkan dijelaskan akan bermunculan desain-desain baru. Diharapkan dapat menciptakan kesegaran dan semangat baru bagi yang mengenakan atau memilikinya. Pemikiran dari dapur produksi ini juga yang menarik perhatian seorang konglomerat dari perusahaan minyak di Jakarta. Tak terelakan di awal February bantal-bantal cantik dari ulos dan NTT itu berpindah ke kediamannya.  “Ehm, jika sudah rezeki ya tak akan lari.  Saya ingat kata George S. Clason, kemujuran menunggu orang yang mau menerima peluang. Kami bekerja, Tuhan yang menentukan segalanya,” tuturnya penuh semangat.

Gemes

Keunikan sebuah produk tentu menggelitik untuk diamati bahkan dimiliki.  Itu juga yang dirasakan Imelda Sirait. Perempuan muda berpredikat sekretaris ini saking senangnya  dengan produk yang unik, ia selalu memesan khusus bantal-bantal Kasih dari Rumah Kalpataru. “Gemes saya lihat produknya. Desain dan motifnya unik, jadi jika ingin tampil beda maka saya pesen ke mereka. Kecerdasan tim kerjanya menumbuhkan karakter kuat dalam karyanya, harganya juga terjangkau. Apalagi di waktu Covid ini,” ujar Imel, begitu sapaannya.

Hendra Noor Saleh, Pimpinan Dyandra Promosindo di tengah kesibukkannya, tak lupa prokes dan masker ulos saat itu menjadi pilihannya. (Foto: Koleksi Rumah Kalpataru)

Dari awal pembicaraan dapat dirasakan, Martha Sinaga terus membakar api semangat bekerjanya. Hati riang, asap dapur ngebul itu moto perempuan yang terkesan enerjik ini. Setuju dengan Martha,  tidak terbelenggu untuk tidak melakukan tindakan hanya karena menganggap menciptakan peluang itu sulit. Karakter yang kuat akan memberi kesempatan kepada kita untuk meraih keberhasilan, walau harus berada di tekanan virus sekalipun.  “Dalam ketidakpastian ada kepastian,” begitu Martha Sinaga mengakhiri bincang-bincangnya.

About Gatot Irawan

Check Also

I Gede Sukana Kariana: Berkreasi dari Sudut Bali

Jakarta, NextID – Bali, salah satu provinsi yang terpuruk jika tak dapat dikatakan tiarap  akibat …

Leave a Reply