Tuesday , 3 August 2021
Home / LifeStyle / Leisure / Art / Dari Kebun ke Lembaran Kanvas
Dahlia - Karya I Nyoman Loka Suara

Dari Kebun ke Lembaran Kanvas

Oleh: Martha Sinaga

Jakarta, NextID – Diskusi dengan pelukis asal Bali, I Nyoman Loka Suara (@Kaiser Loka) pada ujungnya menghasilkan beberapa karya lukis dengan obyek bunga. Manusia memang tak pernah renggang dari kuntum-kuntum bunga. Dari lahir hingga kembali ke ribaan-Nya bunga selalu hadir, bahkan dengan membaiknya tingkat pendidikan dan apresisasi terhadap keindahan maka bunga pun dihadirkan sebagai berbagai indikasi. Ini menarik.

Jika ditarik ke belakang, di Belanda maka pada abad ke 16 terjadi konflik ekonomi. Beberapa pelukis mengetengahkan karya mereka berupa bunga. Apakah lukisan sejenis itu mengademkan suasana atau alasan tertentu yang pasti keadaan ketika itu menjadi lebih tenang.

Apa yang dilakukan  di Belanda menjalan ke dataran Eropa lainnya, Perancis dan Jerman. Berbagai gaya atau aliran pelukis muncul dengan kreativitas dan karakter mereka, obyeknya ya bunga. Ehm, sampai pada era Van Gogh dengan bunga mataharinya yang harganya selangit itu, namun bisa juga ditemui karya Gustav Klimt yang malah melukis taman bunga yang diberi judul “Flower Garden.”

Kembang Sepatu – Karya I Nyoman Loka Suara

Walau harus diakui, tak ditemui maestro pelukis yang terus menerus melukis bunga, apakah karena dengan melukis bunga itu tak sepenuhnya bisa menuangkan keliaran imajinsainya, mengingat bunga yang merupakan lukisan Ilahi memang sudah sempurna?

Kutanyakan hal ini ke Loka Suara dan ini jawabannya. “Saya sudah punya warna tersendiri dalam karya lukisku. Tapi, menarik garis di kanvas dengan obyek yang sudah lama gak disentuh tentu punya tantangan lagi. Obyek bunga misalnya, yang beberapa bulan saya pilih. Ternyata pelik juga. Butuh “diam,” butuh mempelajari juga tanaman itu hidupnya di mana. Mengapa, karena mungkin saja ada tanaman yang memang hidupnya liar. Nah, itu butuh sapuan dan ruang kanvas yang lebar sehingga “keliaran” itu terasa natural. Jadi menurutku, setiap obyek pasti ada tantangan,” begitu pendapatnya yang beberapa bulan terakhir ini menghasilkan lukisan bunga sepatu, anggrek, bakung,dan dahlia.

Pendapatnya sedikit berbeda dengan wartawan senior yang juga doyan melukis ini, Ramadhan Syukur (@Ramadhan Syukur). Ramadhan mengaku tidak ada bunga yang jelek, semua bunga indah, sekali pun itu bunga bangkai. Makanya ia lebih memilih melihat bunga langsung ketimbang di lukisan.

Menurutnya, obyek flora dan fauna itu adalah karya besar Tuhan. Makanya pelukis besar pun rasanya kurang tertarik dengan dua obyek itu, karena pelukis gak bisa apa- apa selain menganggumi keindahan karya-Nya, Pelukis gak bisa mengekpresikan perasaan dan pikirannya. “Makanya jangan heran jika maestro pelukis dunia hanya sesekali melukis bunga. Itu pun bukan untuk memperhatikan kehebatan seninya, tapi lebih sebagai bentuk genre lukisannya. Banyak pelukis lebih suka melukis bunga dalam  banyak rupa, pada sebuah vas saking tidak spesifiknya” tandas Ramadhan yang tetap semangat menulis di medsos dengan mengunggah tema yang memang gres.

Bunga Kemboja – Karya I Nyoman Loka Suara

Kata Ramadhan lagi, Van Gogh dan Affandi sama-sama pernah melukis bunga matahari, namun hanya memperlihatkan tarikan garisnya, orang sudah tahu gaya mereka masing masing. Begitu juga Dullah, Monet, Popo Iskandar atau Gusta Klimt, mereka semua pernah melukis bunga, tapi keindahan bunga tak lagi jadi penting, karena bunga ciptaan Tuhan sudah diacak acak sesuai print of view si pelukis.

Kartika juga melukis bunga, namun jadi gak menarik dan spesifik karena tarikan garisnya mengikuti gaya bapaknya. Namun Ramadhan gak menyangkal jika di masa lalu ia pernah beberapa kali melukis bunga.Kemudian dipajang di kamar mandi karena menurutnya lukisan bunga  itu menciptakan ruang di kamar mandi lebih segar.

Inspirasi memang sering datang nya dari ketidaksempurnaan. Seperti situsasi saat ini misalnya, pandemi covid melanda. Resah di batin pun muncul. Tetapi dalam karya pun bisa “naik kelas,” ini sering bermula dari ketidaksempurnaan itu sendiri.

Oleh karena itu, tetaplah memperhalus terus kekuatan pikiran untuk selanjutnya melahirkan karya-karya lukisan. Dalam menyiasati sebuah obyek tentu tantangan kreatif itu perlu dipahami dengan benar, di samping tujuan dari berkarya itu sendiri. Bagaimanapun nilai manusia adalah semahal nilai tujuan hidupnya. Yang pasti ide-ide terbaik akan melahirkan banyak karya dan kreatifitas yang membuat peran seorang pelukis menjadi penting.

Kembang Sepatu – Karya I Nyoman Loka Suara

Lukisan Bunga Spesifik

“Gurat kanvas akan memberikan nilai spesifik dan nilai yang elegan pada lukisan bunga. Memang ada stigma “remeh -temeh” terhadap karya lukis bunga dibanding obyek lainnya, namun banyak juga kok seniman yang mampu mengangkat tema bunga atau obyek bunga menjadi tetap eksklusif dengan melakukan tehnik yang di eksplore dengan benar. Itu pernah dilakukan oleh pelukis jebolan ISI Yogya, almarhum Subrata Kedol,” begitu pendapat kurator lukisan,  I Made Bakti Wiyasa (@Bakti Wiyasa).

Bahkan menurut lulusan ISI Yogyakarta itu, tak sepenuhnya benar jika ada pendapat yang mengatakan, lukisan bunga hanya sebatas karya dekoratif. “Saya melihat kok karya lukis bunga itu justru ekspresif, impresif dan dengan itu sekaligus menguji kualitas senimannya,” tandasnya.

Menurut pengamatannya,  lukisan bunga memang tak masuk pada indikasi kebutuhan pasar. Namun pada daya ungkap simbolik. Di samping penguasaan tehnik melukis yang baik. Itu salah satu risiko ketika seniman lukis menjatuhkan pilihan obyeknya pada bunga.

“Penyajian dari sudut estetik itu terlihat jelas. Nilai-nilai inovatif juga akan muncul. Bisa terlihat dari bahan, warna, teknik melukis, juga metode. Nilai itu tentu tak luput ketika melukis bunga. Dibutuhkan daya kerja yang mampu menggangu rasa bagi yang menikmati karya itu,” imbuhnya.

Bakti Wiyasa melihat, lukisan bunga bisa dipakai sebagai narasi. Narasi identitas. Semisal lotus dipakai sebagai penunjuk kedamaian, atau pesan kekuatan karakter. Bahkan spririt dan keyakinan. Itu sebabnya dia berpendapat, lukisan bunga pun akan menempati bagian kekuatan alam dan budaya.

Ditambahkannya lagi, obyek bunga itu mewakili keindahan dan perasaan, karena memang secara alami bunga disukai karena bentuk, warna dan aromanya. Lebih jauh filsafat yang dikandungnya. Yang pasti di balik bunga ada narasi yang terbangun. “Itu juga yang menyebabkan lukisan bunga disukai berabad-abad lamanya karena ada pesan yang terkandung di dalamnya,” tegas Bakti Wiyasa yang juga pemerhati lingkungan dan situs-situs di Bali.

Katakan dengan Bunga

Katakan dengan bunga. Itu pula ungkapan yang dipilih Loka Suara. Mungkin sesuai dengan makna namanya, “suara alam.” Beberapa bulan terakhir dia menuangkan indahnya bunga lewat guratan kanvasnya. Bunga tetap indah di tengah lawatan covid 19.

“Keindahan itu tak kenal resesi, karena  indah itu jiwa dan sukma. Nanti juga ada pasarnya. Ide gak boleh terbunuh karena keadaan, walau belakangan ini banyak lini hidup yang suram,” tandas Loka Suara seakan ingin mengatakan memang keindahan itu abadi.

Keindahan itu pula yang menakjubkan para pencinta  lukisan bunga dan menjadi gerbang  bagi mereka untuk memasuki dunia kekaguman bahwa lukisan bunga punya tempat tersendiri.



About Gatot Irawan

Check Also

I Gede Sukana Kariana: Berkreasi dari Sudut Bali

Jakarta, NextID – Bali, salah satu provinsi yang terpuruk jika tak dapat dikatakan tiarap  akibat …

Leave a Reply