Home / LifeStyle / Leisure / Art / Ni Putu Putri Suastini: Dari Panggung Puisi ke Panggung Jiwa
Ni Putu Putri Suastini dalam aksinya ketika berkesenian. Ist

Ni Putu Putri Suastini: Dari Panggung Puisi ke Panggung Jiwa

Jakarta, NextID – Senja itu di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) digelar ajang  berpuisi bersama. Ketika aku sedang berbincang dengan “Presiden Penyair,” Sutardji Calzoum Bachri (SCB) terdengar alunan merdu vokal penyair Ni Putu Putri Suastini. Bincang kami terhenti,dan konsentrasi tertuju ke panggung.

Suara itu khas, bening dengan sopran yang berkarakter. Tak salah lagi itu pasti vokal dari Ni Putu Putri Suastini. Akrab dengan suara itu karena memang kami bertemu di beberapa panggung puisi di Ibukota. Malam itu terasa sastra Bali seperti membuka gerbang keindahannya untuk masuk dalam wilayah hati.

Diketahui sejak kurang lebih 6 tahun lalu Mbak Putri, begitu ia lebih sering disapa, memiliki banyak pengikut di dunia maya, antara lain karena kiprahnya di dunia berkesenian. Mulai dari panggung teater dan peran, hingga pelantun tembang tradisional hingga berpuisi. “Puisi itu  mendamaikan jiwa. Mau itu di politik atau di  tengah masyarakat sosial.” Begitu tuturnya ketika ia mengisi acara di Sastra Reboan – Bulungan di Selatan Jakarta.

Berangkat dari hidup berkesenian sejak lama, maka rasanya alumni SMA Negeri 1 Denpasar – Bali ini tentu telah memiliki landasan kuat terhadap eksentensinya berkesenian dan bersastra. Tentu saja untuk “mengabdi” kepada dunia seni sastranya maka seseorang harus konsisten tumbuh dan berkembang di dalamnya.  Kenyataan itu yang dapat ditangkap dari sikap dan keputusan Mbak Putri.

Catatan berkeseniannya dapat dilihat dari berbagai media. Mungkin lebih tepat dikatakan, antara rasa yang terus berkembang di dunia sastra seimbang dengan enerji aktivitasnya. Tak berlebihan jika dikatakan melalui rasa kepekaan ia juga ada di altar realitas, dan itu memberikan warna  tersendiri kehidupan bersastra di Pulau Dewata itu.

DR. John Dermartini dalam buku “The Secret” menulis, ketika melalui suara dan visi dalam diri menjadi  lebih menonjol, jelas dan keras di bandingkan pendapat yang datangnya dari luar, maka Anda sudah menguasai hidup Anda! Kenyataan itu rasanya berlaku dalam kehidupan bersastra istri dari I Wayan Koster, Gubernur Bali itu.

Bisik-bisik beberapa penggiat sastra di Bali mengakui bahwa keberadaan Mbak Putri kembali menebar semangat sastra bermunculan di banyak tempat di kota kelahirannya itu. Tentu ini sebuah berita yang menggembirakan sekaligus cambuk kuat untuk berbagai elemen dan berlapis komponen untuk terus konsisten mengisi ruang dan waktu dengan menu-menu sastra yang dapat menjunjung tinggi kesusastraan adalah salah satu tiang penyanggah peradaban kehidupan bangsa, dan masyarakat Bali khususnya.

Menelaah berbagai konsep dan pandangan yang pernah dikemukan para tokoh agaknya bisa disimpulkan bahwa dasar cinta kepada sebuah disiplin ilmu adalah hulu dan muara kehidupan seseorang. Hal itu yang terjadi pada kehidupan Mbak Putri. Hampir tiap hari, ia melangkah pasti dalam berbagai kegiatan.

Tersusunnya agenda kerja kemanusiaan di masa Pandemi Covid-19 ini merupakan bagian yang paling menyentuh. Mengunjungi para orang tua, kaum lansia, masyarakat yang kurang beruntung nasibnya adalah bentuk cinta yang dituangkannya. Itu berarti memandang apa yang baik dan indah dalam segalanya. Ada makna puisi yang hidup di dalam langkah Mbak Putri, yang dapat dipantau dari layar medsos.

Keagungan Ilahiah dalam ejawantah makna puisi yang ditulisnya justru terang benderang di bawah tekanan Covid ini. Gaun-gaun yang dikenakan penuh warna untuk dijadikan judul puisi, bahwa semangat itu yang memang harus dikobarkan di tengah ketakutan, keprihatinan, kekurangan yang melanda umat manusia di dunia.

Dalam kondisi seperti ini puan multi talenta ini dililit rasa indahnya cinta. Betapa tidak, apa yang selalu ia tebarkan dalam larik-larik puisinya tentang cinta dan keIlahian, kini ia terapkan dalam bentuk kerja dan tanggungjawabnya sesuai dengan porsi di pundaknya kini.

Ni Putu Putri Suastini saat menghadiri Bali Model tahun lalu. Ist
Ni Putu Putri Suastini saat menghadiri Bali Model tahun lalu.
Ist

Terkesan, dalam berbagai bentuk kehidupan ia menggenggam cinta, dalam cara yang elegan. Bahkan dalam tingkat tertentu diyakininya itu adalah bagian dari cinta terhadap lingkungan, masyarakat dan Pulau Dewata di mana ia dilahirkan: untuk bekerja dan berkarya.

Rasa cinta itu juga yang dicurahkan terhadap negeri ini.  So pasti itu dengan jelas dapat dibaca dari Trilogi Puisinya:  Bunga Merah, Rumah Merah, dan Merah Putih.

Tak terbantahkan puisi-prosa Mbak Putri mengandung kekuatan moral. Kita simak larik ini…

..Wajahmu tak perlu kau tutup
siapa yang harus tanggung malu
bukan kau…..para lelaki suamimu

harusnya mengerat sendiri
kehormatan mereka
menaruhnya di pinggan perak
di meja judi…..

Hubungan intim antara Tuhan dengan ciptaan-Nya adalah bagian jalan cinta Ni Putu Putri Suastini dalam berkesenian. Memang cinta itu multidimensi. Bukan begitu Mbak Putri?

(Oleh: Martha Sinaga – Penulis dan Penggiat Sastra)

 

About Gatot Irawan

Check Also

Daihatsu Indonesia Masters 2022 Siap Digelar di Istora Senayan!

Jakarta, NextID – Daihatsu konsisten memberikan dukungan pada olahraga bulutangkis secara global di 3 negara, …

Leave a Reply